Alkisah, pada pengujung Dinasti Qin, Liu Bang (劉邦) yang kelak menjadi Kaisar Gaozu dari Han dan Xiang Yu (項羽) sang Penguasa Chu Barat terlibat dalam serangkaian pertempuran sengit. Pada akhirnya, Liu Bang-lah yang berhasil keluar sebagai pemenang dan menyatukan Tiongkok di bawah panjinya.
Ketika ia kembali ke kampung halamannya dengan penuh kemenangan, terbersit keinginan untuk menziarahi makam kedua orang tuanya. Namun, perang yang berkecamuk begitu lama telah mengubah wajah tanah kelahirannya.
Kompleks pemakaman ditumbuhi ilalang liar, batu-batu nisan miring tak beraturan, sebagian bahkan patah atau retak, membuat tulisan yang terukir di atasnya tak lagi dapat dikenali.
Hati Liu Bang dirundung kesedihan yang mendalam. Meskipun para bawahannya telah membantunya membalikkan setiap nisan yang ada, hingga mentari condong ke ufuk barat, makam orang tuanya tak kunjung ditemukan.
Dalam keputusasaan, Liu Bang merogoh selembar kertas dari balik lengan bajunya. Ia merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil, menggenggamnya erat, lalu menengadah ke langit seraya berdoa, “Jika Ayah dan Ibu memiliki arwah di surga, saksikanlah kini angin bertiup begitu kencang. Hamba akan menebarkan serpihan kertas ini ke udara. Jika serpihan-serpihan itu jatuh di satu tempat dan tak mampu diterbangkan angin, di sanalah letak pusara Ayah dan Ibu.”
Usai berucap, Liu Bang melemparkan serpihan kertas itu ke angkasa. Benar saja, ada sekelompok kecil serpihan kertas yang jatuh di atas sebuah makam dan menempel erat, tak bergerak sedikit pun meski diembus angin kencang. Liu Bang bergegas mendekat. Ia mengamati dengan saksama batu nisan yang tampak samar itu, dan di sanalah ia melihat nama kedua orang tuanya terukir.
Kegembiraan meluap di hati Liu Bang. Ia segera memerintahkan orang-orangnya untuk memugar kembali makam orang tuanya. Sejak saat itu, setiap perayaan Festival Qingming (Ceng Beng), ia tak pernah absen untuk datang berziarah.
Rakyat jelata pun kemudian mengikuti jejak Liu Bang. Setiap tahun pada Festival Qingming, mereka pergi menziarahi makam leluhur dan menindih beberapa lembar kertas dengan gumpalan tanah kecil di atas makam. Ini menjadi sebuah penanda bahwa makam tersebut masih memiliki keturunan yang merawat dan menziarahinya.
Dalam keputusasaan, Liu Bang merogoh selembar kertas dari balik lengan bajunya. Ia merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil, menggenggamnya erat, lalu menengadah ke langit seraya berdoa. Foto: AI Generated
Kisah Terkait Festival Qingming - Festival Makanan Dingin (Hanshi寒食節)
Festival Makanan Dingin (Hanshi) adalah sebuah perayaan untuk mengenang kisah mengharukan Jie Zi-tui (介之推) yang dengan setia melindungi rajanya.
Legenda bertutur bahwa pada Zaman Musim Semi dan Gugur, Selir Li (驪妃), istri kesayangan Adipati Xian (獻) dari Negara Jin, berambisi menjadikan putranya sebagai pewaris takhta. Ia membunuh Putra Mahkota Shensheng (申生) dan berencana menjebak putra Adipati Xian yang lain, Chong'er (重耳). Demi menghindari penganiayaan Selir Li, Chong'er terpaksa melarikan diri dari Negara Jin.
Suatu hari, Pangeran Chong'er dan pengikutnya tersesat di pegunungan dan tak makan selama beberapa hari. Melihat sang pangeran kelaparan, seorang menteri bernama Jie Zi-tui yang turut mengawalnya, memotong sekerat daging dari pahanya sendiri. Ia memasaknya dan memberikannya kepada Chong'er untuk mengganjal perut.
Setelah hidup dalam pengasingan selama 19 tahun, Chong'er akhirnya kembali ke negaranya dan naik takhta menjadi Adipati Wen dari Jin, salah satu dari Lima Hegemoni pada masa itu. Adipati Wen kemudian menganugerahkan gelar dan hadiah kepada para menteri yang setia menemaninya dalam pengasingan, satu per satu.
