(Taiwan, ROC) – Militer Amerika Serikat (AS) pada Rabu (10/6) menyatakan bahwa pihaknya telah melancarkan serangan udara baru terhadap sejumlah target di Iran. Beberapa jam sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, berjanji akan melancarkan serangan baru jika tidak tercapai kesepakatan damai.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) melalui jejaring X mengemukakan, “Serangan ini merupakan respons terhadap agresi Iran yang tidak berdasar dan terus berlanjut”, serta menyatakan bahwa operasi serangan dimulai pada pukul 17:15 waktu Pantai Timur AS pada 10 Juni, atau pukul 00:45 waktu Teheran pada 11 Juni (05:15 pagi waktu Taiwan pada 11 Juni).
Gelombang serangan ini merupakan perkembangan terbaru dalam rangkaian aksi saling serang yang terus meningkat antara kedua pihak, dan berpotensi kembali memicu perang skala penuh. Konflik tersebut sempat mereda setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata yang rapuh pada awal April.
Menurut pemberitaan media Iran Mehr News Agency, suara ledakan terdengar di kota pelabuhan Sirik, dan sistem pertahanan udara di wilayah barat Teheran telah diaktifkan.
Trump sebelumnya kepada wartawan pada Rabu (10/6) di Gedung Putih mengatakan, “Kami akan melancarkan serangan terhadap mereka, dan itu adalah serangan yang sangat keras.”
Kemudian, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, saat berkunjung ke Komando Pusat di Florida kepada wartawan menyebutkan bahwa serangan tersebut akan “meningkatkan kepentingan militer kami dan memperkuat posisi diplomatik kami”.
“Kami akan menyerang mereka dengan keras malam ini, dan kami berharap Iran membuat keputusan yang tepat”, “Jika kami harus bernegosiasi dengan bom, kami akan bernegosiasi dengan bom.” kata Pete Hegseth.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, AS dan Iran beberapa kali terlibat baku tembak, sementara para negosiator belum berhasil mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 3 bulan ini.
Trump berulang kali mengemukakan jika kedua pihak hampir mencapai kesepakatan, meskipun hingga kini tidak ada tanda-tanda terobosan dalam perundingan, dan dirinya terus mengancam akan melanjutkan pengeboman.
Setelah sebuah helikopter serang milik militer AS ditembak jatuh pada (8/6) di dekat Selat Hormuz, militer AS pada Selasa (9/6) menargetkan sistem pertahanan udara dan radar di sekitar wilayah Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain menggunakan rudal serta drone. Seorang pejabat AS membeberkan, serangan Iran tersebut tidak menyebabkan kerusakan signifikan.
Iran menuduh AS menyerang sebuah waduk yang memasok air ke 10 desa, yang dinilai melanggar hukum internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan, “Ini bukan kerusakan tambahan, ini adalah kejahatan perang yang disengaja dan pelanggaran hak asasi manusia yang terang-terangan.”