Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Українська Panduan website

Penulis Swiss: Taiwan Adalah Destinasi Wisata yang Diremehkan

14/07/2026 17:16
Penulis & Editor: Farini Anwar
Pasar Malam (Foto: Lndt / Rti)
Pasar Malam (Foto: Lndt / Rti)

Central News Agency (CNA) hari ini (14/7) melaporkan, penulis ternama Swiss Martin Ebel dengan tulisan berjudul “Pulau yang Disebut Memiliki Makanan Terlezat, tetapi mana turisnya?” diterbitkan di harian Swiss Tages-Anzeiger menyampaikan catatan wisata di Taiwan. Kata pembuka pertama tulisan langsung adalah “Baik siang maupun malam, hampir semua orang-orang di Taiwan menyantap makanan selama waktu 24 jam.” Tulisan ini menunjukkan kelezatan kuliner sekaligus memperkenalkan kehidupan, demokrasi dan politik Taiwan.

 

Dalam rombongan wisata Galaxy Travel, Martin Ebel mencicipi omelet tiram di tengah hiruk pikuknya pasar malam di Chiayi, di atas meja plastik di tengah remang-remang malam, ditemani dengan bir Taiwan dan santapan kerang; kembali ke Ximenting Taipei, menyantap daging bebek panggang dan jamur di restoran ala Jepang. Ini semua hampir tidak bisa didapatkan di Swiss, sedangkan di Taiwan tidak saja harganya merakyat, juga penuh dengan cita rasa eksotik. 

 

Martin Ebel juga mengungkit, Taiwan memadukan berbagai budaya kuliner dari tiap-tiap provinsi di Tiongkok, Jepang, Korea dan makanan lokal sendiri, menghadirkan cita rasa yang beragam, setiap santapan pasti membuat orang terkesan.

 

Beralih pada pembicaraan lain, Martin Ebel menyampaikan, mendatangi langsung ke Taiwan maka kita dapat merasakan keberhasilan pengelolaan masyarakat yang demokrasi. Dilihat dari sudut pandang orang Swiss, Taiwan memiliki demokrasi yang unik. Berdasarkan indek demokrasi global, Taiwan menempati urutan pertama Asia untuk beberapa tahun terakhir ini, bahkan mengalahkan Jepang yang berada di urutan kedua.

 

Mengilas balik perjalanan wisata sejarah Taiwan, Martin Ebel mengemukakan, setelah mengakhiri masa penjajahan Jepang pada tahun 1895 – tahun 1945, kemudian melalui masa teror putih. Di Gedung Peringatan Chiang Kai-shek terdapat sebuah patung besar Chiang Kai-shek, sedangkan pada pameran tetap menyajikan perjalan Taiwan dalam upaya meraih demokrasi. Ia juga sangat terkesan dengan kisah Cheng Nan-jung (鄭南榕), yang mengorbankan nyawanya dengan cara membakar diri.

 

Martin Ebel juga kagum dengan kebersihan di Taiwan. Pasar-pasar tradisional yang ramai terlihat bersih dan higienis. Ia sempat bercanda, sebegitu bersihnya lantai Taipei Metro sehingga orang bisa "makan langsung di lantai.” Selain itu, truk sampah yang memutarkan musik yang memberikan sentuhan khas budaya lokal Taiwan yang sungguh berkesan.

Ketika membandingkan kehidupan sehari-hari dan kepercayaan masyarakat, Marin Ebel mengatakan, "Gereja-gereja yang sepi di Eropa memancarkan suasana yang khidmat, sehingga terasa berjarak. Sebaliknya, kuil-kuil di Taiwan dipenuhi oleh umat yang beribadah dan sarat dengan denyut kehidupan."

 

Dalam perjalanannya, ia mengamati para pengunjung dari Swiss dan negara-negara Barat lainnya hampir tidak menyadari tekanan geopolitik yang dihadapi Taiwan; sebaliknya, mereka sangat terkesan oleh vitalitas kota tersebut, keramahan penduduknya, serta efisiensi masyarakatnya.

 

Ia merasa daya tarik Taiwan sebagai destinasi wisata belum benar-benar ditemukan oleh sebagian besar wisatawan Barat.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解
00:00
00:00
0.5x 1x 1.5x 2x