Penulis Taiwan Yang Shuang-zi (楊双子) dan penerjemah Lin King (金翎) dengan buku nya “Taiwan Travelogue (臺灣漫遊錄)” berhasil meraih International Booker Prize pada tanggal 19 Juni lalu. Yang Shuang-zi ketika menerima wawancara khusus menyampaikan, ia sungguh sangat berharap dapat semakin banyak karya literasi orang Taiwan yang menglobal, “agar kita dilihat bersama”.
Yang Shuan-zi mengemukakan, “Kita harus membentuk kelompok untuk keluar” agar dunia mengetahui banyaknya suara dan citra Taiwan.
Ia menegaskan, tidak ada satu bukupun yang dapat merepresentative kan Taiwan, citra Taiwan juga tidak hanya terbatas ditampilkan dengan sebuah karya saja. Dibandingkan dengan karya pribadi berikutnya, ia malah lebih berharap semakin banyak karya inovasi yang datang dari Taiwan untuk diketahui dunia.
Mengenai masalah identitas diri, Yang Shuang-zi mengemukakan, “Ketika kami membahas apa itu literasi Taiwan, apa itu gaya Taiwan, sebenarnya yang kami tanyanya adalah apa itu orang Taiwan”.
Yang Shuang-zi beranggapan “orang Taiwan” tidak mungkin dapat didefinisikan dalam satu hari, melainkan akan terus bergulir membentuk “faktor persekutuan terbesar”.
Mengenai pandangan pribadinya terhadap “orang Taiwan”, Yang Shuang-zi mengemukakan bahwa ini bukan “esensialisme” dari unsur garis keturunan, kelompok etnis atau kepercayaan dan ritual, melainkan adalah orang-orang yang hidup bersama di atas tanah Taiwan ini, tidak peduli pada awalnya datang dari mana dan mengapa datang ke Taiwan, sehubungan dengan telah memutuskan “hidup bersama dan bersama-sama memutuskan arah jalan menuju masa depan”.
Apabila masih kurang kesepakatan dalam “bersama” dan juga untuk orang yang tidak memiliki kesadaran “nasib bersama” maka sulit untuk disebut sebagai “orang Taiwan”.
Yang Shuang-zi menegaskan bahwa ia sangat berharap dunia dapat mengetahui ragam suara dan citra Taiwan, melihat tanah Taiwan ini melalui literasi, orang-orang dalam masing-masing bentuk dan warna kehidupannya.
Ia menyampaikan, banyak orang yang mengatakan kalau literasi “tidak ada gunanya”, tetapi jangan meremehkan kekuatan dari literasi. Dulu ia tetap terus menulis meskipun mengalami kesulitan ekonomi, ini membuktikan kekuatan literasi, dengan literasi memberikannya “kekuatan untuk membayangkan kemungkinan akan masa depan yang lebih baik.”