Apa kabar teman-teman Jkers semoga sehat selalu jiwa dan raga.
Hari ini kita menjelajahi masa masa kecil kita yang penuh nostalgia, dan terlebih dahulu saya berterima kasih kepada pendengar setia RTISI, Waluyo Ibn Dischman yang ikut memberikan pengalamannya di masa kecil. Nah…. Teman-teman JKers, sambil mendengarkan cerita Waluyo jangan lupa juga mulai mengirim cerita Anda kepada saya ya.
Masa kecilku banyak sekali bertautan dengan dapur juga makanan. Sensasi, tekstur dan rasa membawa romansa masa kecilku yang super kaya cerita. Saya sendiri bukan seorang anak yang hanya mendapat suapan lezat dari ibu atau nenek. Melainkan ikut serta dalam setiap tahapan makanan yang akan dijadikan hidangan istimewa.
Musim Hujan
Layaknya ilustrasi buku bahasa Indonesia zaman lampau, aku adalah anak ibu pertiwi yang dekat dengan alam. Bermain di sawah bersama kerbau, kuntul dan belalang. Saat musim hujan dimulai anak-anak di kampungku selalu mencari 'makanan tambahan ' yang tidak selalu ada di setiap musim. Swike dan belalang beras dua primadona saat musim menanam padi. Meloncat terpuruk di lumpur sawah sangat menyenangkan, melompat dan menangkap kodok dengan lendir yang licin. Sungguh sesuatu yang sedikit sulit, tapi menyenangkan. Sekali berburu hanya dapat 5-7 ekor saja, tambahan lainnya hanya 1 botol air minum belalang beras yang ditangkap dengan genggaman tangan atau jaring plastik. Saat pulang ibu menyambut gembira walaupun pakaian anaknya kotor dan ubu merasa terbantu karena ada makanan tambahan, itung-itung hemat anggaran. Biasanya ibu hanya menggoreng paha swike dengan bumbu racik tradisional. Tekstur lembut, rasa sederhana nan guruh mengukir ujung saraf lidahku. Begitu juga gorengan belalang beras yang hanya ditaburi garam halus. Sungguh rasa yang sederhana, umami memenuhi ruang lidah.
Hari Raya
Belum genap sebulan hari raya lebaran terlewati, ada banyak bukti sejarah yang ditemukan di setiap kecapan lidah. Masa masa di mana nenek capek-capek memukul cetakkan kue satu sampai larut malam. Tangan mungilku selalu disalahkan karena menguleni adonan kue satu kurang baik, sehingga kue satu tidak mudah lepas dari cetakannya. Aku hanya belingsut pergi, tapi lima menit kemudian kembali lagi setelah rasa kecewa pada nenek musnah. Kue warisan budaya Jawa itu sungguh saksi sejarah saraf saraf lidahku,.dimana manis bercampur dengan sensasi debu yang hambur di ruang mulut hingga terplekik. Tak jarang semburan dari mulut keluar karena sensasi debu yang hambur di ruang mulut.
Dari segala rasa, sensasi tekstur juga pada bentuk membawa rekam keindahan yang mungkin akan muncul sekali kali dalam kehidupan kita. Kemunculan itulah yang membuat manusia menitikan air mata karena sebuah keindahan momen yang pernah dia terima dengan segala perayaan jiwa.
Terima kasih kak Maria untuk kembali nimbrung setelah sebulan tidak aktif.
Waluyo Ibn Dischman