Di antara jajaran Bodhisattva agung dalam Buddhisme Mahayana, sosok Bodhisattva Ksitigarbha menempati posisi yang unik dan sentral, khususnya dalam tradisi Buddhisme Tiongkok dan Tibet. Dikenal pula sebagai Bodhisattva Raja Ksitigarbha (Di Zang Wang Pu Sa), ia disejajarkan dengan Dewi Kwan Im, sebagai salah satu dari Empat Bodhisattva Agung, yang ikrar dan welas asihnya menggema melintasi zaman.
Di balik nama Ksitigarbha, tersimpan makna filosofis yang mendalam. Nama Sanskertanya, Kṣitigarbha, merupakan gabungan dari kata Kṣiti yang berarti bumi, tempat tinggal, atau tanah, dan garbha yang berarti rahim, kandungan, atau perbendaharaan.
Terjemahan harfiahnya adalah Rahim Bumi atau Perbendaharaan Bumi. Nama ini dianugerahkan karena ketenangan dan kesabarannya tak tergoyahkan bagaikan bumi yang luas, meditasi dan kebijaksanaannya dalam serta tersembunyi bagaikan perbendaharaan rahasia.
Nama ini menyiratkan kebajikan agung yang mampu mengasuh segala sesuatu, laksana bumi yang menjadi sumber kehidupan. Gelar yang paling populer di tanah Tiongkok adalah Bodhisattva Raja Ksitigarbha, yang menyiratkan kekuasaannya atas alam baka. Namun, ikrarnya yang paling menggugah adalah, “Setelah semua makhluk hidup tertolong, barulah mencapai Bodhi. Jika neraka belum kosong, bersumpah tidak akan menjadi Buddha.”
Ikrar inilah yang membuatnya dihormati sebagai "Bodhisattva Raja Ksitigarbha Ikrar Agung".
Jejak keyakinan terhadap sosok agung ini kemungkinan berakar dari pemujaan Dewi Bumi, Prthivī, di India kuno, yang seiring waktu terintegrasi ke dalam ajaran Mahayana dan statusnya meningkat menjadi Bodhisattva.
Perkembangan awalnya di India tidak tercatat dengan jelas, bahkan dalam catatan perjalanan para biksu agung Dinasti Tang seperti Faxian dan Xuanzang, tidak ditemukan adanya laporan mengenai pemujaan Ksitigarbha.
Namun, keyakinan ini memiliki hubungan erat dengan aliran pemikiran Benih Kebuddhaan, yang memandang bahwa semua makhluk hidup pada hakikatnya memiliki potensi untuk mencapai pencerahan. Ikrar untuk menunda Nirvananya sendiri demi menolong semua makhluk mencerminkan pemikiran ini.
Nama Sanskertanya, Kṣitigarbha, merupakan gabungan dari kata Kṣiti yang berarti bumi, tempat tinggal, atau tanah, dan garbha yang berarti rahim, kandungan, atau perbendaharaan. Foto: AI Generated
Di Tiongkok, namanya mulai muncul dalam terjemahan sutra-sutra pada masa Dinasti Selatan dan Utara. Keyakinannya berkembang pesat pada masa Dinasti Sui dan Tang, terutama setelah Sutra Sepuluh Roda dipopulerkan.
Memasuki pertengahan Dinasti Tang, perannya bergeser dari sekadar pemenuhan harapan duniawi menjadi penyelamat di kehidupan mendatang, khususnya bagi mereka yang menderita di alam baka.
Pada akhir Dinasti Tang, pengaruh sutra-sutra yang berkembang di kala itu, menempatkannya sebagai penguasa tertinggi di dunia arwah, bahkan di atas Raja Yama.
Penggambaran Bodhisattva Ksitigarbha sangat kaya dan beragam. Wujudnya yang paling umum dan ikonik adalah sebagai seorang biksu dengan kepala gundul, tangan kanannya memegang tongkat timah bergemerincing yang berfungsi membuka gerbang neraka, dan tangan kirinya memegang permata pengabul harapan yang cahayanya mampu menerangi kegelapan alam baka.
