(Taiwan, ROC) COP29 meloloskan dana sebesar US$ 300 milyar untuk dana iklim setiap tahunnya disediakan oleh negara-negara penghasil karbon terbesar. Pakar Akademia Sinica menunjukkan pendanaan bukanlah bantuan finansial secara cuma-cuma, dan rincian implementasi di masa depan masih perlu diselesaikan; Taiwan dapat memerhatikan mekanisme perdagangan karbon global yang ditetapkan dalam pertemuan tersebut dan mengurangi perlambatan pengurangan karbon melalui pembelian hak karbon.
Conference of the Parties (COP29) di Baku, Azerbaijan telah berakhir. Setelah pembahasan berlangsung secara intens, dunia meloloskan satu kausal perjanjian iklim, negara-negara kaya secara historis menjadi penghasil karbon besar berjanji akan menyediakan dana sebesar US$300 miliar (sekitar NT$9,7 triliun) setiap tahunnya, akan tetapi negara-negara miskin yang terdampak buruk akibat perubahan iklim merasa tidak puas, menyebut angka ini masih terlalu jauh dan sangat rendah.
Pakar Academia Sinica, Wang Pao-kuan kemarin (27/8) saat di Pusat Media Sains dan Teknologi Taiwan menjelaskan, bahwa “pembiayaan” bukan finansial langsung tanpa imbalan, maka rencana implementasi di masa depan masih perlu dirancang lebih rinci.
Kemudian, Wang Pao-kuan mengatakan, bagi sebagian besar negara, dampak perubahan iklim masih pada tingkat pemanasan suhu atau peningkatan curah hujan, namun bagi beberapa negara, sudah mencapai tingkat kelangsungan hidup nasional, misalnya ketinggian rata-rata nasional Tuvalu tidak sampai 5 meter, kenaikan permukaan laut secara bertahap akan menyebabkan gelombang perihelion yang bisa menenggelamkan sebagian besar kawasan negara.
Wang Pao-kuan juga mengimbau, Taiwan menanggapi isu adaptasi perubahan iklim ke level implementasi, catatan cuaca dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa perubahan iklim sudah parah, bukan dianggap sebagai hal di luar jangkauan.