Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Yuan Shikai

03/04/2026 Apa & Siapa
Yuan Shikai (WIKIPEDIA)
Yuan Shikai (WIKIPEDIA)

Dalam lembaran sejarah modern Tiongkok, sedikit nama yang memicu perdebatan sengit seperti Yuan Shikai (袁世凱). Lahir di Xiangcheng, Henan, dari keluarga pejabat, Yuan Shikai menapaki jalan yang tidak biasa, dari seorang pemuda yang gagal dalam ujian pegawai negeri sipil kekaisaran, menjadi jenderal militer terkuat, Presiden pertama Republik Tiongkok yang definitif, hingga upaya singkatnya yang fatal untuk memulihkan monarki dengan mengangkat dirinya sebagai Kaisar.

Kariernya mencerminkan transisi Tiongkok yang penuh gejolak dari sistem kekaisaran kuno menuju negara republik modern.

 

Awal Karier: Penempaan di Semenanjung Korea

Lahir pada 16 September 1859, Yuan Shikai tumbuh dalam lingkungan keluarga militer yang berpengaruh. Setelah dua kali gagal dalam ujian kenegaraan, Yuan Shikai memutuskan untuk meninggalkan pena dan mengangkat senjata, yang menjadi sebuah keputusan yang mengubah nasibnya. Pada tahun 1880, ia bergabung dengan Pasukan Qing di bawah komando Wu Changqing (吳長慶).

Batu loncatan kariernya terjadi di Korea. Pada tahun 1882, saat terjadi Pemberontakan Imo di Korea, Yuan Shikai mengikuti pasukannya untuk memadamkan kerusuhan. Kinerjanya yang gemilang terlihat jelas pada tahun 1884 saat Kudeta Gapsin, di mana kaum reformis pro-Jepang mencoba menggulingkan pemerintahan Korea. Yuan Shikai, dengan ketegasan militernya, memimpin pasukan Qing untuk memukul mundur intervensi Jepang dan menyelamatkan raja Korea.

Keberhasilan ini membuatnya diangkat sebagai Residen Kekaisaran Qing di Korea, posisi yang memberinya kekuasaan de facto atas urusan dalam negeri, diplomasi, dan perdagangan Korea selama satu dekade. Periode ini tidak hanya mengasah kemampuan diplomatik dan militernya, tetapi juga menanamkan benih permusuhan mendalam dengan Jepang.

 undefined

Villa milik Yuan di Tianjin.

Reformasi Militer Xiaozhan: Lahirnya Angkatan Darat Beiyang

Kekalahan Tiongkok dalam Perang Tiongkok-Jepang Pertama (1894-1895) menjadi titik balik bagi militer Qing. Menyadari kelemahan pasukan tradisional, istana menunjuk Yuan Shikai untuk melatih tentara baru di Xiaozhan, dekat Tianjin.

Di sinilah Yuan Shikai membangun basis kekuatannya yang paling abadi. Ia merekrut instruktur Jerman, mengadopsi persenjataan Barat, dan merombak total sistem logistik serta penggajian untuk mencegah korupsi. Pasukan ini, yang kemudian dikenal sebagai Angkatan Darat Beiyang, menjadi kekuatan militer paling modern di Tiongkok saat itu.

Namun, Yuan Shikai tidak hanya melatih tentara, ia membangun loyalitas pribadi. Melalui indoktrinasi yang cerdik, para prajurit diajarkan untuk setia kepada Yuan Shikai di atas segalanya. Para perwira didikannya kelak menjadi tokoh-tokoh kunci dalam era Warlord (Panglima Perang) yang mendominasi Tiongkok setelah kematiannya.

 undefined

Yuan Shikai

Manuver Politik di Ujung Senja Dinasti Qing

Keterlibatan Yuan Shikai dalam politik tingkat tinggi semakin intens selama Reformasi Seratus Hari pada tahun 1898. Kaisar Guangxu (光緒), yang ingin melakukan reformasi radikal, berusaha mendapatkan dukungan militer Yuan Shikai untuk menyingkirkan faksi konservatif yang dipimpin oleh Ibu Suri Cixi.