Variasi lain yang populer adalah wujud biksu dengan kepala tertutup tudung, yang kemunculannya kemungkinan terkait dengan kisah kembalinya arwah Biksu Daoming. Selain wujud biksu, Ksitigarbha juga digambarkan dalam bentuk Bodhisattva yang mengenakan mahkota dan perhiasan mewah, terutama dalam arca-arca awal di Gua Longmen.
Dalam tradisi Buddhisme Tantra, ia lebih sering tampil dalam wujud Bodhisattva, dengan warna tubuh kuning atau putih, memegang berbagai atribut seperti panji, vas permata, atau membentuk mudra (sikap tangan) welas asih.
Di Jepang, berkembang pula wujud Enam Jizo (Roku Jizo) yang masing-masing menyelamatkan makhluk di enam alam kehidupan, serta Shogun Jizo yang berwujud ksatria berbaju zirah menunggang kuda.
Wujudnya yang paling umum dan ikonik adalah sebagai seorang biksu dengan kepala gundul, tangan kanannya memegang tongkat timah bergemerincing yang berfungsi membuka gerbang neraka. Foto: AI Generated
Doktrin dan ajaran yang terkait dengan Bodhisattva Ksitigarbha berpusat pada welas asih tanpa batas dan hukum sebab-akibat (karma). Ia menerima amanat langsung dari Buddha Sakyamuni untuk membimbing semua makhluk di dunia Saha selama masa kekosongan Dharma, yaitu periode antara wafatnya Buddha Sakyamuni hingga kedatangan Buddha Maitreya.
Ikrar agungnya untuk tidak mencapai Kebuddhaan sebelum semua neraka kosong menjadi inti dari ajarannya. Ikrar ini lahir dari berbagai kehidupan lampaunya, seperti saat ia menjadi seorang putri Brahmana dan seorang wanita bernama Guang Mu, yang keduanya bersumpah untuk menolong ibu mereka yang jatuh ke alam penderitaan.
Kisah-kisah Ksitigarbha yang menyelamatkan ibunya di kehidupan lampau juga membuat ajarannya sangat selaras dengan budaya bakti (Xiao) dalam Konfusianisme, sehingga memudahkannya diterima secara luas oleh masyarakat Tiongkok. Di Jepang, kepercayaan Ksitigarbha berkembang pesat sejak zaman Heian.
Awalnya ia dipuja untuk manfaat duniawi seperti panjang umur, tapi seiring populernya ajaran Tanah Suci (Pure Land), perannya bergeser menjadi penyelamat di kehidupan mendatang.
Kisah-kisah Ksitigarbha yang menyelamatkan ibunya di kehidupan lampau juga membuat ajarannya sangat selaras dengan budaya bakti (Xiao) dalam Konfusianisme, sehingga memudahkannya diterima secara luas oleh masyarakat Tiongkok. Foto: AI Generated
Kepercayaan ini melahirkan berbagai wujud unik, seperti Shogun Jizo yang dipuja para samurai, dan Mizuko Jizo, sosok pelindung bagi arwah bayi yang meninggal sebelum lahir atau saat masih kecil, sebuah manifestasi welas asih yang sangat menyentuh.
Dalam kepercayaan rakyat Taiwan, ia juga didampingi oleh Jenderal Zeng (Penambah) dan Jenderal Sun (Pengurang), yang konon mampu menambah umur orang baik dan mengurangi umur orang jahat.
Kehadiran para pengiring ini semakin memperkaya narasi dan memperkuat posisi Bodhisattva Ksitigarbha sebagai sosok welas asih yang agung, sang penguasa alam baka yang tak kenal lelah berjuang demi pembebasan semua makhluk dari penderitaan.