(Taiwan, ROC) -- Di tengah persaingan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok untuk memimpin perkembangan kecerdasan buatan (AI) global, Wakil Menteri Luar Negeri AS Urusan Ekonomi Jacob Helberg mengunggah pernyataan setelah bertemu dengan Direktur Institut Amerika di Taiwan (AIT), Raymond Greene. Dirinya menyatakan, Taiwan dan AS tengah menjalin kerja sama melalui inisiatif “Pax Silica” guna memastikan keamanan rantai pasok komponen-komponen penting yang menjadi fondasi revolusi AI.
Inisiatif “Pax Silica” merupakan kelompok kerja sama yang dibentuk oleh Negeri Paman Sam bersama negara-negara sekutunya dengan tujuan menjamin keamanan rantai pasok bagi industri AI. Jacob Helberg, selaku Wamenlu AS yang membidangi urusan ekonomi, merupakan tokoh utama yang mendorong lahirnya inisiatif tersebut.
Jacob Helberg pada Rabu (5/8) kemarin mengunggah foto bersama Raymond Greend di jejaring X dan menulis jika keduanya menggelar pertemuan yang sangat baik pada Selasa (4/8) lalu. Dalam unggahannya, Helberg menyatakan jika Taiwan dan AS tengah bekerja sama melalui inisiatif “Pax Silica” guna memastikan keamanan rantai pasok penting yang menjadi fondasi revolusi AI.
“Di Departemen Luar Negeri, kami memahami jika menjaga kemakmuran AS dimulai dengan memastikan masa depan ekonomi kami tetap aman.” ujar Jacob Helberg.
Selain bertemu dengan Raymond Greene, Jacob Helberg dalam unggahan lainnya juga mengungkapkan jika dirinya juga bertemu dengan Duta Besar AS untuk Belanda, Joseph Popolo. Dalam unggahan tersebut, Helberg juga menyoroti kerja sama antara AS dan Belanda dalam memperkuat rantai pasok strategis.
Negeri Paman Sam secara resmi meluncurkan inisiatif “Pax Silica” pada Desember tahun lalu. Saat itu, Departemen Luar Negeri AS juga menggelar KTT Pax Silica pertama, dengan Taiwan berpartisipasi sebagai salah satu tamu undangan.
Departemen Luar Negeri AS pada Juni tahun ini menggelar KTT Pax Silica ke-2 di Washington D.C., yang mempertemukan perwakilan dari negara-negara penandatangan Deklarasi Pax Silica. Taiwan juga turut berpartisipasi dalam acara tersebut meskipun bukan sebagai negara penandatangan.
Saat itu, Departemen Luar Negeri AS kepada media CNA menyampaikan, Taiwan dan AS memiliki kerja sama erat dalam bidang rantai pasok serta AI. Selain itu, industri manufaktur maju Taiwan memainkan peran penting dalam mendorong revolusi AI global.
Sebagai negara tempat beroperasinya TSMC, Taiwan menyatakan dukungannya terhadap inisiatif “Pax Silica” meskipun berstatus bukan sebagai pihak penandatangan. Taiwan dan AS pada Januari tahun ini juga menandatangani “Deklarasi Pax Silica serta Pernyataan Bersama Kerja Sama Keamanan Ekonomi Taiwan-AS”.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan, inisiatif “Pax Silica” bertujuan memperkuat keamanan ekonomi melalui kemitraan teknologi yang dapat dipercaya. Inisiatif ini berfungsi sebagai platform kerja sama antara pemerintah dan sektor industri untuk mengoordinasikan investasi serta mempercepat pengembangan industri-industri strategis yang sangat penting bagi perekonomian berbasis AI.
Berdasarkan informasi di situs Departemen Luar Negeri AS, pihak-pihak yang menandatangani “Deklarasi Pax Silica” mencakup Argentina, Australia, Uni Eropa, India, Israel, Jepang, Korea Selatan, Belanda, Inggris, Filipina, Singapura, serta Uni Emirat Arab, dan sejumlah pihak lainnya.