Dalam khazanah mitologi Tiongkok, tidak banyak tokoh yang menanggung beban sejarah seberat Shennong. Dikenal pula dengan nama Lieshan (烈山), Lianshan (連山), Kuiwei (魁隗), atau Kaisar Yan (炎帝), Shennong dipercaya hidup pada masa sebelum Dinasti Xia, jauh sebelum catatan sejarah tertulis mulai terbentuk. Sebagian besar dokumentasi mengenainya baru muncul setelah periode Negara-Negara Berperang.
Masyarakat Tiongkok menghormatinya sebagai penemu sekaligus dewa pelindung di bidang pertanian dan pengobatan, dengan deretan gelar kehormatan yang panjang, misal Kaisar Obat, Raja Lima Palawija, Kaisar Agung Shennong, hingga Penguasa Ladang.
Dua warisannya yang paling abadi, yakni ilmu bercocok tanam dan pengetahuan tentang tanaman obat, menjadi fondasi peradaban agraris Tiongkok selama ribuan tahun.

Shennong (Foto: Wikipedia)
Bukan Individu, Melainkan Sebuah Dinasti Klan
Salah satu hal yang kerap disalahpahami tentang Shennong adalah bahwa ia bukan sekadar satu orang. Kitab Shizi mencatat bahwa klan Shennong menguasai dunia selama tujuh puluh generasi, ini menjadi sebuah indikasi kuat bahwa Shennong adalah nama klan yang memerintah dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Lüshi Chunqiu (呂氏春秋) bahkan menyebutkan bahwa rakyat suku Susha (夙沙) pernah berpihak kepada Shennong, dan klan ini berhasil menaklukkan suku Busui yang menolak tunduk. Kekuasaan klan Shennong pada akhirnya melemah di masa Kaisar Kuning, yang mengalahkan Kaisar Yan dalam Pertempuran Banquan sebelum kemudian menggantikan dominasi klan Shennong sepenuhnya, demikian dicatat dalam Shiji (史記).
Wang Fu (王符) dari Dinasti Han Timur dalam Qianfu Lun (潛夫論) menjelaskan bahwa Shennong adalah gelar yang diwariskan turun-temurun, dan Kaisar Merah Kuiwei merupakan penerus gelar tersebut yang dikenal sebagai Kaisar Yan.

Ilustrasi Shennong sedang memacul tanah. Ilustrasi ini dibuat pada zaman Dinasti Han. Foto: WIKIPEDIA
Perut Kristal dan Misi Berbahaya Mencicipi Ratusan Herbal
Dari sekian banyak legenda tentang Shennong, kisah mencicipi ratusan tanaman herbal adalah yang paling dikenal luas. Menurut tradisi lisan yang berkembang, Shennong memiliki tubuh yang transparan, yakni organ dalamnya dapat terlihat dari luar, sehingga ia bisa langsung mengamati reaksi tubuhnya setelah mengonsumsi berbagai jenis tanaman. Jika tanaman itu beracun, organ dalamnya akan berubah hitam.
Dengan cara inilah ia mengidentifikasi khasiat dan bahaya ratusan tumbuhan secara langsung. Shennong Bencao Jing (神農本草經) mencatat bahwa dalam satu hari ia bisa menemui tujuh puluh dua racun yang berbeda, dan menggunakan teh sebagai penawarnya, menjadikan Shennong sebagai tokoh yang secara tradisional dikaitkan dengan penemuan minuman teh.
Lu Yu (陸羽) dari Dinasti Tang dalam Chajing (茶經) atau Klasik Teh secara eksplisit menyatakan bahwa tradisi minum teh bermula dari Shennong. Selain itu, Shennong juga disebut memiliki cambuk sakti berwarna merah, yang digunakannya untuk melecut berbagai tanaman guna mengidentifikasi sifat dingin, panas, dan karakteristik lainnya.
Kisah ini berakhir tragis, yakni Shennong akhirnya meninggal setelah mengonsumsi rumput pemutus usus yang racunnya terlalu kuat untuk ditawarkan. Meski para cendekiawan Dinasti Ming telah mengklarifikasi bahwa versi kematian ini kemungkinan besar adalah desas-desus yang keliru, kisah tersebut tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai simbol pengorbanan demi keselamatan umat manusia.
![]()
Klan Shennong. Foto: WIKIPEDIA
Warisan Pertanian dan Jejak Fisik di Provinsi Hubei
Di luar pengobatan, Shennong juga dikreditkan sebagai pelopor pertanian. Ia diyakini sebagai penemu bajak kayu, yakni diyakini menjadi alat pertanian pertama yang merevolusi cara manusia mengolah tanah. Ia pula yang memerintahkan rakyat mengumpulkan benih palawija dan menaburkannya di lahan yang telah dibuka, meletakkan dasar sistem pertanian yang kemudian berkembang menjadi tulang punggung peradaban Tiongkok.
Jejak fisik Shennong masih dapat ditemukan hingga hari ini di Gunung Lieshan, sekitar 55 kilometer dari pusat kota Suizhou, Provinsi Hubei. Di sana terdapat Gua Shennong yang konon menyimpan meja batu, bangku batu, mangkuk batu, dan ranjang batu peninggalannya, serta berbagai bangunan bersejarah seperti Sumur Shennong, Kediaman Shennong, dan Kuil Kaisar Yan.
Di kawasan pegunungan barat Provinsi Hubei juga terdapat tempat bernama Shennongjia, nama yang berasal dari legenda bahwa Shennong pernah mendirikan kerangka kayu di sana untuk memetik tanaman obat di ketinggian.
![]()
Kaisar Yan dari Klan Shennong. Foto: Wikipedia
Pemujaan Lintas Batas: Taiwan, Vietnam, hingga Yakuza Jepang
Pengaruh Shennong melampaui batas geografis Daratan Tiongkok. Di Taiwan, kepercayaan terhadap Kaisar Agung Shennong atau Kaisar Agung Lima Palawija sangat berakar kuat, terutama di komunitas Hakka yang leluhurnya berasal dari Prefektur Tingzhou, Fujian, dan wilayah timur Guangdong. Tercatat lebih dari 130 kuil di Taiwan yang menjadikan Kaisar Agung Shennong sebagai dewa utama, dengan ritual pemujaan yang diadakan setiap tanggal 26 bulan empat kalender lunar.
Di Vietnam, Shennong bahkan ditempatkan sebagai leluhur pertama bangsa dalam tradisi legenda setempat. Yang paling tidak terduga, di Jepang, Shennong dipuja oleh para pedagang obat, dokter, dan pedagang kaki lima. Festival Shennong digelar di Yushima Seido, Tokyo. Karena kelompok pedagang kaki lima pada zaman dahulu berevolusi menjadi kelompok dunia hitam, bahkan sindikat kejahatan terorganisir dan para penjudi pun ikut memasukkan Shennong ke dalam jajaran dewa yang mereka hormati. Tentunya ini menjadi sebuah ironi yang mencerminkan betapa luasnya cakupan pengaruh tokoh legendaris ini, dari ladang pertanian hingga lorong-lorong bawah tanah dunia kriminal Jepang.