Taipei baru saja memecahkan rekor suhu tertinggi untuk bulan Mei, menyentuh angka 38,3C pada pukul 14.00 Rabu kemarin (27/5). Ditjen Klimatologi Sentral di Taiwan (CWA) mencatat bahwa selain cuaca terik di siang hari, hembusan angin barat daya yang persisten membuat suhu pada malam dan dini hari tetap tinggi, dengan titik terendah hanya mencapai 28,7C.
Prakirawan CWA, Tseng Chao-cheng (曾昭誠), menjelaskan bahwa rekor sebelumnya berada di angka 38,2C yang terjadi pada Mei 2018 dan 2021. Lonjakan suhu ekstrem hari ini dipicu oleh kuatnya sistem tekanan tinggi Pasifik dan minimnya tutupan awan. Kondisi ini diperparah oleh efek penurunan angin barat daya yang mengurung panas di dalam topografi cekungan Kota Taipei.
Efek urban heat island membuat situasi semakin pelik. Kepala Laboratorium Bangunan dan Iklim (BCLab) Universitas Nasional Cheng Kung, Lin Tzu-ping (林子平), menyoroti adanya pergeseran zona panas yang sedikit bergerak ke arah utara tahun ini. Wilayah seperti Shezi mencatat suhu hingga 37,8C, sementara area yang biasanya lebih sejuk seperti Taman Hutan Daan kini kesulitan untuk menurunkan suhunya.
BCLab juga memperingatkan fenomena malam tropis yang kini melanda kota, di mana Taipei berubah menjadi semacam akumulator panas raksasa. Pada pukul 02.00 dini hari, suhu di kawasan Shilin masih tertahan di kisaran 30,6C. Topografi cekungan, padatnya bangunan beton, serta buangan panas dari pendingin ruangan membuat udara panas sangat sulit untuk terurai.
Suhu tinggi yang berlanjut hingga malam hari ini membawa risiko kesehatan yang jauh lebih serius dibandingkan panas di siang hari. Ketidakmampuan tubuh untuk melepaskan panas saat tidur akan meningkatkan beban kardiovaskular dan memicu penyakit terkait cuaca panas. Ancaman ini sangat nyata, terutama bagi kelompok rentan, lansia, dan penghuni lantai atas yang tidak memiliki akses pendingin ruangan.