Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Kasus COVID-19 di Taiwan Melonjak Tajam, CDC Proyeksikan Puncak Pertengahan Agustus, Kenali Delapan Gejala Utama

06/08/2026 11:48
Penulis & Editor: Yunus Hendry
Kasus COVID-19 di Taiwan Melonjak Tajam, CDC Proyeksikan Puncak Pertengahan Agustus, Kenali Delapan Gejala Utama (Foto: CDC)
Kasus COVID-19 di Taiwan Melonjak Tajam, CDC Proyeksikan Puncak Pertengahan Agustus, Kenali Delapan Gejala Utama (Foto: CDC)

Gelombang COVID-19 di Taiwan kembali menunjukkan eskalasi yang signifikan. Data terbaru dari otoritas Taiwan Center for Disease Control (CDC) mencatat jumlah kunjungan rawat jalan dan unit gawat darurat akibat COVID-19 dalam tujuh hari terakhir mencapai 18.549 orang, angka ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat 10.605 orang.

Juru Bicara CDC, Lin Ming-cheng (林明誠), dalam wawancara dengan Radio Taiwan International pada Senin (3/8) menyatakan bahwa tren penularan masih terus merangkak naik dan diproyeksikan mencapai puncaknya pada pertengahan Agustus, dengan perkiraan jumlah kunjungan medis dalam satu minggu berpotensi menembus 51.000 orang. Kondisi tersebut diperkirakan akan bertahan dalam fase dataran tinggi selama dua hingga tiga minggu sebelum mulai mereda.

Lin Ming-cheng menjelaskan bahwa virus varian terbaru memiliki karakteristik kemampuan lolos dari sistem kekebalan tubuh, sehingga seseorang tetap berpotensi terinfeksi meskipun sebelumnya telah menerima vaksinasi. Gejala yang muncul pun bervariasi, sebagian pasien hanya mengalami sakit tenggorokan ringan atau pilek tanpa disertai demam sama sekali.

CDC mengidentifikasi delapan gejala umum yang perlu diwaspadai, yakni sakit tenggorokan, batuk, hidung tersumbat, pilek, demam, kelelahan, sakit kepala, dan nyeri otot. Sebagian kecil pasien juga melaporkan kehilangan atau penurunan fungsi indra penciuman dan perasa untuk sementara waktu, meski kasus ini tergolong jarang.

Lin Ming-cheng menegaskan bahwa tidak setiap orang akan mengalami kedelapan gejala tersebut secara bersamaan karena kondisi fisik masing-masing individu berbeda, ada yang hanya demam, ada yang hanya batuk, dan ada yang mengalami kombinasi beberapa gejala sekaligus.

Sejumlah laporan dari masyarakat juga menyebutkan bahwa infeksi COVID-19 pada gelombang kali ini kembali memicu gejala tenggorokan silet (sensasi sakit yang sangat intens pada tenggorokan seperti tersayat).

Menanggapi hal ini, Lin Ming-cheng menjelaskan bahwa fenomena serupa pernah muncul pada beberapa gelombang pandemi sebelumnya, dan jika peradangan pada tenggorokan cukup parah, rasa sakit yang ditimbulkan memang dapat sangat hebat. Ia menekankan bahwa tingkat keparahan gejala dipengaruhi oleh daya tahan tubuh masing-masing individu serta status vaksinasi yang dimiliki. Mereka yang belum pernah divaksinasi umumnya berisiko mengalami gejala yang lebih berat dibandingkan yang sudah mendapatkan perlindungan vaksin.

CDC mengimbau masyarakat untuk segera melakukan tes cepat secara mandiri apabila mengalami gejala-gejala yang mencurigakan. Jika hasil tes menunjukkan positif, pasien dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter tanpa menunda.

Bagi pasien yang memenuhi kriteria klinis, dokter akan meresepkan obat anti-virus yang terbukti efektif mempersingkat masa sakit, meredakan gejala, serta meminimalkan risiko berkembangnya penyakit menjadi kondisi yang lebih parah.

Lin Ming-cheng menekankan bahwa penanganan sejak dini merupakan kunci utama dalam menekan angka keparahan kasus pada gelombang pandemi kali ini, dan masyarakat tidak disarankan menunggu gejala memburuk sebelum mencari pertolongan medis.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解