Bloomberg melaporkan, kemarin (20/5) Presiden AS Donald Trump menyampaikan, ia akan berdialog dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te. Kemarin malam (20/5) Juru bicara Kementerian Luar Negeri (MOFA) Hsiao Kuang-wei mengatakan, Presiden Lai telah menjelaskan bahwa dirinya akan mencerminkan suara masyarakat Taiwan, menekankan bahwa Taiwan adalah penjaga perdamaian di Selat Taiwan, sementara Tiongkok adalah pengacau, dan penjualan senjata ke Taiwan akan terus berlanjut.
Bloomberg melaporkan, Trump mengatakan akan berbicara dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te. Hal ini terjadi ketika pemerintah AS sedang mempertimbangkan apakah akan melanjutkan penjualan senjata senilai $14 miliar ke Taiwan.
Sehubungan dengan hal ini, Juru Bicara MOFA Hsiao Kuang-wei menyampaikan, Presiden Lai telah menjelaskan secara publik pada tanggal 20 Mei bahwa komunikasi Taiwan-AS selalu terbuka. Jika diberi kesempatan, ia akan merefleksikan suara hati masyarakat Taiwan dan menekankan 4 poin diantaranya: pertama, perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan adalah elemen penting bagi keamanan dan kemakmuran global. Pemerintah tidak akan melemah maupun tunduk, tetap mempertahankan status quo karena Taiwan juga merupakan penjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
Kedua, Tiongkok adalah pengganggu sebenarnya dari perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Tiongkok terus memperluas ancaman militernya di Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan, dan latihan militernya telah meluas ke Pasifik Barat, meningkatkan ketegangan di kawasan Indo-Pasifik.
Ketiga, Taiwan merasakan ancaman yang semakin besar, telah meningkatkan anggaran pertahanannya, diyakini, hanya kekuatan yang dapat membawa perdamaian. Peningkatan kemampuan pertahanan dan pembelian peralatan militer dari AS adalah cara yang diperlukan untuk menjaga keamanan Taiwan dan mempertahankan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Taiwan berharap pengadaan senjata ini akan terus berlanjut.
MOFA menambahkan, keempat, Republik Tiongkok (Taiwan) adalah negara berdaulat dan independen, tidak ada negara yang berhak mencaplok Taiwan, dan masyarakat Taiwan mengejar kehidupan yang demokratis dan bebas, yang seharusnya tidak dilihat sebagai provokasi. Oleh karena itu, berharap agar Taiwan-AS, serta Taiwan dan negara-negara demokrasi lainnya, dapat bekerja sama untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan perdamaian serta keamanan regional.