TAICHUNG, TAIWAN — Atmosfer di depan Gedung Huisun (Huisun Hall), National Chung Hsing University (NCHU), tampak berbeda dari biasanya pada Sabtu, 30 Mei 2026. Di tengah hiruk-pikuk ribuan wisudawan lokal Taiwan yang merayakan kelulusan, sebuah sudut di pelataran gedung ikonik tersebut mendadak menjadi pusat perhatian. Alunan obrolan hangat dalam bahasa Indonesia berpadu dengan tawa bahagia, menandai sebuah momentum istimewa yang digelar oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI NCHU).
Sesaat setelah keluar dari prosesi wisuda resmi universitas, para mahasiswa Indonesia dari berbagai jenjang studi—mulai dari Strata 1 (S1), Strata 2 (S2), hingga Strata 3 (S3)—langsung berkumpul di halaman gedung. Bukan sekadar untuk berfoto bersama dengan toga mereka, melainkan untuk melaksanakan sebuah misi penting: memperkenalkan warisan budaya Nusantara ke publik Taiwan melalui selebrasi bertajuk “GRADUATION PARTY 2026: CELEBRATING OUR GRADUATES!”.
Di tengah lingkaran mahasiswa, sebuah hidangan khas berwarna kuning cerah berdiri kokoh: Nasi Tumpeng. Hidangan tradisional ini sengaja dihadirkan dan dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai media diplomasi kuliner untuk menunjukkan kekayaan filosofi Indonesia kepada komunitas akademika dan masyarakat lokal Taiwan yang memadati area kampus.
Perayaan yang kental akan nuansa kebersamaan ini juga dihadiri oleh perwakilan resmi Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI Taipei). Hadir secara langsung di lokasi, Mr. Qudussullah Malik Alim selaku Staf bidang PWNI Pensosbud KDEI Taipei, untuk menyaksikan langsung pencapaian para aset bangsa sekaligus memberikan apresiasi moril.
Acara mencapai puncaknya saat prosesi pemotongan tumpeng dimulai. Prosesi sakral ini dipimpin langsung oleh Ketua PPI NCHU, Anang Nur Ardiyanto, yang juga merupakan mahasiswa PhD dari program International Doctoral Program in Agriculture (IDPA) NCHU. Dengan khidmat, Anang memotong bagian puncak tumpeng dan menyerahkannya secara simbolis kepada perwakilan wisudawan, serta memberikan potongan kehormatan kepada Mr. Qudussullah Malik Alim.
“Kami sengaja memilih hidangan Tumpeng ini sebagai media diplomasi budaya di lingkungan kampus NCHU, tepat di depan Gedung Huisun yang ikonik ini. Kami ingin masyarakat dan civitas akademika Taiwan mengetahui bahwa Indonesia memiliki tradisi kuliner yang sarat akan makna filosofis. Melalui bentuk tumpeng yang mengerucut dan lauk pauk yang beraneka ragam, kami ingin berbagi pesan tentang rasa syukur, kerukunan, dan keharmonisan hidup yang juga sangat dihormati dalam budaya Taiwan,” ungkap Anang Nur Ardiyanto di sela-sela acara.
Secara kultural, istilah “Tumpeng” memiliki kedalaman makna di Indonesia, yang berakar dari frasa bahasa Jawa “Tumapaking Penguripan”—sebuah petunjuk dan harapan akan jalannya kehidupan yang selaras, makmur, dan rukun.
Setiap elemen visual pada tumpeng yang disajikan di depan Gedung Huisun tersebut membawa pesan filosofis yang kuat kepada publik Taiwan yang menyaksikannya:
1. Bentuk Kerucut: Menyerupai bentuk gunung, melambangkan kokohnya rasa syukur dan penghormatan yang tinggi kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan menyelesaikan studi di tanah rantau.
2. Warna Kuning: Menjadi representasi kemakmuran, kejayaan, serta doa agar masa depan para wisudawan senantiasa diliputi kecerahan dan kebahagiaan.
3. Sajian Lauk Pauk: Menjadi simbol pelengkap dan keanekaragaman, menggambarkan latar belakang mahasiswa Indonesia yang berbeda-beda namun melebur dalam keharmonisan hidup yang seimbang.
4. Simbol Persatuan & Kerukunan: Penyajiannya melambangkan eratnya persatuan dan ikatan kekeluargaan mahasiswa Indonesia yang tidak luntur meski sedang menuntut ilmu di negeri orang.
Selepas pemotongan tumpeng dan doa bersama yang dipanjatkan secara khidmat, pelataran Gedung Huisun dipenuhi dengan sesi ramah tamah. Banyak pasang mata warga lokal Taiwan yang mengagumi keunikan prosesi tersebut, menjadikan momen kelulusan ini sebagai ajang pertukaran budaya yang sukses.
Melalui kelulusan massal mahasiswa S1 hingga S3 pada akhir Mei 2026 ini, PPI NCHU berharap para wisudawan tidak hanya membawa pulang ijazah dan ilmu pengetahuan tingkat tinggi dari Taiwan, tetapi juga ingatan mendalam tentang indahnya persatuan budaya yang terus mereka rawat, demi kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia di masa depan.