Pemungutan suara untuk "Undang-Undang Pengadaan Drone" yang sangat penting bagi kemandirian pertahanan dan pengembangan industri Taiwan, paling cepat akan berlangsung pada tanggal 28 Agustus. Wakil Presiden Hsiao Bi-khim dalam wawancaranya menegaskan, membangun kemampuan drone telah menjadi “hal sangat mendesak” bagi Taiwan, terlebih tidak boleh membiarkan Beijing salah menilai tekad Taiwan pertahanan mandirinya, Hsiao Bi-khim mengimbau Yuan Legislatif dapat mendukung rencana yang dapat dilaksanakan dan dengan tindakan membuktikan kemampuan dan tekad Taiwan.
Mengenai ada orang yang meragukan Taiwan sudah sangat terlambat dalam mengembangkan kemampuan dronenya, terlalu lamban, Wapres mengatakan bahwa ia memiliki keyakinan “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”, dengan kemampuan Taiwan pasti dapat dengan cepat mengejar ketinggalannya.
Dari perang Rusia – Ukraina dan konflik Timur Tengah, drone (kendaraan udara tanpa awal (unmanned Aerial Vehicle/UAV) sudah menjadi kekuatan tempur asimetris penting dalam peperangan modern. Wakil Presiden Hsiao Bi-khim ketika menerima wawancara bersama dari Radio Taiwan Internasional (Rti) dan Central News Agency (CNA), secara khusus menganalisa mendesaknya investasi pengembangan UAV Taiwan dari 3 aspek yaitu“militer”, “keamanan demokrasi”, dan “perkembangan industri”.
Pertama-tama mengupas dari “militer”, Wapres menyampaikan, dari invasi Rusia ke Ukraina, UAV telah menjadi kemampuan perang asimetris yang penting bagi Ukraina. Pada konflik Timur Tengah belakangan ini juga dapat melihat UAV secara bertahap telah menjadi peralatan penting dalam peperangan modern. Selain itu, Eropa, Polandia dan negara-negara tetangga Rusia lainnya tengah menghadapi invasi drone, fasilitas energi dan pusat data di banyak negera Timur Tengah juga menjadi sasaran serangan drone, untuk itu Taiwan sudah seharusnya lebih serius dalam menangani kemampuan pertahanan mandirinya.
Wapres Hsiao menegaskan, masyarakat internasional terus memprihatinkan Taiwan yang menghadapi tekanan, ancaman senjata dan invasi zona abu-abu dari Tiongkok. Saat menerima tamu asing, beliau juga sering ditanyakan “Apakah tekad hati untuk melindungi negara sendiri benar-benar ada?” Hsiao Bi-khim menggunakan contoh serangan Rusia pada Ukraina, menyampaikan, pada saat Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan untuk menyerang Ukraina, mungkin ia terlalu percaya diri, salah menilai situasi, oleh karena itu Taiwan tidak boleh membiarkan Rezim Tiongkok salah menilai tekad hati Taiwan dalam pertahanan mandirinya.
Wapres menekankan, strategi Taiwan adalah menangkis (deterrence), harus menaikan tinggi ambang batas dan tingkat kesulitan dalam menginvasi Taiwan. Hsiao Bi-khim mengatakan, “Meningkatkan tinggi tingkat kesulitan menginvasi Taiwan, sehingga siapapun yang ingin invasi atau menggunakan senjata menginvasi kita, mereka mengetahui tingkat kesulitannya tinggi, maka selamanya tidak ada waktu yang tepat untuk menginvasi Taiwan. Untuk itu dari strategi peperangan, kami secepatnya, segera mengembangkan kemampuan drone sebagai kekuatan pertahan mandiri merupakan hal yang mendesak, tidak boleh tertunda.”
Yuan Eksekutif beberapa hari lalu mengusung “Peraturan Khsusu Pengadaan Drone” dengan cakupan mencapai NT$120 milyar untuk memperkuat kemampuan tempur UAV secepatnya. Namun sehubungan Kementerian Pertahanan sudah berkali-kali, juga membuat dunia luar meragukan kepentingan dari alokasi anggaran pengadaan yang begitu besar.
Untuk hal ini, Wakil Presiden Hsiao menyampaikan, melihat dari pengalaman perang Rusia – Ukraina, UAV sudah menjadi kekuatan tempur asimetris penting bagi Ukraina, UAV tidak saja terus mengalami iterasi dan inovasi, tidak saja pada kemajuan teknologi, melainkan sebuah perkembangan yang memengaruhi perang secara keseluruham pegumpulan intelejen, logistik bahkan perencanaan strategis.
Wapres Hsiao juga memberi contoh, April tahun ini Jerman mengelar pelatihan militer“Combined Resolve” dengan 3500 tentara Amerika Serikat membentuk Armored Brigade dan mengalami kekalahan telak di tangan pasukan lawan yang diperankan oleh pasukan drone Ukraina. Ia beranggapan kemampuan untuk memanfaatkan kekuatan kecil untuk mencapai hasil luar biasa, bahkan teknik perang baru, semua ini adalah hal yang tengah diamati strategi lingkungan global saat ini.
