Menanggapi pemberitaan media asing yang menyebut pemerintah Taiwan berencana memperketat pengendalian ekspor chip canggih ke Tiongkok, Kementerian Perekonomian (MOEA) Taiwan pada Selasa (9/6) malam menyatakan bahwa pemerintah akan terus memperkuat mekanisme pengelolaan barang-barang teknologi tinggi strategis guna menyesuaikan diri dengan tren pengendalian ekspor internasional, serta menjaga keamanan nasional.
Saat ini, Taiwan dan Amerika Serikat (AS) masih terus melakukan pembahasan mengenai berbagai isu terkait, termasuk kemungkinan memasukkan chip canggih ke dalam daftar pengawasan ekspor.
Menurut pemberitaan media Bloomberg, sumber yang mengetahui akan masalah tersebut mengungkapkan jika Taiwan tengah mempertimbangkan penerapan pengendalian ekspor yang lebih ketat terhadap penjualan chip Kecerdasan Buatan (AI) ke Tiongkok.
Langkah ini bertujuan untuk semakin menyelaraskan kebijakan Taiwan dengan langkah-langkah yang telah diterapkan oleh Negeri Paman Sam, sekaligus memberikan lebih banyak instrumen hukum kepada otoritas terkait untuk mengatasi masalah pengalihan perangkat keras canggih dari Taiwan ke Tiongkok.
Salah satu contohnya adalah server AI yang menggunakan chip buatan NVIDIA, yang dikhawatirkan dapat dialihkan ke Tiongkok melalui jalur perdagangan tertentu.
Pemberitaan tersebut juga menyebutkan, berdasarkan pembatasan yang pertama kali diberlakukan oleh Negeri Paman Sam pada tahun 2022, penjualan prosesor canggih milik NVIDIA ke Tiongkok telah dilarang, kecuali perusahaan terkait memperoleh izin dari pemerintah AS.
Kebijakan tersebut bertujuan untuk mencegah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memanfaatkan prosesor AI canggih guna memperoleh keunggulan militer.
Sementara itu, Taiwan saat ini belum menganggap ekspor chip ke Tiongkok tanpa izin sebagai tindak pidana. Namun, pihak berwenang akan memberikan peringatan kepada calon penjual, jikalau mereka tetap melanjutkan transaksi tersebut, maka mereka berpotensi melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh AS.
Menurut pemberitaan Bloomberg yang mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut, para pejabat di Taipei saat ini sedang mempertimbangkan penerapan pengendalian yang lebih ketat terhadap chip AI, sebagai bagian dari negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung dengan AS.
Langkah-langkah yang dipertimbangkan adalah memperluas pembatasan penjualan sehingga berlaku bagi seluruh pelanggan di Tiongkok, tidak lagi hanya terbatas pada perusahaan-perusahaan tertentu yang masuk dalam daftar hitam ekspor, seperti Huawei. Karena isu ini bersifat sensitif, maka sumber tersebut meminta identitasnya dirahasiakan.
Menanggapi isi dari pemberitaan Bloomberg tersebut, MOEA pada Selasa malam menyatakan bahwa pemerintah akan terus memperkuat mekanisme pengelolaan barang-barang teknologi tinggi strategis Taiwan guna menyesuaikan diri dengan tren pengendalian ekspor internasional serta menjaga keamanan nasional.
MOEA juga menegaskan, Taiwan dan AS saat ini masih terus melakukan pembahasan mengenai berbagai isu terkait, termasuk pengawasan dan pengendalian terhadap chip canggih.