(Taiwan, ROC) -- Nama Mayotte mungkin masih terdengar asing bagi sebagian besar orang, tetapi wilayah ini belakangan mulai mendapat perhatian media. Mayotte merupakan departemen seberang laut Prancis, dan pemegang paspor Taiwan dapat berkunjung ke sana tanpa visa hingga 90 hari.
Dalam dua tahun terakhir, hubungan antara Taiwan dan Mayotte semakin erat berkat inisiatif bantuan kemanusiaan yang diberikan Taiwan pascabencana. Selain adanya anggota parlemen Prancis yang berasal dari Mayotte yang memimpin delegasi berkunjung ke Taiwan, Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan, Wu Chih-chung (吳志中), juga baru-baru ini melakukan kunjungan ke Mayotte atas undangan pihak setempat. Kunjungan tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari pemerintah Mayotte, sehingga membuka peluang besar bagi kerja sama dan pertukaran yang lebih erat di masa mendatang.
Pulau Mayotte terletak di Selat Mozambik, di antara Benua Afrika dan Madagaskar, serta merupakan salah satu pulau dalam Kepulauan Komoro. Berdasarkan informasi dari Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan, Kepulauan Komoro menjadi koloni Prancis pada abad ke-19. Pada Juli 1975, wilayah tersebut memutuskan untuk merdeka dan mengakhiri pemerintahan Prancis.
Namun, Pulau Mayotte memilih jalan yang berbeda. Melalui referendum pada tahun 2009, mayoritas penduduk menyetujui keluar dari Uni Komoro dan bergabung dengan Prancis. Selanjutnya, pada Maret 2011, Mayotte resmi menjadi departemen seberang laut Prancis.
Interaksi diplomatik antara Taiwan dan Mayotte juga erat kaitannya dengan Maret 2011. Pemerintah Prancis pada saat itu mengumumkan jika warga Taiwan memperoleh fasilitas bebas visa guna mengunjungi 11 wilayah seberang laut Prancis, termasuk Mayotte. Fasilitas bebas visa tersebut masih berlaku hingga sekarang, dan Biro Urusan Konsuler MOFA juga terus mencantumkan Mayotte dalam daftar tingkat peringatan perjalanan ke luar negeri.
Mayotte pada Desember 2024 lalu dilanda siklon tropis kuat yang menyebabkan kerusakan besar. Atas saran Wamenlu Wu Chih-chung (吳志中), Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍) memutuskan untuk memberikan bantuan dana bagi korban bencana. Langkah tersebut semakin mempererat hubungan kedua pihak.
Selanjutnya, anggota Majelis Nasional Prancis, Estelle Youssouffa, yang berasal dari Departemen Mayotte, pertama kali mengunjungi Taiwan bersama sebuah delegasi pada 2025. Kemudian, pada Juni tahun ini, dirinya kembali datang ke Taiwan dan memimpin langsung delegasi tersebut.
Sementara itu, Wamenlu Wu Chih-chung (吳志中) pada Juli lalu melakukan kunjungan ke Mayotte atas undangan pemerintah setempat, bertemu dengan para pejabat daerah serta meninjau langsung proses rekonstruksi pascabencana.
Pertukaran antara Taiwan dan Mayotte juga mencerminkan kemajuan hubungan Taiwan dengan Prancis. Seperti yang disampaikan Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍) saat menerima Estelle Youssouffa, Taiwan berharap dapat terus memperdalam kerja sama dengan Prancis di atas fondasi hubungan yang telah terjalin kuat, terutama dalam bidang ekonomi dan perdagangan, kedirgantaraan, komunikasi satelit, serta energi.
Sementara itu, Wamenlu Wu menegaskan, Taiwan dan Prancis memiliki nilai-nilai bersama, seperti kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia. Menurutnya, di tengah tantangan negara-negara otoriter terhadap tatanan internasional, negara-negara demokrasi harus semakin bersatu dan memperkuat kerja sama.
Mayotte berharap dapat terus memperdalam pertukaran dan kerja sama dengan Taiwan di berbagai bidang, seperti ekonomi dan perdagangan, budaya, pendidikan, serta pariwisata.
Mayotte menilai, karena wilayah tersebut berada dekat dengan Benua Afrika, pulau itu dapat menjadi pintu gerbang bagi Taiwan untuk memasuki pasar Afrika. Oleh karena itu, Mayotte mendorong perusahaan-perusahaan Taiwan untuk berinvestasi di wilayah tersebut sekaligus menyambut lebih banyak wisatawan Taiwan untuk berkunjung.