Dalam mitologi Taoisme Tiongkok, tidak ada utusan alam baka yang lebih dikenal luas dibandingkan Hei Bai Wu Chang (黑白無常), yakni sepasang dewa pencabut nyawa yang satu berpakaian hitam, satu berpakaian putih, melambangkan keseimbangan Yin dan Yang, serta siang dan malam.
Nama Wu Chang sendiri berakar dari ajaran Buddha yang bermakna ketidakkekalan, bahwa segala sesuatu di dunia ini selalu berubah dan tidak ada yang abadi. Dalam Sutra Ksitigarbha, ungkapan hantu besar ketidakkekalan, datang tanpa diundang menjadi peringatan bahwa kehidupan manusia bisa berakhir kapan saja.
Kepercayaan rakyat kemudian mengubah konsep filosofis ini menjadi dua sosok konkret, yakni utusan alam baka yang datang menjemput roh manusia saat ajal tiba.
Di balik jubah hitam dan putih mereka, tersimpan kisah persahabatan yang menjadi fondasi legenda ini. Putih Wu Chang bernama Xie Bi-an (謝必安),yakni sosok tinggi, kurus, berwajah pucat, dengan lidah panjang yang selalu terjulur, sementara Hitam Wu Chang bernama Fan Wu-jiu (范無救), bertubuh lebih pendek dan gemuk dengan wajah yang garang.
![]()
Patung-patung Hei Bai Wu Chang di Fengdu, Chongqing. Foto: WIKIPEDIA
Keduanya telah bersaudara angkat sejak kecil. Suatu hari di Fuzhou, Fujian, keduanya berjalan bersama menuju sebuah jembatan. Melihat tanda-tanda hujan akan turun, Xie Bi-an meminta Fan Wu-jiu menunggu sementara ia pulang mengambil payung.
Namun hujan badai datang lebih cepat dari perkiraan, sungai meluap, dan Fan Wu-jiu yang bertubuh pendek memilih tetap menunggu daripada mengingkari janji, hingga akhirnya tenggelam.
Ketika Xie Bi-an kembali membawa payung dan mendapati saudaranya telah tiada, ia tidak sanggup menanggung rasa bersalah dan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di tepi sungai.
Kesetiaan luar biasa keduanya menyentuh hati Yan Luo Wang, yang kemudian mengangkat mereka sebagai dewa penangkap roh jahat. Wajah Fan Wu-jiu menghitam karena tenggelam, sementara Xie Bi-an selalu menjulurkan lidah panjang sebagai tanda kematian akibat gantung diri.
Topi keduanya pun menyimpan makna tersendiri. Hitam Wu Chang mengenakan topi tinggi bertuliskan Tian Xia Tai Ping (天下太平) atau Dunia Damai Tenteram.
Putih Wu Chang mengenakan topi bertuliskan Yi Jian Fa Cai (一見發財) atau Sekali Bertemu Menjadi Kaya.
Konon, bertemu Hei Bai Wu Chang untuk pertama kali akan mendatangkan kekayaan dan kedamaian, namun pertemuan kedua berarti ajal telah tiba. Meski demikian, dipandu oleh mereka menuju alam baka bukan sepenuhnya pertanda buruk, setidaknya roh tersebut tidak perlu menjadi hantu gentayangan yang kesepian.
Penting untuk membedakan Hei Bai Wu Chang dari Jenderal Xie dan Fan (謝范將軍) yang dikenal di wilayah Fujian dan Taiwan. Keduanya memang merujuk pada tokoh yang sama, namun dengan konteks yang berbeda.
Di luar Fujian, Hei Bai Wu Chang digambarkan sebagai dua prajurit hantu bertubuh serupa yang bertugas menjemput roh tanpa memandang baik atau buruk, layaknya pegawai administrasi alam baka.

Sosok Hei Bai Wu Chang di Taiwan. Foto: WIKIPEDIA
Sementara Jenderal Xie dan Fan versi Fujian lebih berfungsi sebagai penegak keadilan, yakni menangkap roh jahat, memberi penghargaan pada kebaikan, dan menghukum kejahatan. Di Taiwan, mereka kerap dipuja sebagai dewa pelindung yang mendampingi berbagai dewa kuil, termasuk Dewa Wangye (王爺) dan Dewa Pelindung Kota (城隍爺), dengan posisi serupa Qianliyan (千里眼) dan Shun Feng Er (順風耳) bagi Dewi Mazu.
Dari sisi pembagian tugas, Putih Wu Chang berunsur Yang dan bertugas menjemput roh pria, sementara Hitam Wu Chang berunsur Yin dan menjemput roh wanita. Ada pula penjelasan bahwa keduanya bergiliran, satu bertugas di siang hari, satu lagi di malam hari, agar tidak kelelahan menjalankan tugas tanpa henti.
Hitam Wu Chang digambarkan membenci kejahatan dan membawa rantai serta belenggu untuk menangkap roh jahat, sementara Putih Wu Chang yang selalu tersenyum lebih banyak berhadapan dengan mereka yang tidak cukup pantas untuk dihukum berat. Pandangan ini mencerminkan filosofi masyarakat etnis Han bahwa bahkan di alam baka pun, ada gradasi antara kebaikan dan kejahatan, tidak semua hal bersifat hitam putih secara mutlak.
Jika di Barat terdapat Grim Reaper sebagai pemandu roh menuju alam baka, maka Tiongkok memiliki Hei Bai Wu Chang, dua sahabat setia yang justru menjadi utusan kematian karena kesetiaan mereka yang tak tergoyahkan semasa hidup.