(Taiwan, ROC) -- Radio BBC World Service dalam acara berita Newshour pada Kamis (13/8) waktu setempat menyiarkan wawancara khusus dengan Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung (林佳龍) yang mengungkit, hubungan Taiwan dan Amerika Serikat selama jangka panjang berlandaskan pada kelembagaan, Taiwan memiliki keyakinan kalau Amerika Serikat akan terus menjual persenjataan militer ke Taiwan berdasarkan pada “Undang-Undangan Hubungan Taiwan” untuk menjamin Taiwan memiliki kemampuan pertahanan dirinya.
Selain itu, Lin Chia-lung menegaskan, Tiongkok meluaskan kegiatan militer dalam kawasan tidak hanya memberikan ancaman pada Taiwan, melainkan juga ke semua yang berada dalam kawasan tersebut. Negara demokrasi dan memiliki kesepahaman serupa di kawasan gugusan pulau di garis pertama dan kawasan Indo Pasifik harus bekerja sama untuk berjuang melakukan perlawanan, menolak ancaman otoritarisnisme dari Beijing.
Dalam wawancara BBC menelusuri keyakinan Taiwan terhadap AS dari berbagai sudut pandang yang berbeda, seperti mengenai kesediaan dan kemampuan di mana konflik Timur Tengah memengaruhi persediaan persenjataan Amerika Seriakat dan penjualan persenjataan militernya ke Taiwan, pengerahan Amerika Serikat di kawasan Indo Pasifik, dan sikap Amerika Serikat untuk turut campur dalam penanganan ketegangan Antar Selat Taiwan.
Lin Chia-lung mengatakan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyetujui penjualan senjata militer secara besar-besaran dengan nilai mencapai US$11 miliar ke Taiwan pada tahun lalu. Terkait proyek penjualan persenjataan militer lainnya dengan nilai mencapai US$14 miliar, di mana Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio telah secara terbuka menyampaikan kalau proyek ini tengah berada dalam tahap peninjauan.
Menlu Lin menegaskan, peninjauan bukan berarti “penghentian”, “Kami memiliki keyakinan penuh kalau‘Amerika Serikat” akan terus menjual persenjataan militernya.”
Lin Chia-lung mengemukakan, Pemerintah Donald Trump telah berkali-kali menegaskan kalau kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan “tidak pernah berubah”. Usai rapat pertemuan Donald Trump dan Pemimpin Tiongkok Xi Jin-ping (習近平) pada Mei lalu, pihak Taiwan beranggap hubungan Taiwan dan Amerika Serikat dapat lebih maju.
Selama masa rapat pertemuan, Xi Jin-ping sempat “memperingatkan” pihak Amerika Serikat, harus menyelesaikan masalah Taiwan dengan hati-hati. Lin Chia-lung menegaskan BBC, Taiwan tidak seharusnya digunakan sebagai alat negosiasi, tindakan yang paling menguntungkan bagi Amerika Serikat adalah tidak membiarkan Taiwan diletakan dalam meja pembahasan.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth dalam Forum Keamanan Asia Pasifik “Dialog Shangrila” di Singapura pada Mei lalu mengungkapkan, hubungan sekutu dan kemitraan seharusnya berdasarkan pada landasan kenyataan dari “kekuasaan” dan “keuntungan”, Amerika Serikat tidak akan lagi “memberikan subsidi kepada negara-negara makmur”. BBC juga menanyakan bagaimana penafsiran Lin Chia-lung terhadap apa yang disampaikan Pete Hegseth.
Lin Chia-lung mengemukakan, yang penting adalah “berbagi tanggung jawab”, Taiwan telah berupaya untuk dapat menambah anggaran pertahanannya, jumlahnya telah mencapai 3,32% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB), diperkirakan akan mencapai 5 % PDB pada tahun 2030 mendatang, hal ini untuk pencegahan Tiongkok mengagresi Taiwan.
Menanggapi pertanyaan BBC terkait kemungkinan adanya kontak telepon langsung antara kedua pemimpin Amerika Serikat dan Taiwan, Lin Chia-lung menyampaikan, “Mempertimbangkan halangan dari pihak Beijing, ini adalah isu sensitive, tetapi kami sangat bersedia menerima telepon dari Presiden Donald Trump”.
Lin Chia-lung mengemukakan, Taiwan tengah berupaya agar situasi Antar Selat Taiwan stabil, untuk itu “ada keharusan berkomunikasi langsung dengan para pemimpin negara”.