Kementerian Keamanan Negara Tiongkok baru-baru ini merilis artikel yang menuding kekuatan asing secara sistematis memanfaatkan platform internet untuk memperbesar kecemasan sosial dan menyebarkan ideologi rebahan, yang dinilai sebagai sikap pasrah yang mendorong kaum muda untuk berhenti berjuang memenuhi ekspektasi sosial.
Dalam artikel yang diterbitkan pada 28 April 2026 tersebut, kementerian memperingatkan bahwa negara-negara terkait mendanai media, lembaga think tank, dan para influencer untuk melancarkan cuci otak rebahan secara terstruktur, dengan tujuan melemahkan daya saing Tiongkok dan membuat Tiongkok menyerahkan dividen pembangunan, peluang strategis, dan masa depan bangsa secara cuma-cuma.
Para pakar menilai langkah ini sebagai pengakuan tidak langsung bahwa fenomena tersebut telah berkembang menjadi ancaman nyata bagi stabilitas rezim.
Istilah rebahan (躺平 Tǎng Píng) muncul dari bahasa gaul internet Tiongkok selama masa pandemi Covid-19. Istilah ini merangkum sikap kaum muda yang, di tengah perlambatan ekonomi dan persaingan kerja yang semakin menekan, memilih untuk tidak lagi mengejar standar hidup yang ditentukan masyarakat, missal tidak beli rumah, tidak beli mobil, tidak menikah, tidak punya anak, dan menolak menjadi mesin pencetak uang bagi orang lain.
Fenomena ini bukan tanpa konteks ekonomi yang kuat. Data pemerintah Tiongkok menunjukkan tingkat pengangguran perkotaan untuk usia 16 hingga 24 tahun melonjak hingga 17% pada Maret tahun ini, sementara pengangguran usia 25 hingga 29 tahun mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di angka 7,7%. Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan akan memusnahkan banyak pekerjaan kerah putih turut mendorong lebih banyak pemuda mundur dari dunia kerja.
Namun para pakar menekankan bahwa akar masalah ini melampaui sekadar isu ekonomi. Peneliti pascadoktoral di MF Norwegian School of Theology, Religion and Society, Arden Chao, dalam ulasannya di majalah The Diplomat menjelaskan bahwa rebahan secara langsung berbenturan dengan ideologi inti Partai Komunis Tiongkok (PKT) di bawah kepemimpinan Xi Jin-ping (習近平).
Xi Jin-ping telah berulang kali menyerukan kebangkitan semangat perjuangan warisan era Mao Ze-dong (毛澤東), dalam satu pidato di Sekolah Partai Komite Sentral PKT pada September 2019, kata perjuangan disebut hingga 58 kali. Dua tahun kemudian di tempat yang sama, Xi Jin-ping menegaskan bahwa anggota partai yang tidak berjuang sama saja tidak bertanggung jawab kepada partai dan rakyat, bahkan merupakan sebuah kejahatan.
Ketika kaum muda menyatakan rebahan, mereka secara tidak langsung menolak kewajiban berjuang yang oleh Xi Jin-ping dijadikan fondasi legitimasi partai.
Peneliti senior di Pusat Hubungan Internasional Universitas Nasional Chengchi, Sung Kuo-cheng (宋國誠), menambahkan dimensi yang lebih dalam. Ia menyebut rebahan sebagai revolusi non-kooperatif yang sunyi, yakni merupakan sebuah perlawanan tanpa suara yang justru lebih sulit dihadapi rezim dibandingkan aksi protes terbuka.
Kaum muda yang sadar bahwa sekeras apapun mereka bekerja hasilnya tetap tidak sebanding, memilih merebut kembali otonomi atas waktu dan hidup mereka sendiri dengan cara menurunkan hasrat terhadap materi dan menolak terseret arus involusi atau persaingan internal yang melelahkan.
Arden Chao secara lugas menyatakan bahwa rebahan lebih mampu memicu kepanikan otoritas dibandingkan protes, karena protes masih memberi negara musuh yang bisa dikalahkan, sementara kebungkaman dan kepasifan tidak memberikan apa-apa untuk dilawan.
Fakta bahwa Beijing kini mengerahkan aparat keamanan negara untuk menangani fenomena budaya ini mengindikasikan bahwa stabilitas rezim tetap menjadi prioritas utama pengambilan keputusan, jauh di atas target pertumbuhan ekonomi, sementara jurang kepercayaan antara pemerintah dan generasi mudanya terus melebar.