Ambasador Taiwan untuk Jerman, Klement Gu(谷瑞生) menghadiri kamp pembelajaran tingkat lanjut yang diselenggarakan oleh Asosiasi Federal untuk Kebijakan Keamanan di Universitas (BSH), bersama para mahasiswa dari 20 lebih universitas Jerman, beliau berbagi pengalaman Taiwan dalam menanggapi ancaman zona abu-abu, perang kognitif, dan serangan siber. Ia mengatakan, Taiwan bersedia berbagi ketahanan demokrasi dan pengalaman pertahanan masyarakat dengan negara-negara yang memiliki pandangan serupa.
Didirikan pada tahun 1985, BSH adalah organisasi mahasiswa pemuda terbesar di Jerman yang didedikasikan untuk kebijakan keamanan, di masa jangka panjang membina SDM bertalenta di bidang kebijakan luar negeri dan keamanan Jerman.
Menurut keterangan pers dari Kantor Perwakilan Taipei di Jerman, BSH menggelar kamp pembelajaran tingkat lanjut di Berlin dari tanggal 2-5 Agustus, diikuti oleh 26 mahasiswa yang dipimpin oleh Vice Chairman BSH Pascal Läpple, mengeksplorasi isu-isu seperti keamanan global, ketahanan demokrasi, dan tatanan internasional.
Klement Gu mengatakan, menghadapi tekanan militer yang berkelanjutan dan berbagai ancaman keamanan non-tradisional dari Tiongkok, Taiwan meningkatkan kemampuan tanggap masyarakat secara keseluruhan melalui kerja sama antar departemen, partisipasi masyarakat sipil, dan penguatan ketahanan publik. Di bidang pertahanan, Taiwan mengadopsi pola pikir perang asimetris dan "porcupine strategy" untuk memperkuat kemampuan pencegahannya.
Ia mengatakan, keamanan modern bukan lagi hanya masalah militer, tetapi juga melibatkan kemampuan warga negara untuk membedakan informasi, menjunjung tinggi lembaga demokrasi, dan membangun kepercayaan sosial. Kaum muda merupakan kekuatan penting dalam membangun masyarakat yang tangguh.
Klement Gu juga menjelaskan kepada para mahasiswa tentang perkembangan sejarah Taiwan dan Tiongkok, dan bahwa Resolusi Majelis Umum PBB 2758 tidak memberi wewenang kepada Republik Rakyat Tiongkok untuk mewakili Taiwan di komunitas internasional. Ia menekankan bahwa dalam menghadapi tantangan bersama yang ditimbulkan oleh otoritarianisme, negara-negara demokratis harus memperdalam kerja sama untuk bersama-sama menegakkan tatanan internasional.
Mengenai peran Taiwan dalam komunitas internasional, Klement Gu mengatakan, "Taiwan bukanlah masalah yang belum terselesaikan, melainkan bagian dari Solusi”. Ia menunjukkan bahwa Taiwan telah mengumpulkan pengalaman yang kaya di berbagai bidang seperti kesehatan masyarakat, industri semikonduktor, keamanan siber, dan ketahanan masyarakat sosial, dan bersedia untuk membagikannya dengan mitra internasional.
Ia menunjuk, Taiwan mengalami sekitar 2,6 juta/ kali serangan siber setiap hari dan memainkan peran penting dalam rantai pasokan semikonduktor global dan industri kecerdasan buatan. Taiwan memproduksi lebih dari 90% server AI dunia. Di tengah restrukturisasi rantai pasokan global dan tren “pengurangan risiko”, pengalaman Taiwan dalam meningkatkan ketahanan dapat menjadi referensi bagi negara-negara yang berpandangan serupa.
Berdasarkan keterangan pers yang disampaikan oleh kantor perwakilan, para siswa yang berpartisipasi aktif mengajukan pertanyaan selama pertukaran tersebut, meliputi topik-topik seperti apa yang dapat dipelajari Jerman dari Taiwan, hubungan Taiwan-AS, situasi keamanan Indo-Pasifik, ancaman perang informasi, dan bagaimana generasi muda dapat berpartisipasi dalam urusan publik.
Klement Gu mendorong para siswa agar optimis dalam menghadapi tantangan global, tidak menyerah saat mengalami kesulitan, jangan sampai karena kehilangan rasa percaya terhadap demokrasi dan nilai-nilai bersama. Taiwan bersedia untuk terus bekerja sama dengan mitra internasional untuk bersama-sama mengatasi tantangan yang saat ini dihadapi masyarakat demokratis.