(Taiwan, ROC) -- Angkatan Darat kemarin malam (6/8) menggelar simulasi militer riil “pemblokiran jalan utama” di jembatan Danjiang, mengerahkan pasukan teknik tempur yang menyiapkan sistem pemblokiran dengan kedalaman 200m selama 4 jam, dalam kesempatan ini sekaligus bertujuan menguji efektivitas pertahanan pasukan. Pakar mengatakan, jembatan Danjiang dengan lokasi strategis di muara sungai Tamsui, dikarenakan posisi lebih strategis dibandingkan jembatan Guandu. Ketika direbut musuh, hal ini dapat berdampak buruk terhadap operasi pertahanan Taiwan Utara.
Latihan militer Han Kuang 42 masih berlanjut, dan memasuki kesiagaan tempur tingkat tinggi. Kemarin malam (6/8) untuk pertama kalinya, Angkatan Darat menggelar latihan “pemblokiran jalan utama” di jembatan Danjiang Kota New Taipei yang baru diresmikan, latihan ini melibatkan pasukan teknik tempur batalyon 53 dilengkapi dengan kendaraan berat sipil, mobilisasi logistik, dan menjalani sistem pemblokiran di jembatan Danjiang.
Setelah jembatan Danjiang aktif beroperasi pada bulan Mei yang lalu, untuk pertama kalinya jembatan ini diblokir, mengikuti latihan militer Han Kuang dan menguji operasi pertahanan militer.
Militer Taiwan menjelaskan, kali ini memasang objek penghalang standar dengan lebar 13m dan kedalaman mencapai 200m, seperti pemecah ombak (tetrapod), kawat baja dan jaring kawat, dan pembatas HESCO. Setiap penghalang berjarak sekitar 70m, dengan kekuatan satu kompi tempur yang direncanakan pemasangan perlengkapan ini diselesaikan dalam waktu 4 jam”.
Untuk pertama kalinya, Angkatan Darat menjalani latihan militer “pemblokiran jalan utama”, selain mengerahkan pasukan tempur batalyon 53, juga memobilisasi kendaraan berat sipil untuk latihan ini.
Militer juga menambahkan, pada masa lalu, blokade jalan dipasang di permukaan jalan, tidak ada masalah dengan perputaran haluan di atas jembatan, sementara itu, jembatan Danjiang baru mulai dibuka untuk lalu lintas kendaraan, maka dari itu, melalui latihan riil kali ini bertujuan untuk mendapatkan pengalaman dan parameter yang relevan untuk pengaturan sistem blokade di atas jembatan, untuk dipelajari dan dibahas di masa mendatang.
Karena jembatan Danjiang bermuara di sungai Tamsui, setelah resmi dibuka, jembatan ini menghubungi 2 tepi sungai Tamsui dan Bali, selain itu juga berfungsi sebagai garis pertahanan garda terdepan di muara sungai. Asisten profesor Institut Pascasarjana Studi Strategis Universitas Tamkang, Chieh Chung (揭仲) mengatakan bahwa, baik Bali maupun Shalun mudah dijadikan sebagai titik pendaratan bagi Tentara Pembebasan Rakyat (TPR), ketika berhasil mendarat, lalu menguasai jembatan Danjiang, kedua tepi sungai menjadi pangkalan mendarat.
Chieh Chung menegaskan, dikarenakan jembatan Danjiang terletak di muara sungai, maka posisi ini lebih strategis dibandingkan dengan jembatan Guandu. Apabila musuh berhasail mendarat dan menguasai jembatan Danjiang, maka pasukan mereka dan menyusuri sungai dan mengepung pasukan Taoyuan brigade 269, dan pos komando area Guandu.
Saat ini, komando area Guandu telah mengerahkan pasukan lapis baja di sepanjang sungai Tamsui untuk mencegah pasukan musuh yang memanfaatkan sungai Tamsui untuk menerobos ke pusat politik dan ekonomi Taipei. Namun, Chieh Chung juga menunjukkan, berdasarkan pandangan militer, mungkin militer masih perlu bersiaga untuk meledakkan jembatan Danjiang, selain memutus hubungan antara kedua tepi sungai, struktur jembatan yang hancur juga dapat berfungsi sebagai penghalang, supaya pasukan musuh tidak bisa masuk melalui sungai.