(Taiwan, ROC) -- Demam Kecerdasan Buatan (AI) yang mendorong lonjakan harga memori telah menjadi salah satu faktor utama yang menekan GoPro, perusahaan yang pernah dijuluki sebagai “legenda kamera aksi”. Pendapatan GoPro pada kuartal pertama turun sebesar 26% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sementara biaya memori melonjak antara 80% hingga 115%.
GoPro mengakui bahwa terdapat “keraguan signifikan” terhadap kemampuan pihak perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Pihaknya juga memperingatkan jika mereka mungkin tidak mampu memenuhi kewajiban utangnya. Saat ini, GoPro sedang aktif mencari pendanaan guna bertahan dan mencari jalan keluar di tengah situasi yang mengancam kelangsungan hidup perusahaan.
Ada masanya ketika kamera aksi identik dengan nama “GoPro”. Pada tahun 2014, nilai pasar perusahaan ini bahkan melampaui Tiffany & Co., sementara pendirinya menjadi CEO dengan bayaran tertinggi di Amerika Serikat (AS) dengan kompensasi mencapai 280 juta dolar AS. Namun kini, GoPro justru terancam tersingkir akibat lonjakan harga memori yang tajam.
Dalam laporan keuangan terbaru, pendapatan GoPro pada kuartal pertama turun 26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara biaya memori melonjak antara 80% hingga 115%. Menurut laporan Bloomberg, perusahaan mengakui adanya keraguan besar terhadap kemampuannya untuk mempertahankan kelangsungan usaha. GoPro juga memperingatkan bahwa mereka mungkin tidak mampu memenuhi kewajiban utangnya.
Saat ini, perusahaan tengah mempertimbangkan berbagai opsi strategis, termasuk kemungkinan penjualan perusahaan atau merger. Selain itu, GoPro juga mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) sekitar 23% dari total tenaga kerjanya di seluruh dunia.
Narator dalam video JunkBondInvestor mengatakan, “GoPro mendapatkan pelajaran pahit, yakni memiliki produk yang bagus tidak selalu berarti memiliki bisnis yang sukses. Memang mereka berhasil menciptakan produk yang luar biasa. Seri Hero adalah mahakarya rekayasa teknik yang mengubah cara orang melihat dunia, mulai dari terbang di angkasa hingga menyelam ke dasar laut. Namun, produk hebat belum tentu menghasilkan bisnis yang hebat. Smartphone perlahan menggerus pasar pengguna umum, sementara GoPro gagal beradaptasi dan bertransformasi tepat waktu.”
GoPro sempat terobsesi mewujudkan ambisi membangun platform streaming miliknya sendiri. Namun pada akhirnya, pasar tidak memberikan respons yang diharapkan. Akibatnya, perusahaan justru kehilangan fokus dalam mengembangkan dan memperbarui produk utamanya, sehingga tertinggal dari para pesaing.
Beberapa kompetitor seperti DJI dan Insta360 berhasil melampaui GoPro dalam berbagai aspek, mulai dari kamera 360 derajat, perangkat wearable, hingga desain bodi modular yang menawarkan fleksibilitas lebih tinggi. Dalam bidang-bidang tersebut, produk GoPro dinilai tidak lagi mampu bersaing secara unggul.
YouTuber Korea, Tech Zumo, mengatakan, “Di area yang memiliki bayangan, Action 6 terlihat jauh lebih terang. Kedua video yang dibandingkan merupakan rekaman asli tanpa proses penyuntingan. Dalam kondisi backlight, nilai aperture pada Action 6 terus berubah. Nilai F disesuaikan secara otomatis berdasarkan jumlah cahaya yang masuk. Saat memasuki lingkungan dengan pencahayaan rendah, perbedaan aperture menjadi semakin jelas. Memang selisihnya cukup besar. Sejujurnya, perbedaannya sangat mengejutkan dan saya benar-benar terkejut. Ini adalah model flagship GoPro, tetapi masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki.”
GoPro yang dulu membangun kejayaannya berkat kekuatan “brand” kini justru tertinggal karena inovasi teknologinya yang dianggap berjalan lambat. Pada September tahun lalu, pihak perusahaan bahkan untuk kali pertama dalam sejarah melewatkan peluncuran seri Hero terbaru.
Kini harapan tertuju pada generasi berikutnya, yakni GoPro Hero 14, yang diharapkan mampu menghadirkan terobosan yang sudah lama dinantikan. Selain itu, beredar pula kabar bahwa GoPro tengah menyiapkan kamera saku pertamanya yang akan menonjolkan kualitas gambar bergaya sinematik.
Apakah peningkatan perangkat keras ini mampu mengembalikan daya saing GoPro di pasar kamera aksi akan menjadi faktor penentu bagi upaya perusahaan untuk bangkit dari keterpurukannya dan merebut kembali pangsa pasar yang telah direbut para pesaing?