The Economist Inggris merilis “Taking Taiwan’s Democracy Hostage” pada tanggal 11 Agustus lalu, Juru Bicara Istana Presiden Karen Kuo (郭雅慧) hari ini (13/8) mengemukakan, artikel tersebut secara tegas menyatakan bahwa tindakan partai oposisi yang menghambat rencana pengembangan industri drone dalam negeri merupakan "tindakan sabotase diri yang drastis" yang akan sangat merugikan kepentingan Taiwan. Pihak-pihak yang memiliki agenda tersembunyi tidak boleh dengan sengaja memutarbalikkan fakta mengenai isu-isu utama tersebut.
Karen Kuo dalam wawancara hari ini (13/8) menyampaikan, inti dari artikel The Economist ini adalah memperingkatkan Taiwan bahwa pertikaian politik di Taiwan membuat semakin sulit mengelola negara, melemahkan kinerja pemerintahan, kemampuan pertahanan, serta ketahanan demokrasi, dan pada akhirnya menjadikan Tiongkok sebagai pihak yang paling diuntungkan.
Karen Kuo mengemukakan, artikel tersebut dengan tegas menyampaikan kalau tindakan partai oposisi yang menghambat rencana pengembangan industri drone dalam negeri merupakan "tindakan sabotase diri yang drastis" yang akan sangat merugikan kepentingan Taiwan; pihak-pihak yang memiliki agenda tersembunyi tidak boleh dengan sengaja memutarbalikkan pokok persoalan.
Karen Kuo menyampaikan, yang diperhatikan masyarakat internasional adalah apakah Taiwan dapat menghentikan pertikaian politik internalnya sehingga anggaran pemerintah, angkatan bersenjata nasional serta pengembangan industri drone dapat beroperasi secara normal. Menghadapi Tiongkok yang terus meningkatkan ancaman, partai oposisi seharusnya menanggapi dengan mementingkan keuntungan negara dan kesejahteraan rakyatnya, bersama-sama melindungi demokrasi yang tidak mudah didapatkan dan keamanan negara. Jika hanya menyoroti kata-kata tertentu dan mengalihkan fokus artikel maka akan mengaburkan pesan yang sebenarnya dari komunitas internasional mengenai ketangguhan demokrasi Taiwan.