Tiongkok belakangan ini menyaksikan munculnya fenomena "apartemen abu jenazah", di mana sebagian keluarga memilih menyimpan abu mendiang kerabat mereka di rumah yang dibiarkan kosong, alih-alih menempatkannya di pemakaman yang harganya selangit.
Praktik ini perlahan meluas karena tekanan ekonomi dan pertimbangan pemanfaatan ruang, yang kini memicu otoritas resmi turun tangan untuk menertibkannya.
Sejak bulan lalu, Tiongkok mulai memberlakukan Peraturan Pengelolaan Pemakaman yang telah direvisi, secara tegas melarang penggunaan rumah tinggal biasa secara khusus untuk menyimpan abu jenazah. Laporan Financial Times menyoroti bahwa di tengah lesunya pasar properti dan penuaan populasi, beberapa kota mulai melihat fenomena apartemen yang beralih fungsi menjadi pengganti makam. Alasan utamanya terletak pada perbedaan biaya yang sangat mencolok.
Berdasarkan berbagai survei terkait, tingginya biaya pemakaman menjadi salah satu penyebab utama lahirnya apartemen abu jenazah. Perusahaan asuransi Sun Life Financial mencatat bahwa rata-rata pengeluaran pemakaman di Tiongkok memakan hingga 45%dari gaji tahunan. Dalam peringkat global untuk rasio biaya pemakaman terhadap gaji, Tiongkok menempati urutan kedua tertinggi, tepat di bawah Jepang.
Sebaliknya, sebagian rumah kosong memiliki biaya kepemilikan yang relatif terkendali akibat penurunan harga properti, sehingga dimanfaatkan sebagai ruang penyimpanan abu jenazah. Peneliti dari University of California, Irvine, Wu Hsin-yi (吳欣怡), menjelaskan bahwa ketika sebuah rumah kehilangan nilai investasi atau kelayakan huninya, masyarakat akan memberikan fungsi baru pada bangunan tersebut. "Apartemen abu jenazah" lahir sebagai fungsi baru di tengah latar belakang kondisi ini.
Hak guna lahan perumahan di Tiongkok umumnya berlaku selama 70 tahun, sementara masa pakai lahan makam sebagian besar hanya 20 tahun. Hal ini semakin memperkuat pertimbangan masyarakat untuk menjadikan rumah tinggal sebagai ruang penempatan jangka panjang. Penelitian juga menemukan bahwa praktik semacam ini banyak dijumpai pada keluarga yang memiliki banyak properti atau yang memegang teguh nilai-nilai kekerabatan. Di satu sisi, langkah ini dapat menghemat biaya, dan di sisi lain, aset tersebut tetap memiliki fleksibilitas untuk dijual kembali di masa depan.
Sebagian masyarakat merasa bahwa tindakan ini berdampak buruk pada kualitas lingkungan tempat tinggal dan kenyamanan psikologis. Namun, ada pula penyewa muda yang menyatakan bahwa asalkan harga sewa dapat diturunkan, mereka tidak terlalu keberatan hidup bertetangga dengan ruang penyimpanan abu jenazah.