Kasus COVID-19 di Taiwan terus merangkak naik selama lima pekan berturut-turut, dan otoritas Centers for Disease Control (CDC) di Taiwan kini memperkirakan gelombang epidemi baru bisa dimulai paling cepat pada pekan ini.
Juru Bicara CDC, Tseng Shu-hui (曾淑慧), mengungkapkan bahwa pada pekan ke-27 (5 Juli -11 Juli), total kunjungan rawat jalan dan gawat darurat terkait COVID-19 mencapai 2.811 kunjungan, atau dengan kata lain melonjak 34,4% dibandingkan pekan sebelumnya.
Analisis model CDC memprediksi angka kunjungan akan menembus 5.000 per pekan dalam waktu dekat, yang secara resmi akan menandai dimulainya gelombang epidemi baru, dengan titik puncak diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir Agustus.
Kondisi ini diperparah oleh tren serupa di negara-negara tetangga. Tiongkok, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura semuanya tengah mengalami lonjakan kasus, yang turut meningkatkan tekanan epidemiologis terhadap Taiwan.
Data pemantauan CDC sejak Oktober 2025 mencatat 136 kasus lokal dengan komplikasi parah, di mana 18 di antaranya berujung pada kematian. Kasus bergejala parah didominasi oleh lansia berusia 65 tahun ke atas yang mencapai 72,1%, individu dengan riwayat penyakit kronis sebesar 83,8%, dan yang paling signifikan adalah 94,9% dari pasien tersebut belum menerima vaksin COVID-19 musim ini.
Meski demikian, Tseng Shu-hui menyatakan bahwa puncak gelombang kali ini diyakini tidak akan melampaui rekor tahun lalu, dengan estimasi tertinggi di kisaran 50.000 kunjungan per pekan.
Faktor libur musim panas yang menutup sekolah-sekolah bahkan berpeluang menekan angka tersebut lebih rendah. Program vaksinasi COVID-19 gratis yang diperluas untuk seluruh warga berusia 6 bulan ke atas masih berlangsung hingga 31 Juli 2026, dengan stok tersisa sekitar 456.000 dosis yang terdiri dari 450.000 dosis vaksin Moderna dan 6.000 dosis vaksin Novavax.
CDC secara khusus menyerukan kepada lansia di atas 65 tahun yang belum divaksinasi atau sudah menerima dosis terakhir lebih dari 6 bulan lalu untuk segera mendapatkan suntikan guna menekan risiko rawat inap akibat gejala parah.