Sejarah Siomai
Selamat datang di acara Jurnal Maria
歡迎收聽瑪麗亞週記Semoga semua hidup bahagia, sehat jiwa dan raga.
Beberapa hari ini tergelitik untuk membuat siomai, sebenarnya yang menarik adalah sausnya, jadi terkadang orang memakan sesuatu, bukan karena makanan itu, melainkan mungkin karena ingin mengingat masa lalu, atau karena pendampingnya yang lebih dipentingkan, makanan hanya sebuah alasan saja. Nah, sebenarnya hanya dibicarakan di Jelajah Kuliner saja. Tetapi setelah saya kuak, ternyata siomai mempunyai sejarah yang panjang dan menarik. Jadi saya jadikan obrolan di Jurnal. Agar lebih nyaman mendengarnya, karena waktu lebih panjang dan di JK, teman-teman bisa ramai-ramai di dapur Maria mencicipinya secara virtual.
Tema Jurnal Maria hari ini adalah:
Sejarah Siomai — Dari Uap di Stepa hingga Saus Kacang di Nusantara
Pernahkah Anda berdiri di depan gerobak siomai…
melihat uap panas naik perlahan dari kukusan…
dan merasa, entah kenapa, ada sesuatu yang akrab di sana?
Padahal mungkin…
makanan kecil itu telah menempuh perjalanan ribuan kilometer
sebelum akhirnya tiba di meja makan kita masing-masing.
Hari ini… kita tidak hanya makan siomai.
Kita akan menelusuri sejarahnya. Saya suka sekali menggali sejarah dibalik apa yang saya tekuni, termasuk kuliner.
Cerita perjalanan siomai ini dimulai sekitar 700 tahun lalu…
di masa Dinasti Yuan. Di wilayah utara yang dingin,
di antara padang luas yang tak berujung,
hidup para pengembara, pedagang, dan penjaga jalur perdagangan.
Di sana, dikenal sebuah makanan bernama
“suumai”…
dalam bahasa Mongolia, artinya sederhana—
“dimakan selagi panas.”
Bayangkan sejenak…
angin dingin berhembus,
tangan menggenggam cangkir teh susu mentega,
dan di hadapan kita ada makanan kukus berisi daging kambing,
daun bawang, dan jahe…
hangat, kuat, dan mengenyangkan.
Makanan itu bukan dibuat untuk kemewahan.
Ia dibuat untuk bertahan hidup.
Dan dari situlah… siomai bermula.
Seiring waktu, makanan ini bergerak masuk ke wilayah Tiongkok bagian tengah.
Namanya mulai berubah…
dari “稍麥” mai gandum…
menjadi “捎賣”mai artinya kata kerja jual…walaupun dari pendengaran kita sama semua, tapi dalam tulisan sangatlah berbeda.
hingga akhirnya dikenal sebagai “燒賣” artinya jualan panas-panas menurut interpretasi saya melihat tulisannya karena shao artinya bakar atau panas, mai adalah jual.