Setelah diingatkan oleh orang lain, barulah Adipati Wen teringat akan pengorbanan Jie Zi-tui di masa lalu dan merasa sangat bersalah. Ia pun pergi sendiri ke kampung halaman Jie Zi-tui di Gunung Mian untuk mencarinya, tetapi tak menemukan jejaknya sama sekali.
Karena Jie Zi-tui terkenal sebagai anak yang sangat berbakti, seseorang memberikan saran agar gunung itu dibakar, dengan harapan Jie Zi-tui pasti akan keluar demi menyelamatkan ibunya.
Adipati Wen pun memerintahkan pembakaran Gunung Mian. Api berkobar hebat selama tiga hari tiga malam, tapi Jie Zi-tui tak kunjung menampakkan diri. Setelah api padam, orang-orang menemukan Jie Zi-tui dan ibunya tewas terbakar di bawah sebatang pohon willow. Di dekatnya, ditemukan secarik kain yang bertuliskan surat darah.
Adipati Wen sangat berduka. Ia segera memerintahkan agar Gunung Mian diubah namanya menjadi Gunung Jie, dan menetapkan hari kematian Jie Zi-tui sebagai Festival Makanan Dingin (Hanshi). Sejak saat itu, setiap tahun pada hari tersebut, rakyat dilarang menyalakan api dan hanya boleh menyantap makanan dingin sebagai tanda peringatan.
Pada Festival Makanan Dingin tahun berikutnya, Adipati Wen pergi ke Gunung Jie untuk memberikan penghormatan kepada Jie Zi-tui. Ia berpuasa makanan dingin di kaki gunung selama sehari, dan baru naik ke puncak pada hari kedua. Di sana, ia menemukan bahwa pohon willow yang hangus terbakar itu telah menumbuhkan tunas-tunas hijau yang segar.
Adipati Wen berjalan mendekat, mematahkan setangkai ranting willow, lalu menganyamnya menjadi sebuah lingkaran dan mengenakannya di kepala. Para menteri yang mengikutinya pun menirunya. Maka, Adipati Wen menamai pohon willow tersebut Willow Qingming (secara harfiah berarti Willow jernih dan terang), dan menetapkan hari itu sebagai Festival Qingming.
Karena Jie Zi-tui terkenal sebagai anak yang sangat berbakti, seseorang memberikan saran agar gunung itu dibakar, dengan harapan Jie Zi-tui pasti akan keluar demi menyelamatkan ibunya. Foto: AI Generated
Setiap tiba masa Qingming, orang-orang menganyam ranting willow menjadi lingkaran untuk dikenakan di kepala, serta menancapkan ranting willow di depan dan belakang rumah sebagai tanda kenangan. Inilah asal usul kebiasaan mematahkan dan menyematkan willow saat Qingming.
Sebelum Dinasti Song, Qingming hanyalah festival sekunder yang melekat pada kebiasaan Festival Makanan Dingin. Bahkan, festival ini tidak sebanding dengan Double Third Festival (上巳節) pada tanggal 3 bulan 3 Imlek. Kegiatan menyapu makam pada Festival Qingming baru muncul setelah Dinasti Song.
Namun, karena tanggal ketiga festival tersebut, Double Third Festival, Festival Makanan Dingin, dan Festival Qingming, sangat berdekatan, kebiasaan-kebiasaan di dalamnya saling memengaruhi dan tumpang tindih. Lambat laun, tidak ada lagi pembagian yang jelas, dan inilah yang membentuk Festival Qingming seperti yang kita kenal sekarang.
Sebagai sebuah festival, Qingming memiliki hubungan sekaligus perbedaan dengan Qingming sebagai salah satu dari 24 posisi matahari. Dari segi hubungan, Festival Qingming berevolusi dari posisi matahari Qingming. Di antara 24 posisi matahari, hanya Qingming dan Dongzhi (Titik Balik Matahari Musim Dingin) yang berevolusi menjadi festival. Dari segi perbedaan, posisi matahari hanyalah penanda urutan waktu, sedangkan festival mengandung adat istiadat dan makna peringatan.
Tradisi Festival Qingming. Foto: AI Generated
Adat Istiadat Festival Qingming
1. Menggantung Kertas (Gua Zhi 掛紙)
Saat melakukan Gua Zhi, langkah pertama adalah membersihkan rumput liar yang tumbuh di atas makam leluhur. Kemudian, kertas makam ditekan di atas gundukan makam menggunakan batu kecil atau bata. Ini menandakan bahwa makam tersebut memiliki keturunan yang merawatnya.
