Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Maggie Cheung

17/05/2026 M POP
Maggie Cheung (Foto: WIKIPEDIA)
Maggie Cheung (Foto: WIKIPEDIA)

Tidak banyak aktris Asia yang namanya terukir di tiga festival film paling bergengsi di Eropa sekaligus. Maggie Cheung Man-yuk (張曼玉) adalah pengecualian langka itu. Lahir di Hong Kong pada 20 September 1964 dan besar di Kent, Inggris, perempuan yang pernah bercita-cita menjadi penata rambut ini memulai perjalanannya di industri hiburan lewat jalur yang tidak terduga, yakni kontes kecantikan.

Ia meraih posisi runner-up Miss Hong Kong 1983 setelah ditemukan oleh pencari bakat di sebuah pusat keramaian, ketika ia masih bekerja sebagai pramuniaga di department store Lane Crawford sambil menjadi model paruh waktu.

Dari titik awal yang sederhana itu, Maggie Cheung kemudian menorehkan jejak yang belum pernah dan belum bisa disamai oleh aktris manapun dari Asia hingga hari ini.

 undefined

 Maggie Cheung pada tahun 1992 di  Berlin International Film Festival. Foto: WIKIPEDIA

Dari Komedi Komersial ke Sinema Kelas Dunia

Karier layar lebarnya dimulai pada 1984 lewat film komedi Prince Charming (青蛙王子) arahan Wong Jing (王晶), yang langsung masuk daftar 10 film terlaris Hong Kong tahun itu. Di tahun yang sama, perannya bersama Leslie Cheung (張國榮) dalam Behind the Yellow Line (緣份) mengantarkannya ke nominasi Aktris Pendatang Baru Terbaik di Hong Kong Film Awards.

Namun terobosan sesungguhnya datang pada 1985, ketika ia mendampingi Jackie Chan (成龍) dalam Police Story. Ini juga menjadi tonggak film aksi Hong Kong yang meraih Film Terbaik di Hong Kong Film Awards ke-5 dan menempatkan namanya di radar publik secara lebih luas.

Selama tiga tahun berikutnya, Maggie Cheung membangun reputasinya di dua jalur sekaligus, yakni film komersial dan sinema arthouse. Pada 1986, penulis novel Yi Shu secara khusus menunjuknya untuk memerankan karakter utama dalam Lost Romance (玫瑰的故事). Pada 1987, ia membintangi The Game They Call Sex (黃色故事) arahan Sylvia Chang (張艾嘉) , yang oleh sutradara Stanley Kwan (關錦鵬) disebut sebagai karya yang pertama kali memperlihatkan bakat arthouse sejati seorang Maggie Cheung.

Tahun 1988 menjadi titik balik yang menentukan. Dalam debut penyutradaraan Wong Kar-wai (王家衛), As Tears Go By (旺角卡門), Maggie tampil memukau sebagai Ah Ngor, yaitu sebuah penampilan yang menghancurkan stereotip aktris bermodal tampang yang selama ini melekat padanya dan menghasilkan nominasi Aktris Terbaik perdananya di Hong Kong Film Awards.

Setahun kemudian, Full Moon in New York (三個女人的故事) arahan Stanley Kwan mengantarkannya meraih piala Aktris Terbaik Golden Horse perdananya dengan suara bulat dari dewan juri.

undefined 

 Maggie Cheung pada tahun 2004 di Cannes Film Festival. Foto: WIKIPEDIA

Puncak Kejayaan: Menyapu Bersih Penghargaan Dua Benua

Dekade 1990-an adalah era keemasan Maggie Cheung yang sulit diulang. Pada 1991, ia memerankan dewi film bisu Ruan Ling-yu (阮玲玉) dalam film biografi Center Stage. Ini menjadi penampilan yang menyapu bersih lima mahkota Aktris Terbaik sekaligus dari Festival Film Internasional Berlin, Golden Horse, Hong Kong Film Awards, Festival Film Internasional Chicago, dan Japanese Movie Critics Awards.

Pada 1992, Center Stage mengantarkannya menjadi aktor Tionghoa pertama dalam sejarah yang meraih penghargaan akting di salah satu dari Tiga Festival Film Utama Eropa, sekaligus memecahkan kebuntuan panjang bagi sinema berbahasa Mandarin di panggung Eropa.

