Kemarin (15/7) menandai peringatan pencabutan darurat militer di Taiwan memasuki tahun ke-39, Perdana Menteri Cho Jung-tai mengatakan, 39 tahun yang lalu, Taiwan keluar dari periode darurat militer selama 38 tahun. Kebebasan akhirnya menaklukkan rasa takut, jajaran Yuan Eksekutif akan terus menjaga demokrasi, supremasi hukum, dan kebebasan, menjaga keamanan dan kemakmuran nasional, sehingga masyarakat dapat hidup damai dan dengan berani mengejar impian mereka.
Menurut Taiwan Human Rights Memory Bank, Taiwan memasuki darurat militer pada 20 Mei 1949, dan berlangsung hingga 14 Juli 1987, pencabutan darurat militer telah berjalan selama 38 tahun.
PM Cho Jung-tai melalui unggahan di Facebook mengatakan, bahwa lagu penyanyi 9m88 yang membawakan lagu “Dà méng de àn mián (大濛的暗眠)” baru-baru ini memenangkan penghargaan untuk kategori soundtrack film asli terbaik. Kemarin, Taiwan juga merayakan peringatan ke-39 pencabutan darurat militer. 39 tahun yang lalu, Taiwan keluar dari periode darurat militer selama 38 tahun. Saat ini, Taiwan menikmati kehidupan dengan kebebasan bernapas, kebebasan berkreasi, dan kebebasan berekspresi. Era kebebasan setelah pencabutan darurat militer secara resmi melampaui tahun-tahun panjang darurat militer. Ini bukan sekadar akumulasi waktu, tetapi tonggak penting dalam pendalaman demokrasi.
Ia mengatakan, kebebasan bukanlah sesuatu yang diberikan begitu saja, melainkan hasil dari kerja keras dan pengorbanan para pendahulu demokrasi yang tak terhitung jumlahnya selama bertahun-tahun, selangkah demi selangkah. Saat ini, masyarakat Taiwan dapat dengan bebas menikmati musik favorit mereka, membaca buku yang mereka inginkan, dan memberikan kritik serta saran kepada pemerintah. Keragaman suara dan perspektif yang berbeda adalah aspek paling berharga dari masyarakat demokratis dan pencapaian terpenting Taiwan.
Cho Jung-tai menyatakan bahwa sementara Taiwan terus memperdalam demokrasi dan mengkonsolidasikan kebebasan, rezim otoriter di seluruh dunia masih menggunakan pengawasan dan penindasan terhadap rakyatnya, bahkan memperluas kekuasaan otoriter mereka melampaui batas negara melalui apa yang disebut “perpanjangan yurisdiksi”, berupaya mengintimidasi kebebasan yang mereka perjuangkan. Praktik-praktik tersebut tidak hanya gagal mendapatkan pengakuan internasional tetapi juga semakin menyoroti betapa berharganya nilai-nilai kebebasan dan demokrasi.
Ia menekankan bahwa jajaran Yuan Eksekutif akan terus menjaga demokrasi, supremasi hukum, dan kebebasan, menjaga keamanan dan kemakmuran nasional, sehingga setiap generasi dan setiap orang yang tinggal di tanah ini dapat hidup dalam damai dan dengan berani mengejar impian mereka. Karena kekuatan Taiwan yang paling berharga bukanlah rasa takut, tetapi kebebasan dan keyakinan bersama dalam menjaga demokrasi.