Jika tidak, makam itu bisa disalahartikan sebagai makam tak bertuan dan dirusak orang. Kertas makam kini umumnya terdiri dari lima warna (merah, kuning, biru, putih, hitam), yang melambangkan genteng rumah atau sebagai tanda bahwa anak cucu telah datang berziarah.
2. Memperbaiki Makam (Pei Mu培墓)
Ziarah makam pada Festival Qingming dapat dibagi menjadi dua ritual utama, Gua Zhi dan Pei Mu. Pei Mu berarti memperbaiki makam dan melakukan sembahyang. Dipercaya bahwa kondisi makam leluhur memiliki hubungan erat dengan kejayaan atau kemunduran anak cucu.
Oleh karena itu, keluarga kaya melakukannya setiap tahun. Waktu Pei Mu sering kali dilakukan menjelang Qingming. Rumput liar di atas makam dibersihkan, tanah ditimbun kembali, dan jika tulisan pada batu nisan sudah kabur, akan ditebalkan kembali dengan tinta merah.
Setelah perbaikan makam selesai, upacara sembahyang dimulai. Di depan makam disajikan berbagai persembahan seperti tiga atau lima jenis hewan, kertas emas, lilin, dua belas jenis sayuran, dan aneka kue.
Setelah persembahan ditata, dupa dinyalakan untuk menyembah Dewa Bumi penjaga makam, baru kemudian untuk leluhur. Setelah ritual selesai, telur ayam dan bebek dipecahkan di atas batu nisan, dan cangkangnya dibuang di atas gundukan makam, melambangkan pembaruan atau nasib baru.
3. Tamasya Musim Semi (Ta Qing 踏青)
Festival Qingming jatuh pada awal musim semi, waktu yang sangat baik untuk bertamasya. Orang-orang membawa bekal piknik dan berbondong-bondong menuju pinggiran kota untuk menikmati alam.
Pada zaman dahulu, para wanita yang biasanya tidak boleh keluar sembarangan, memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati pemandangan alam di luar.
4. Bermain Ayunan (Qiu Qian鞦韆)
Ayunan pada awalnya disebut Qian Qiu, diciptakan oleh suku Shanrong (山戎) pada masa Musim Semi dan Gugur. Pada masa Kaisar Wu dari Han, untuk menghindari tabu, namanya diubah menjadi Qiu Qian (秋千).
Pada Dinasti Tang, bermain ayunan sudah sangat umum dan menjadi kegiatan penting dalam Festival Makanan Dingin dan Festival Qingming, bahkan disebut oleh Kaisar Tang Xuanzong (唐玄宗) sebagai Permainan Setengah Dewa.
5. Sabung Ayam
Sabung ayam berasal dari zaman Musim Semi dan Gugur. Pada Dinasti Tang, kegiatan ini sangat populer. Tidak hanya ada arena sabung ayam di kalangan rakyat, bahkan Kaisar pun gemar memainkannya. Kaisar Tang Minghuang (唐明皇) bahkan mendirikan kandang ayam mewah di istana khusus untuk keperluan sabung ayam.
6. Menyematkan Willow
Masyarakat memiliki kebiasaan menyematkan atau memakai ranting willow pada Festival Qingming. Saat berziarah dan bertamasya, orang-orang sering mematahkan beberapa ranting willow untuk dibawa pulang, diselipkan di ambang pintu, atau dianyam menjadi topi. Ini dipercaya memiliki fungsi menolak bala, karena Qingming adalah salah satu dari tiga festival hantu besar di Tiongkok.
7. Menganugerahkan Api (Ci Huo賜火)
Karena pada Festival Makanan Dingin seluruh negeri dilarang menyalakan api, maka saat Qingming tiba, api harus dibuat ulang dengan mengebor kayu. Kaisar Dinasti Tang pada hari ini mengadakan upacara penganugerahan api yang megah, memberikan api baru kepada para pejabat sebagai tanda kasih sayang.
8. Tarik Tambang
Tarik tambang ditemukan pada zaman Musim Semi dan Gugur, yang saat itu disebut Qian Gou (牽鉤). Tujuannya adalah untuk memperkuat fisik. Awalnya populer di kalangan tentara, kemudian menyebar ke rakyat jelata. Pada masa Kaisar Tang Xuanzong, pernah diadakan kompetisi tarik tambang skala besar saat Festival Qingming, yang kemudian menjadi sebuah adat kebiasaan.