Pada 1996, setelah hiatus singkat, ia kembali dengan dua film yang masing-masing meninggalkan jejak berbeda. Irma Vep (迷離劫) arahan sutradara Prancis Olivier Assayas menempatkan wajahnya di sampul jurnal bergengsi Sight & Sound milik British Film Institute.

Sementara Comrades: Almost a Love Story (甜蜜蜜) menyapu bersih penghargaan Film Terbaik di Hong Kong Film Awards, Golden Horse, dan Festival Film Internasional Seattle, sekaligus memberikannya gelar Aktris Terbaik ganda di kedua ajang penghargaan bergengsi tersebut.

Pada 1998, perannya sebagai tokoh sejarah Soong Ching-ling dalam The Soong Sisters (宋家皇朝)  kembali meraih Aktris Terbaik Hong Kong Film Awards, sementara di dunia mode ia menjadi bintang Tionghoa pertama yang berjalan di runway peragaan busana merek mewah internasional Hermès di Paris.

Puncak terakhir dari era keemasannya datang pada 2004. Lewat Clean (錯的多美麗) arahan Olivier Assayas, yang untuk itu ia secara khusus belajar bahasa Prancis dan membawakan empat lagu soundtrack, Maggie Cheung memenangkan Aktris Terbaik di Festival Film Cannes ke-57.

Ketua juri Quentin Tarantino memujinya sebagai salah satu aktris terbaik masa kini. Pada September tahun yang sama, Wali Kota Paris menganugerahinya Medali Warga Kehormatan Paris. Pencapaian ini menjadikannya satu-satunya aktris Asia yang memborong dua penghargaan akting di Tiga Festival Film Utama Eropa.

Pada 2005, berkat Clean, ia juga menjadi aktor Asia pertama dan satu-satunya yang dinominasikan sebagai Aktris Terbaik di Penghargaan César Prancis.

 undefined

Maggie Cheung menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Edinburgh pada tahun 2011. Foto: WIKIPEDIA

Memilih Keheningan, Namun Tetap Berkarya di Balik Layar

Setelah Cannes 2004, Maggie Cheung memilih untuk menjauh dari sorotan. Ia menolak lebih dari 40 naskah karena merasa tidak ada yang benar-benar menggugah hatinya, termasuk tawaran dari franchise 007 dan X-Men 2. Waktu yang tersisa ia dedikasikan untuk kehidupan pribadi, mode, musik, dan kegiatan amal.

Pada 2010, ia resmi diangkat sebagai Duta UNICEF untuk Tiongkok, mengunjungi anak-anak korban gempa di Gansu dan anak-anak terdampak HIV/AIDS. Pada 2011, Universitas Edinburgh menganugerahinya gelar Doktor Kehormatan atas kontribusinya pada seni film.

Di bidang amal, rekam jejaknya panjang dan konsisten. Sejak 1993, ia telah berpartisipasi dalam berbagai kegiatan filantropi, mulai dari penggalangan dana untuk korban banjir di Tiongkok Timur, menyumbangkan RMB2 juta untuk korban gempa Wenchuan pada 2008, hingga mendesain pakaian amal bersama merek Rodarte yang mengumpulkan HK$500.000.

Pada 2007, ia bahkan menyumbangkan gaun hitam dan sepatu hak tinggi merah muda yang ia kenakan saat memenangkan Aktris Terbaik Cannes langsung ke UNICEF.

Pada 2014, ia mengejutkan publik dengan terjun ke dunia musik, tampil sebagai penyanyi rock di Strawberry Music Festival di Shanghai dan Beijing. Respons atas suaranya memang beragam, namun pernyataannya di panggung Beijing justru yang paling dikenang.

"Saya sudah main 20 film dan tetap dibilang pajangan. Bisakah saya diberi 20 kesempatan juga untuk bernyanyi?"* Sebuah kalimat yang merangkum perjalanan panjang seorang perempuan yang selalu menolak untuk sekadar memenuhi ekspektasi orang lain.

Hingga kini, Maggie Cheung tetap memegang rekor yang belum terpecahkan, masing-masing lima kali Aktris Terbaik di Hong Kong Film Awards dan empat kali di Golden Horse Awards Taiwan.

CCTV menyebutnya sebagai Bintang Film Wanita Berbahasa Mandarin Terbaik. Ini tentunya menjadi sebuah pengakuan yang, melihat keseluruhan perjalanannya, rasanya sulit untuk diperdebatkan.

Ikuti Program & Podcast
M POP
M POP
Penyiar: Yunus Hendry
Waktu Siar: Minggu
Informasi Terkait Program Ini

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解