Taiwan International Ocean Forum (TIOF) 2026 resmi digelar di Taipei pada Rabu hari ini (8/7). Ketua Dewan Urusan Maritim (OAC), Kuan Bi-ling (管碧玲), dalam forum tersebut memperingatkan bahwa Tiongkok tengah menekan rantai pulau pertama melalui operasi zona abu-abu yang terakumulasi dalam jangka panjang dan berada di bawah ambang batas perang.
Hal ini membuat dunia internasional sulit mengidentifikasi situasi seperti apa yang disebut sebagai mengubah status quo. Kubu demokrasi harus membangun mekanisme identifikasi, koordinasi, dan peringatan dini bersama, guna membangun pemecah gelombang demokrasi bersama-sama.
TIOF 2026 diselenggarakan di Grand Hyatt Taipei pada Rabu hari ini. OAC selaku pihak penyelenggara menyatakan bahwa konferensi tahun ini mengusung tema utama Ketangguhan Kelautan, dengan fokus diskusi pada empat isu utama, masing-masing keamanan Indo-Pasifik, penegakan hukum penjaga pantai, laut yang berkelanjutan, dan teknologi berwawasan ke depan.
Forum ini juga mengundang para pakar di bidangnya dari 16 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Prancis, untuk mendekonstruksi narasi kelautan Tiongkok yang keliru secara komprehensif, serta bersama-sama membangun pemecah gelombang bagi kubu demokrasi.
Ketua OAC, Kuan Bi-ling, menyatakan bahwa dari Jepang, Taiwan, hingga Filipina, negara-negara di rantai pulau pertama tengah menghadapi berbagai bentuk tekanan maritim dari Tiongkok yang semakin sering terjadi di perairan yang berbeda. Meskipun penyebab kejadiannya berbeda-beda, semuanya merupakan pola operasi yang terakumulasi secara bertahap, memberikan tekanan jangka panjang, dan sengaja dikendalikan agar tetap berada di bawah ambang batas perang konvensional.
Kuan Bi-ling menyoroti bahwa masyarakat internasional telah lama menekankan penolakan terhadap pihak mana pun yang mengubah status quo.Ia menekankan bahwa inilah ancaman terbesar dari operasi zona abu-abu Tiongkok.
Kuan Bi-ling mengatakan, “Dalam penilaian demi penilaian yang belum mencapai tingkat krisis, kita secara bertahap terbiasa dengan hal-hal yang seharusnya tidak dianggap normal. Pada akhirnya, kita mungkin tiba-tiba menyadari bahwa tidak ada satu hari pun di mana perang yang menentukan itu terjadi, namun status quo yang semula ada sudah tidak ada lagi. Inilah latar belakang paling nyata mengapa kita membahas ketangguhan kelautan pada hari ini.”
Wakil Sekjen Dewan Keamanan Nasional, Li Wen (李問), yang turut hadir dalam forum tersebut juga menyatakan bahwa Taiwan berada di garis depan rantai pulau pertama, dan Selat Taiwan merupakan landasan bagi perdagangan internasional. Taiwan akan terus bekerja sama erat dengan mitra global, mendorong dialog yang diperlukan, dan memberikan kontribusi guna memastikan lingkungan laut yang bebas, terbuka, dan berkelanjutan.