Selain perang, banyak negara yang juga menghadapi berbagai bentuk gangguan risiko regional atau taktik zona abu-abu, karena itu pengembangan kemampuan UAV juga telah menjadi kesepakatan bersama. Wapres Hsiao Bi-khim mengatakan, “Negara-negara Eropa yang bertetanggaan dengan Rusia juga ini membangung yang disebut ‘tembok drone’ yaitu “tembok besar drone” sebagai suatu pertahanan penting terhadap risiko kemungkinan meluasnya invasi Rusai. Selain itu, kita juga melihat banyak negara lainnya, Jerman dan Jepang juga bekerja sama ingin memproduksi dan mengembangkan UAV.”
Wakil presiden menegaskan, posisi Taiwan yang berada pusat gugusan barisan pulau pertama, menghadapi Tiongkok yang terus menekan, berbagai gangguan di zona abu-abu, bahkan ancaman senjata, tentu saja harus legih ketat untuk menangani kekuatan pertahanan mandiri. Negara-negara dunia telah beranggapan bahw UAV adalah kekuatan militer baru yang tidak boleh kurang apalagi tidak ada, untuk itu Taiwan hars semakin mempercepat menggerakannya.
Sementara pada bagian “keamanan demokrasi”, Hsiao Bi-khim mengemukakan, dari gempa dashyat Hualien 03 April, insiden meluapnya sungai Mataian dan Wanli, dari sini dapat melihat drone dapat memberikan pertolongan korban bencana, untuk itu harus secepatnya terpenuhi. Selain itu tugas seperti menginspeksi pabrik, peninjauan keamanan jembatan dan lainnya, juga mungkin melalui drone dapat memperpendek waktu, mengurangi penggunaan tenaga kerja.
Mengenai “pengembangan industri”, Hsiao Bi-khim berterus terang, Taiwan memang lebih lambat dalam memulai industri drone dibandingkan dengan negara-negara lainnya, tetapi ia sangat yakin dengan industri Taiwan, yakin nantinya pasti dapat mengejarnya, tetapi sepertinya yang diungkapan di depan tadi, anggaran dan permintaan dalam negeri harus mencukupi.
Terlebih drone Tiongkok di pasar global, dengan cakupan produk yan besar, harga bersaing sehingga tingkat cakupan pasar tinggi. Wapres beranggapan, Taiwan sebagai “Rantai pasokan non red”, berbagai jenis kemampuan juga secara bertahap telah dilihat oleh intrnasional, menjadi target pembeli dari banyak negara-negara internasional, dan pabrik internasional juga dengan berlandaskan pada kredibilitas Taiwan, mengetahui bahwa Taiwan memiliki kemampuan riset dan kapasitas produksi sehingga memilih membantu industri Taiwan.
Wakil presiden lebih lanjut menegaskan, seiring dengan semakin meluasnya penggunaan kecerdasan buatan, berbagai penerapan kecerdasan buatan di bidang drone sangat dinantikan, Tawian dapat memainkan peran kunci dalam pemenuhan kebutuhan atas aplikasi-aplikasi yang sedang berkembang ini.
Wakil Presiden Hsiao Bi-khim menegaskan, kecepatan iterasi UAV, jika anggaran terkait terus terlambat atau dipangkas, “Setiap terlambat 1 bulan maka Taiwan akan kehilangan peluang 1 bulan dari segi teknologi atau pengembangan kapasitas.” Bersamaan dengan itu juga mengikis kepercayaan mitra internasional terhadap Taiwan. Ia mengimbau Yuan Legislatif dan warga Taiwan untuk memberikan dukungan bagi Yuan Eksekutif untuk menjalankan program yang dapat dijalankan tanpa membedakan partai, juga diyakini drone Taiwan pasti dapat memainkan peran kunci di panggung global, serta memperlihatkan tekad dan kemampuan Taiwan melalui tindakan nyata.
Jika kemampuan kami mempertahankan kekuatan perang asimetris berbasis pada teknologi canggih dipangkas, bahkan disalahnilaikan, dinilai sebagai Taiwan sangat mudah dijatuhkan. Saya rasa risiko seperti ini sangatlah besar, juga sangat membahayakan kami.
Setiap negara memproduksi drone dan perkembangannya juga sangat cepat, setiap menunda satu bulan, maka sebenarnya kita akan kehilangan peluang satu bulan dalam hal teknologi atau perkembangan kemampuannya, benar-benar tidak boleh tertunda. Dari sudut keamanan diri, menghindari kesalahan penilaian dari berbagai pihak terhadap tekad Taiwan dari sudut pertahanan mandiri, atau mungkin dari segi energy kerja sama dengan internasional, kami benar-benar perlu memanfaatkan kemampuan negara untuk mengerakkan perkembangan industri seperti ini dan keamanan nasional kami. Saya rasa keamanan negara tidak membedakan warna, keamanan dan sains tidak membedakan warna, juga tidak seharusnya dijadikan sebagai alat untuk persaingan politik, untuk itu berharap semua pihak memberikan dukungan, agar industri drone Taiwan dapat semakin baik, kita semua akan semakin baik, saya yakin kita semua akan semakin aman, semakin merasa aman, juga akan semakin memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan teknologi dan manufaktur Taiwan.