Menanggapi pernyataan para pimpinan G7 yang menekankan pentingnya perdamaian di Selat Taiwan, Presiden Lai Ching-te dalam acara jamuan the bersama media internasional pada hari Kamis ini (18/6) mengatakan, Taiwan menyambut baik imbauan G7 tersebut. Taiwan juga berkomitmen untuk bekerja sama secara teguh dengan komunitas internasional demi mempertahankan status quo perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
Selain itu, Presiden Lai mendesak Tiongkok untuk menghentikan ekspansi militernya di Laut Tiongkok Selatan, Laut Tiongkok Timur, dan Selat Taiwan, serta menghentikan niat untuk menyerang Taiwan dengan kekuatan militer. Ia menegaskan, Taiwan bersedia melakukan pertukaran dan kerja sama dengan Tiongkok berdasarkan prinsip kesetaraan dan martabat demi mendorong perdamaian dan kemakmuran bersama.
Acara jamuan teh bersama media internasional ini berlangsung pada Kamis pagi ini (18/6) di Taipei Guest House. Dalam sambutannya, Presiden Lai menyampaikan, tahun ini bertepatan dengan peringatan 30 tahun pemilihan presiden langsung di Taiwan. 30 tahun yang lalu, rakyat Taiwan dengan berani melewati masa darurat militer selama 38 tahun, tanpa rasa takut terhadap ancaman rudal Tiongkok, rakyat Taiwan berhasil melaksanakan pemilihan presiden langsung. Momen tersebut sekaligus menyampaikan kepada dunia internasional bahwa, “Kedaulatan Taiwan berada di tangan rakyat”, “Masa depan Taiwan hanya dapat diputuskan oleh 23 juta rakyatnya”,
“Republik Tiongkok Taiwan dan Republik Rakyat Tiongkok tidak saling berafiliasi dan Taiwan bukan bagian dari Republik Rakyat Tiongkok”. Selama 30 tahun terakhir, rakyat Taiwan terus menentukan masa depan negara mereka melalui lembaran surat suara. Masyarakat Taiwan juga telah memantapkan demokrasi yang tak lekang oleh waktu.
Presiden Lai mengemukakan, setiap pencapaian Taiwan telah mendapat pengakuan dari komunitas internasional. Taiwan juga berhasil mendapatkan kepercayaan dari mitra-mitra global dalam rantai pasokan global, proses manufaktur semikonduktor tingkat lanjut, penerapan AI, serta pengembangan kapasitas komputasi. Semua ini menjadi bukti nyata bahwa keterbukaan Taiwan terhadap dunia dan kegigihannya dalam menjaga demokrasi serta kebebasan telah menciptakan kemakmuran dan pembangunan Taiwan.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Lai juga menyinggung tentang AS dan Iran yang akan segera menandatangani perjanjian damai, di mana secercah harapan bagi perdamaian Timur Tengah mulai terlihat. Ia pun berharap dari lubuk hati yang terdalam agar perang antara Rusia dan Ukraina dapat segera berakhir, sehingga rakyat Ukraina bisa secepatnya terbebas dari penderitaan akibat perang.
Berkaitan dengan perkembangan situasi di kawasan Indo-Pasifik, Presiden Lai menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada G7 yang baru-baru ini kembali menegaskan bahwa mereka “tidak mengizinkan pihak mana pun untuk mengubah status quo secara sepihak”. G7 secara khusus menentang penggunaan kekuatan militer atau ancaman untuk mengubah status quo di Selat Taiwan, serta menentang ekspansi militer di Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan.
Presiden Lai kembali menegaskan komitmen Taiwan, Taiwan bersedia menyambut seruan G7 dan akan bekerja sama secara teguh dengan komunitas internasional untuk mempertahankan status quo perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
Menurut sumber informasi, acara jamuan teh ini diusung oleh Taiwan Foreign Correspondents' Club (TFCC), setelah dikoordinasikan, diputuskan Istana Kepresidenan dan TFCC menjadi tuan rumah bersama, dengan konsep menggelar acara jamuan teh yang santai. Setelah tiba di lokasi, Presiden Lai terlebih dahulu menyampaikan pidato yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama media. Semula dijadwalkan sesi tanya jawab (Q&A) selama 40 menit, akan tetapi hampir 60 jurnalis asing dari AS, Eropa, Jepang, dan negara lainnya cukup antusias. Di akhir acara, Presiden Lai juga meluangkan waktu untuk menikmati bakcang dan hidangan teh khas Taiwan bersama para jurnalis, serta membagikan suvenir berupa sabun mugwort edisi khusus Festival Perahu Naga.