Meskipun rincian pastinya masih diperdebatkan oleh sejarawan, hasil akhirnya jelas, yakni kudeta reformis gagal, Kaisar dipenjara, dan Yuan Shikai tetap selamat, bahkan mendapatkan kepercayaan lebih dari Ibu Suri Cixi.

Loyalitas dan pragmatisme Yuan kembali diuji saat Pemberontakan Boxer (1900). Ketika istana Qing mendukung pemberontak Boxer untuk melawan kekuatan asing, Yuan Shikai, yang saat itu menjabat Gubernur Shandong, memilih untuk mengabaikan perintah perang dari istana.

Ia menindas kaum Boxer di wilayahnya dan bergabung dengan viceroy (gubernur jenderal) wilayah selatan untuk menjaga stabilitas, sebuah langkah yang menyelamatkan wilayahnya dari kehancuran perang dan invasi asing.

Sebagai pejabat tinggi Qing di tahun-tahun terakhir dinasti, Yuan Shikai mempelopori Kebijakan Baru. Ia menghapus ujian kekaisaran kuno pada 1905, mendirikan sekolah-sekolah modern, membangun kepolisian bergaya Barat pertama di Tianjin, dan mendorong pembangunan infrastruktur serta industri. Ironisnya, reformasi yang ia dorong justru mempercepat runtuhnya sistem kekaisaran yang ia layani.

 undefined

Yuan Shikai setelah acara pengambilan sumpah menjadi Presiden Sementara Republik Tiongkok, di Beijing, 10 Maret 1912.

Revolusi Xinhai dan Transisi ke Republik

Pecahnya Pemberontakan Wuchang pada Oktober 1911 menempatkan Yuan Shikai dalam posisi penentu. Istana Qing, yang tidak memiliki jenderal lain yang mampu mengendalikan Angkatan Darat Beiyang, terpaksa memanggil kembali Yuan Shikai yang sempat dipaksa pensiun.

 Yuan Shikai memainkan peran ganda dengan sangat cerdik. Di satu sisi, ia menggunakan kekuatan militernya untuk menekan kaum revolusioner di selatan, merebut kembali Hanyang untuk menunjukkan kekuatannya. Di sisi lain, ia menggunakan ancaman kaum revolusioner untuk menekan istana Qing agar menyerahkan kekuasaan.

Melalui negosiasi yang rumit dengan Sun Yat-sen (孫中山) dan kaum revolusioner, tercapai kesepakatan, jika Yuan Shikai bisa memaksa Kaisar turun takhta, ia akan menjadi Presiden Republik. Pada 12 Februari 1912, Yuan Shikai memfasilitasi abdikasi Kaisar Xuantong, mengakhiri ribuan tahun pemerintahan kekaisaran di Tiongkok. Yuan Shikai kemudian dilantik sebagai Presiden Sementara Republik Tiongkok, menyatukan utara dan selatan di bawah satu pemerintahan.

 undefined

Dalam Pertempuran Yangxia, tentara Beiyang membombardir pasukan revolusioner yang sedang menyeberangi sungai untuk mundur; Dewan Internasional Palang Merah Tiongkok mengirimkan anggota tim untuk mengevakuasi mayat-mayat yang mengapung.

Kepresidenan yang Otokratis dan Krisis Dua Puluh Satu Tuntutan

Masa kepresidenan Yuan Shikai yang diwarnai oleh konflik tajam dengan Partai Kuomintang (KMT) yang dipimpin oleh Sun Yat-sen dan Song Jiaoren (宋教仁). KMT menginginkan sistem parlementer untuk membatasi kekuasaan presiden. Namun, setelah kemenangan telak KMT dalam pemilu 1913, Song Jiaoren tewas dibunuh di Shanghai. Ini adalah insiden yang secara luas diyakini didalangi oleh Yuan Shikai.

Ketegangan ini memicu Revolusi Kedua pada tahun 1913, di mana provinsi-provinsi selatan memberontak melawan Yuan Shikai. Dengan kekuatan militer yang superior, Yuan Shikai dengan cepat memadamkan pemberontakan tersebut, membubarkan parlemen, dan mengonsolidasikan kekuasaan diktatornya.

