Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Info Kita - Jangan Menjadi Ilegal Ketika Bekerja di Taiwan

26/03/2026 Info Kita (B)
Info Kita - Jangan Menjadi Ilegal Ketika Bekerja di Taiwan (Unsplash)
Info Kita - Jangan Menjadi Ilegal Ketika Bekerja di Taiwan (Unsplash)

Menyerahkan diri secara mandiri, denda dikurangi setengah

Beri satu kesempatan untuk diri sendiri - Segera pulang ke rumah
📍Harus tahu  Peraturan terbaru yang direvisi

Mulai 1 Oktober 2025, mengenai penetapan alasan khusus dan standar pengurangan denda pada Undang-Undang Keluar Masuk Negara dan Imigrasi Pasal 74-1, ditambahkan revisi bahwa jumlah nominal denda untuk warga negara asing atau warga negara tanpa registrasi rumah tangga yang sudah tidak memiliki izin dapat dikurangi (overstay) ½ uang denda bagi yang menyerahkan diri sebelum ditangkap oleh instansi keamanan

📍Harus bekerja sama   Perhatian tentang penyerahan diri secara mandiri
Jika Anda adalah warga negara asing atau warga negara tanpa registrasi rumah tangga yang tinggal melebihi batas waktu, kalua anda sudah menyerahkan diri kepade instansi keamanan.Anda tetap harus bekerja sama untuk melakukan tindakan di bawah ini.

Membayar denda

Mengurus dokumen perjalanan

Keluar dari negara Taiwan sesuai batas waktu

Bagi yang tidak mematuhi peraturan, harus membayar denda dalam jumlah penuh!

FSC Ungkap Praktik Remitansi Ilegal PMA, Pekerja Asal Vietnam Tercatat Paling Signifikan

Komisi Pengawas Keuangan (FSC) Taiwan mengidentifikasi adanya praktik pengiriman uang ilegal atau remitansi bawah tanah yang signifikan di kalangan pekerja migran, dengan volume terbesar tercatat berasal dari pekerja asal Vietnam. Temuan ini didasarkan pada analisis perbandingan data antara jumlah pendapatan pekerja migran dengan jumlah uang yang dikirimkan kembali ke negara asal mereka melalui jalur resmi.

Direktur Biro Perbankan FSC, Tung Chen-chang (童政彰), memaparkan bahwa untuk setiap NT$100 yang diperoleh pekerja migran asal Filipina, Indonesia, dan Thailand, sekitar NT$80 hingga NT$90 dikirimkan kembali melalui lima operator resmi yang telah ditunjuk. Namun, angka ini menunjukkan anomali pada pekerja asal Vietnam, di mana hanya sekitar NT$60 dolar tercatat dikirim melalui jalur legal, mengindikasikan adanya selisih signifikan yang diduga mengalir melalui kanal-kanal ilegal.

Analisis lebih lanjut dari para pelaku industri menunjukkan bahwa fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor kompleks. Kontrol devisa yang lebih ketat di Vietnam menjadi salah satu penyebab utama, yang menyulitkan pengusaha Taiwan di sana untuk merepatriasi dana mereka.

Kondisi ini menciptakan sebuah simbiosis di mana pengusaha Taiwan membutuhkan mata uang lokal untuk operasional, sementara pekerja Vietnam perlu mengirim uang ke keluarga mereka. Selisih kurs yang menguntungkan bagi pengusaha menjadi insentif tambahan yang mendorong transaksi bawah tanah ini.

Menanggapi temuan ini, FSC akan berkoordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) untuk meningkatkan sosialisasi mengenai ilegalitas dan risiko dari praktik remitansi bawah tanah kepada para pekerja migran. Selain itu, FSC juga mendorong aparat penegak hukum untuk memperkuat penindakan terhadap jaringan-jaringan ilegal tersebut.

Meskipun FSC menyadari bahwa solusi komprehensif akan melibatkan kebijakan devisa negara lain, langkah-langkah preventif dan penegakan hukum di dalam negeri akan menjadi prioritas utama.

Waspada Aturan Karantina! Kenali Daftar Oleh-Oleh Terlarang, Bawa Masuk Mi Instan Jenis Ini Bisa Didenda NT$1 Juta 

Menjelang musim liburan, Administrasi Inspeksi dan Karantina Kesehatan Hewan dan Tumbuhan (APHIA) Taiwan kembali mengingatkan para pelancong untuk memahami secara saksama peraturan karantina terkait barang bawaan, terutama produk makanan yang sering dijadikan oleh-oleh. Ketidaktahuan akan aturan ini dapat berakibat fatal, dengan sanksi denda yang bisa mencapai NT$1 juta bagi pelanggar.

Secara umum, sebagian besar makanan olahan diizinkan untuk dibawa masuk. Produk susu yang telah diproses seperti puding atau bolu gulung krim (swiss roll) pada prinsipnya diperbolehkan, begitu pula dengan buah kering seperti kue kesemek. Mi instan atau makanan siap seduh lainnya juga diizinkan, dengan satu catatan krusial, yakni produk tersebut tidak boleh mengandung potongan daging asli, seperti sosis ham atau ceker ayam.

Di sisi lain, terdapat sejumlah produk yang sering kali dianggap sepele namun termasuk dalam kategori barang terlarang. Ini mencakup semua jenis buah segar (termasuk yang disajikan di pesawat), telur yang belum matang sempurna seperti telur onsen, serta produk apa pun yang mengandung daging, seperti roti lapis, onigiri, camilan kulit ayam, hingga protein bar.

Membawa produk daging babi dari wilayah wabah Demam Babi Afrika (ASF) akan dikenai sanksi paling berat, yaitu denda NT$200.000 untuk pelanggaran pertama dan NT$ 1 juta untuk pelanggaran berulang.

APHIA menekankan pentingnya sikap proaktif dari para pelancong. Jika terdapat keraguan mengenai status suatu produk, sangat disarankan untuk langsung mendatangi loket Karantina Hewan dan Tumbuhan saat tiba di bandara untuk melakukan deklarasi. Petugas akan melakukan pemeriksaan, dan jika barang tersebut dinyatakan tidak lolos, tidak akan ada denda yang dikenakan karena penumpang telah berinisiatif melapor.

Sebagai alternatif, masyarakat juga dapat memanfaatkan akun resmi APHIA di aplikasi LINE untuk memeriksa status barang bawaan mereka sebelum melakukan perjalanan.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解