Pasokan bahan baku yang terus menipis membuat krisis kantong plastik di seluruh Taiwan masih terus berlanjut! Seperti di Pasar Yongchun, Taipei, para pedagang obat tradisional Tiongkok mengeluhkan bahwa baik kantong klip untuk membungkus obat maupun stoples plastik obat kini hampir kehabisan stok dan sulit dibeli. Para pedagang mengaku hanya bisa bertahan dengan susah payah mengandalkan sisa persediaan yang ada.
Ada pula pedagang buah yang berhemat kantong plastik dengan memasukkan belasan buah ke dalam satu kantong yang sama, bahkan mencampur berbagai jenis buah. Sang pemilik kios dengan pasrah melontarkan candaan bahwa kantong plastik saat ini lebih mahal daripada emas.
Ucapan sang pedagang memang terdengar seperti candaan, tetapi nada bicaranya menyiratkan kepasrahan yang mendalam. Bagaimanapun juga, krisis kantong plastik masih terus melanda, dan para pedagang kecil di Pasar Yongchun pun tak luput dari dampaknya.
Kantong plastik yang dahulu diberikan secara cuma-cuma, kini dianggap sebagai barang berharga yang melebihi nilai buah itu sendiri. Belasan buah markisa di tangan pelanggan seluruhnya dimasukkan ke dalam satu kantong. Buah-buahan yang berbeda jenis, yang biasanya dipisah dalam kantong berbeda, kini dicampur demi menghemat setiap lembar kantong plastik yang ada.
Selain kantong plastik, kotak plastik kecil berbahan PET atau PP yang biasa digunakan untuk mengemas produk pertanian premium pun kini harus dicuci bersih dan didaur ulang oleh para pedagang. Di kios lain yang menjual obat tradisional Tiongkok, bahan-bahan kering tidak akan awet tanpa kantong klip kedap udara. Terlebih lagi, botol dan stoples kemasan obat yang membutuhkan lebih banyak bahan baku plastik kini menjadi barang langka yang sangat sulit didapatkan.
Pedagang tersebut mengatakan bahwa dengan menggunakan sisa persediaan lama, mereka hanya bisa bertahan dengan susah payah selama satu bulan ke depan. Untuk saat ini, mereka menanggung sendiri beban biaya tersebut dan tidak berencana memungut biaya tambahan dari pelanggan.
Setelah berkeliling pasar, para pelanggan menyadari dan dapat memaklumi kelangkaan kantong plastik ini. Entah sampai kapan pasokan bahan baku ini akan terus menipis, tetapi setidaknya untuk saat ini, baik para pedagang maupun konsumen masih bersedia untuk saling bahu-membahu melewati masa-masa sulit ini.