Situs Forbes Amerika Serikat (AS) pada Selasa (28/7) menerbitkan artikel bertajuk “Membantu Taiwan Berarti Membantu Amerika”. Artikel tersebut menegaskan, Presiden AS, Donald Trump seharusnya segera menyetujui penjualan senjata kepada Taiwan senilai US$14 miliar, dengan alasan demi menjaga kredibilitas, daya tangkal, dan konsistensi strategi AS.
Kongres AS telah lebih dahulu menyetujui penjualan senjata tersebut pada Januari tahun ini. Namun, ketika Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, baru-baru ini ditanya terkait perkembangan penjualan itu, dirinya menyebut jika proses peninjauan internal masih berlangsung.
Forbes pada Selasa (28/7) kemarin memuat artikel yang ditulis oleh Steve Forbes, yakni Chairman sekaligus Pemimpin Redaksi Forbes Media. Dalam artikelnya, dirinya menegaskan jika persetujuan penjualan senjata tersebut sangat penting, baik bagi keamanan Taiwan maupun kepentingan strategis Negeri Paman Sam secara lebih luas.
Artikel tersebut menyebutkan, UU Hubungan Taiwan berkomitmen agar AS membantu Taiwan dalam mempertahankan kemampuan pertahanan yang memadai. Ketika Kongres telah menyetujui penjualan senjata, tetapi Presiden tidak kunjung melaksanakannya, baik sekutu maupun lawan sama-sama memperhatikan hal tersebut.
Menurut artikel itu, penundaan tersebut mengirimkan sinyal jika komitmen AS dapat dijadikan bahan tawar-menawar dalam negosiasi dengan Beijing, sehingga akan melemahkan kredibilitas Washington dengan dampak yang jauh melampaui satu transaksi penjualan senjata saja. Selain itu, lambatnya proses pengiriman persenjataan dalam penjualan senjata sebelumnya juga dinilai telah merusak kredibilitas Negeri Paman Sam.
Artikel tersebut lebih lanjut menunjukkan, perencanaan militer Taiwan telah menyusun strategi pertahanan berdasarkan jenis persenjataan yang tercakup dalam paket penjualan senjata tersebut, termasuk rudal anti kapal dan amunisi. Persenjataan tersebut merupakan bagian penting dari “Strategi Landak”, yang bertujuan membuat setiap upaya invasi harus dibayar dengan biaya yang sangat besar dan sulit ditanggung.
Artikel itu juga menyoroti jika Tiongkok terus meningkatkan tekanan militernya terhadap Taiwan, sehingga setiap bulan penundaan dalam pelaksanaan penjualan senjata akan menciptakan celah dalam kesiapan pertahanan Taiwan.
Artikel tersebut juga menyebutkan jika pemerintahan AS dalam beberapa periode terakhir, termasuk pada masa jabatan pertama Donald Trump, menjadikan penjualan senjata kepada Taiwan sebagai kebijakan rutin yang dipisahkan dari kebijakan diplomatik yang lebih luas terhadap Tiongkok. Tujuannya adalah untuk mencegah Beijing memiliki hak veto atas komitmen pertahanan AS terhadap Taiwan.
Artikel itu menambahkan, apabila penjualan senjata tersebut dijadikan alat tawar dalam negosiasi perdagangan atau diplomasi tingkat tinggi, hal itu tidak hanya bertentangan dengan praktik yang selama ini berlaku, tetapi juga akan mendorong Tiongkok untuk memberikan tekanan terhadap transaksi penjualan senjata lainnya di masa mendatang.
Artikel tersebut juga menyebutkan jika waktu merupakan faktor yang sangat krusial. Menjelang pemilihan umum Taiwan pada 2028, dukungan berkelanjutan dari AS dinilai akan memperkuat suara-suara yang mendukung kemampuan Taiwan untuk mempertahankan diri, alih-alih tunduk pada tekanan dari Beijing.
Menurut artikel itu, persetujuan penjualan senjata saat ini akan memberikan keyakinan kepada Taipei maupun kawasan sekitarnya jika, terlepas dari bagaimana hubungan AS dan Tiongkok berkembang, dukungan Negeri Paman Sam terhadap Taiwan akan tetap konsisten.