Tantangan terbesar dari luar datang pada tahun 1915 saat Perang Dunia I meletus. Jepang, memanfaatkan kesibukan kekuatan Barat di Eropa, mengajukan Dua Puluh Satu Tuntutan kepada Tiongkok. Tuntutan ini bertujuan menjadikan Tiongkok sebagai protektorat Jepang.

Yuan Shikai berada dalam posisi sulit. Menolak sepenuhnya berarti perang yang pasti kalah, sementara menerima berarti kehilangan kedaulatan. Yuan Shikai menerapkan strategi mengulur waktu dan membocorkan tuntutan tersebut ke pers internasional untuk mendapatkan dukungan diplomatik. Akhirnya, ia terpaksa menerima sebagian tuntutan tersebut tetapi berhasil menolak kelompok tuntutan kelima yang paling merugikan kedaulatan Tiongkok. Meskipun demikian, penandatanganan perjanjian ini dianggap sebagai penghinaan nasional dan memicu sentimen anti Yuan Shikai yang kuat.

 undefined

Setelah Yuan Shikai resmi menjabat sebagai Presiden Republik Tiongkok pada 10 Oktober 1913, para utusan diplomatik dari berbagai negara di Tiongkok melakukan audiensi dan berfoto bersama.

Impian Kekaisaran Hongxian dan Kejatuhan

Mungkin kesalahan perhitungan terbesar dalam hidupnya adalah upaya memulihkan monarki. Terpengaruh oleh nasihat penasihat Amerika, Frank Goodnow, yang menyatakan bahwa republik tidak cocok untuk kondisi Tiongkok, serta ambisi putranya, Yuan Keding (袁克定), Yuan Shikai mulai merancang penobatannya sebagai Kaisar.

Pada akhir 1915, melalui serangkaian manipulasi opini publik dan petisi rekayasa, Yuan Shikai menyatakan dirinya sebagai Kaisar dari Kekaisaran Tiongkok dengan nama era Hongxian. Langkah ini memicu reaksi keras yang tidak ia perkirakan. Jenderal-jenderal kepercayaannya sendiri bersikap dingin, sementara provinsi-provinsi di barat daya, dipimpin oleh Cai E (蔡鍔), melancarkan Perang Perlindungan Nasional (National Protection War).

Menghadapi pemberontakan militer dan ditinggalkan oleh sekutu asing serta domestik, Yuan Shikai terpaksa membatalkan monarki pada Maret 1916, hanya 83 hari setelah diproklamasikan. Kekuasaannya runtuh, dan kesehatannya memburuk dengan cepat akibat uremia.

 undefined

Pemakaman Yuan Shikai digelar dengan konsep kenegaraan yang megah.

Akhir Hayat dan Warisan yang Terbelah

Yuan Shikai wafat pada 6 Juni 1916 di usia 56 tahun. Pemakamannya dilakukan dengan upacara kenegaraan yang megah, di mana ia mengenakan jubah naga kekaisaran di dalam peti matinya, sebuah simbol ambisi yang ia bawa hingga liang lahat.

Warisan Yuan Shikai tetap menjadi subjek studi yang kompleks. Di satu sisi, ia sering digambarkan sebagai pengkhianat republik dan pencuri negara karena ambisi pribadinya. Namun, sejarawan modern juga mengakui kontribusi signifikannya dalam modernisasi Tiongkok.

Di bawah kepemimpinannya, Tiongkok melihat reformasi peradilan, pendirian sistem pendidikan modern, dan perkembangan industri nasional yang pesat. Ia berhasil menjaga keutuhan wilayah Tiongkok di masa transisi yang sangat rapuh dan meletakkan dasar bagi birokrasi serta militer modern.

Yuan Shikai adalah produk dari zamannya, yakni seorang pragmatis yang mencoba menavigasi Tiongkok melalui badai transisi dari tradisi kuno menuju modernitas. Kegagalannya mungkin terletak pada ketidakmampuannya untuk sepenuhnya melepaskan diri dari pola pikir kekaisaran lama di tengah arus deras republikanisme yang sedang bangkit.

 

Ikuti Program & Podcast
(foto: Canva)
Apa & Siapa
Penyiar: Yunus Hendry
Waktu Siar: Jumat
Informasi Terkait Program Ini

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解