Amerika Serikat dan Iran mengumumkan tercapainya kesepakatan sementara yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian sementara perang yang telah merenggut ribuan korban jiwa, serta penetapan kerangka perundingan program nuklir Iran selama 60 hari ke depan.
Kesepakatan ini merupakan hasil dari serangkaian negosiasi tidak langsung selama berminggu-minggu antara Washington dan Teheran, yang berlangsung sejak gencatan senjata mulai berlaku pada awal April lalu.
Kabar ini pertama kali diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, sebelum kemudian dikonfirmasi oleh Presiden AS Donald Trump dan media pemerintah Iran.
Penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026, mundur dari rencana awal Trump yang ingin menyelesaikannya pada Minggu (14/6), yang mana bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80.
Donald Trump menjelaskan bahwa penundaan tersebut diperlukan untuk proses pembersihan ranjau laut di selat tersebut sebelum jalur pelayaran dapat dibuka kembali. Melalui media sosial, Trump menyatakan bahwa kesepakatan ini akan membawa perdamaian dan keamanan bagi seluruh kawasan.
Sementara itu, media pemerintah Iran menyebut kesepakatan ini sebagai konsesi dari pihak AS dan mengklaim bahwa Iran secara resmi memaksa Amerika Serikat dan Israel untuk mengakhiri perang di semua lini. Teks lengkap kesepakatan baru akan dipublikasikan setelah penandatanganan resmi dilakukan.
Meski detail kesepakatan masih belum sepenuhnya final, pasar energi global langsung bereaksi. Harga minyak mentah Brent turun lebih dari 3% menjadi sekitar US$84 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$81 per barel. Dolar AS secara umum melemah terhadap mata uang G10 di awal perdagangan Asia, dengan dolar Australia memimpin penguatan.
Analisis Bloomberg mencatat bahwa kesepakatan ini membantu meredakan kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik, sekaligus memberikan Donald Trump ruang untuk meredam tekanan politik menjelang pemilihan paruh waktu November, mengingat perang ini sangat tidak populer di kalangan pemilih domestik AS.
Namun, perbedaan interpretasi antara kedua pihak sudah terlihat hanya beberapa menit setelah pengumuman, pertanda bahwa negosiasi lanjutan masih akan berliku. Iran menyatakan bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz ke depan akan dikelola bersama oleh Iran dan Oman, mengisyaratkan Teheran akan berupaya mempertahankan sebagian kendali atas jalur air strategis tersebut.
Iran juga menuntut pencabutan semua sanksi utama dan sekunder selama masa negosiasi 60 hari, termasuk pelonggaran sanksi penjualan minyak di luar negeri dan pencairan dana miliaran dolar yang dibekukan di rekening bank luar negeri.
Di sisi lain, setiap pelonggaran sanksi memerlukan persetujuan Kongres AS. Sikap Israel juga belum jelas, mengingat serangan baru yang dilancarkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terhadap Lebanon sempat menempatkan proses penandatanganan dalam risiko.