Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Українська Panduan website

“Dialog Keamanan Taipei 2026”, Raymond F. Greene: Kemampuan Membela Diri adalah Kunci Dialog Lintas Selat  

09/09/2026 13:58
Penulis & Editor: Yunus Hendry
“Dialog Keamanan Taipei 2026”, Raymond F. Greene: Kemampuan Membela Diri adalah Kunci Dialog Lintas Selat (Foto: CNA)
“Dialog Keamanan Taipei 2026”, Raymond F. Greene: Kemampuan Membela Diri adalah Kunci Dialog Lintas Selat (Foto: CNA)

“Dialog Keamanan Taipei 2026” dimulai secara resmi pada hari ini (9/9), membawa para pakar dan peneliti dari berbagai negara untuk fokus dengan berbagai isu, seperti keamanan Indo-Pasifik dan perluasan otoritarianisme. Dalam pertemuan tersebut, Direktur Institut Amerika di Taiwan (AIT), Raymond F. Greene menunjukkan, bahwa mempertahankan stabilitas di Indo-Pasifik merupakan hal yang penting bagi Amerika Serikat (AS). Ia menyampaikan, jika terjadi konflik di Selat Taiwan, dampak ekonominya akan lebih besar daripada saat Perang Dunia II. Ia juga menekankan, bahwa Taiwan yang memperkuat kemampuan pertahanan diri bukanlah sebuah provokasi, tapi kunci untuk membuat dialog yang setara antar kedua belah pihak di Selat Taiwan.

 “Dialog Keamanan Taipei 2026” yang diselenggarakan oleh Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional (INDSR) diadakan pada 9 September, bertempat di Grand Hyatt Taipei. Forum ini membawa para petinggi keamanan, tokoh penting, dan para pakar dari Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, Jerman, Ukraina, Polandia, dan berbagai negara lainnya untuk melakukan dialog keamanan lintas kawasan yang mendalam tentang topik-topik seperti pengalaman perang, selat-selat utama, sistem tanpa awak, dan ancaman zona abu-abu.

Kepala INDSR, Huoh Shoou-yeh (霍守業) menunjukkan, bahwa tema dialog di tahun ini adalah “Membangun Konsensus Global: Cetak Biru Keamanan Bersama untuk Kawasan Indo-Pasifik," menekankan bahwa untuk menghadapi pencobaan otoritarianisme untuk mengubah status quo secara sepihak, aliansi demokrasi harus mengubah kekhawatiran geopolitiknya menjadi konsensus keamanan global. Huoh Shoou-yeh mengatakan, “aliansi negara-negara otoriter telah membentuk “poros ketidakstabilan” dengan tujuan melemahkan tatanan keamanan yang ada. Kita wajib berganti dari pendekatan pasif menjadi proaktif, menggunakan “pencegahan terpadu” untuk membangun jaringan pertahanan yang tangguh.

Direktur AIT, Raymond F. Greene juga menjadi pembicara kunci dalam pertemuan ini. Ia menyatakan, mempertahankan perdamaian di wilayah Indo-Pasifik merupakan prioritas utama untuk AS, sebab jika terjadi konflik di Selat Taiwan, dampaknya untuk ekonomi glonal dapat lebih besar daripada Perang Dunia II. Untuk itu, AS mempertahankan stabilitas regional dari 3 perspektif; antara lain menghindari kesalahan perhitungan melalui komunikasi diplomatik, memperkuat mitra keamanan di antara negara-negara dalam rantai pulau pertama dan mendukung penuh Taiwan dalam meningkatkan kemampuan pertahanan diri.

Raymond F. Greene juga menekankan, bahwa beberapa orang percaya Taiwan yang memperkuat kemampuan pertahanan diri merupakan bentuk “provokasi”, tapi hal ini kontras dengan fakta, karena kemampuan untuk mencegah konflik secara efektif merupakan kunci untuk membuat dialog lintas selat. Greene mengatakan, “kemampuan Taiwan untuk mencegah konflik selalu, dan akan terus ada, menjadi fundamental untuk mempertahankan sistem politik, ekonomi, dan sosialnya yang berkembang. Kami juga percaya, bahwa pencegahan yang efektif adalah kunci untuk menciptakan dialog lintas selat yang tulus, memungkinkan kedua belah pihak untuk menyelesaikan perbedaan mereka tanpa paksaan atau ancaman kekerasan.”

Greene juga menunjukkan, bahwa kita sekarang sedang masuk ke era “perang asimetris.” Untuk mencegah konflik, Taiwan tidak hanya memiliki akses ke kekayaan pengalaman perang modern, tetapi juga memiliki basis teknologi dan manufaktur yang kuat, keuangan yang kokoh, militer yang sangat terampil, dan keunggulan geografis yang luar biasa.

Greene menyatakan, bahwa AS mengakui pertumbuhan Taiwan yang signifikan dalam kemampuan pencegahan sejak 2022, tapi kedua pihak tidak boleh berpuas diri dengan pencapaian yang ada. Pelajaran yang dipetik dari kerugian besar di Ukraina, Rusia, atau Timur Tengah harus diintegrasikan ke dalam kesiapan operasional Taiwan untuk memastikan bahwa pelajaran ini tidak pernah terulang di Taiwan. Tujuan Taiwan dan AS bukanlah untuk menang dalam konflik, tetapi untuk sepenuhnya mencegah terjadinya konflik.

We use cookies to provide you with a better browsing experience.

By continuing to browse this site, you agree to our Cookie Policy. Learn more about our Privacy Policy

I understand
00:00
00:00
0.5x 1x 1.5x 2x