Mengenai pertahanan diri dan ketangguhan ekonomi Taiwan, Wakil Menteri Luar Negeri Wu Chih-chung (吳志中) dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media Prancis menyatakan bahwa pada tahun 2025, pesawat militer Tiongkok telah memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Taiwan sebanyak lebih dari 5.000 kali.
Oleh karena itu, Taiwan harus menyadarkan komunitas internasional mengenai keseriusan ancaman Tiongkok, serta pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Taiwan juga harus menunjukkan kepada dunia bahwa mereka telah bersiap sepenuhnya, serta harus mendesak Beijing untuk memahami bahwa keputusan untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan akan mendatangkan konsekuensi dan harga yang terlalu mahal untuk ditanggung melalui penguatan kapasitas pertahanan diri.
Stasiun televisi Prancis, France 2, menayangkan sebuah laporan khusus mengenai kesiapan Taiwan dalam menghadapi ancaman militer Tiongkok serta penguatan ketangguhan pertahanan seluruh elemen masyarakat.
Kementerian Luar Negeri (MOFA) di Taiwan pada Kamis hari ini (10/9) menyatakan bahwa laporan tersebut memuat wawancara mendalam dengan Wakil Menteri Luar Negeri Wu Chih-chung yang memberikan penjelasan mendalam mengenai pertahanan dan ketangguhan ekonomi Taiwan, industri semikonduktor, serta pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
Mengacu pada konsep efek jera Prancis yang menekankan prinsip yang lemah menangkal yang kuat, Wakil Menteri Wu Chih-chung menunjukkan bahwa tujuan Taiwan bukanlah untuk terlibat dalam perang melawan Tiongkok, melainkan untuk secara efektif menangkal agresi dan mencegah terjadinya perang melalui penguatan kapasitas pertahanan diri.
Peningkatan investasi pertahanan yang dilakukan Taiwan secara berkelanjutan juga menjadi langkah nyata untuk menunjukkan tekad pertahanan diri kepada komunitas internasional.
Wu Chih-chung kembali menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan bukan sekadar masalah domestik Taiwan sendiri. Sistem demokrasi serta industri semikonduktor Taiwan berkaitan erat dengan kepentingan bersama komunitas internasional.
Jika Selat Taiwan sampai diblokade, maka perekonomian Jepang, Korea Selatan, Asia Tenggara, bahkan dunia akan mengalami dampak yang sangat serius. Oleh karena itu, menjaga perdamaian di Selat Taiwan bukanlah bentuk bantuan sepihak untuk Taiwan, melainkan langkah nyata untuk melindungi kepentingan nasional masing-masing negara serta stabilitas regional bersama.
Wu Chih-chung menekankan bahwa Taiwan tidak pernah menjadi bagian dari Republik Rakyat Tiongkok. Dengan demikian, ambisi Tiongkok terhadap Taiwan bukanlah sebuah upaya pemulihan wilayah, melainkan sebuah tindakan penaklukan.
Taiwan berada di posisi kunci rantai pulau pertama serta memiliki industri semikonduktor tercanggih yang sangat penting bagi dunia, sehingga memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Selain itu, perkembangan demokrasi di Taiwan juga membuktikan bahwa masyarakat berbahasa Mandarin mampu mempraktikkan nilai-nilai universal seperti demokrasi, kebebasan, dan pemilu yang bebas.