(Taiwan, ROC) - Sebuah insiden menjadi sorotan dalam Latihan Militer Han Kuang 42 Taiwan pada sore hari Minggu (9 Agustus). Sebuah truk yang mengangkut peluru howitzer 8 inci di Miaoli dilaporkan mengalami insiden. Peluru diduga jatuh ke jalan karena tidak diikat dengan sempurna. Pihak militer kemudian menyatakan bahwa tidak ada kerusakan pada personel, peralatan maupun kendaraan di lokasi. Militer juga mengakui masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki dalam pekerjaan yang dilakukan oleh perusahaan kontraktor dan akan memasukkannya dalam evaluasi selanjutnya.
Pakar militer berpendapat, setiap tahun selama Latihan Han Kuang, militer Taiwan juga menggelar latihan-latihan lain untuk menguji kemampuan mobilisasi sumber daya sipil dan material. Namun, pada masa lalu, kegiatan tersebut umumnya sebatas pendataan dan pemeriksaan kapasitas mobilisasi. Sangat jarang perusahaan sipil benar-benar diminta menangani persenjataan atau amunisi militer yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi seperti latihan kali ini.
Mulai dari latihan peralihan produksi pabrik amunisi ke mode produksi masa perang yang digelar oleh Pabrik 202 Biro Persenjataan hingga insiden kali ini, di mana militer menggunakan kendaraan sipil untuk mengangkut amunisi, terlihat bahwa konsep latihan yang disebut militer sebagai “simulasi kondisi perang nyata” memang semakin diterapkan.
Su Tzu-yun (蘇紫雲), Kepala Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional (INDSR), mengatakan bahwa integrasi sumber daya manusia dan material sipil dengan kekuatan militer dapat dipandang sebagai bagian dari kemampuan pertahanan menyeluruh.
Mengutip laporan bahwa pasukan NATO pada masa perang membutuhkan sekitar 70% kapasitas transportasi dari sektor sipil, termasuk kereta api, jalan raya, serta sarana transportasi laut dan udara, Su mengatakan, “Pengalaman NATO menunjukkan bahwa mobilisasi dan pengerahan sumber daya sipil sangat penting dan menentukan bagi keberlangsungan operasi tempur. Pengangkutan peluru kali ini merupakan salah satu contoh upaya mengintegrasikan militer dan sektor sipil secara lebih mendalam. Latihan dilakukan untuk menemukan berbagai potensi masalah melalui proses pelaksanaannya.”
Su juga menjelaskan bahwa peluru howitzer berdaya ledak tinggi tipe M106 yang jatuh dalam insiden tersebut selain menggunakan bahan peledak yang relatif tidak sensitif, juga dilengkapi pengaman mekanis. Karena itu, sekadar jatuh ke permukaan jalan tidak akan memicu ledakan.
Namun, dengan berat sekitar 90 kilogram, peluru tersebut tetap dapat menimbulkan cedera apabila menghantam kendaraan atau masyarakat yang melintas. Oleh sebab itu, prosedur pemuatan, pengikatan, dan pengamanan amunisi perlu dievaluasi kembali apabila kendaraan sipil akan digunakan untuk mengangkut amunisi militer pada masa mendatang.