Di balik nama besar CTBC Financial Holding, ada sosok yang selama puluhan tahun menjadi salah satu pilar paling berpengaruh dalam lanskap bisnis dan diplomasi Taiwan.
Jeffrey Koo Sr. (辜濂松), yang lahir pada 8 September 1933 dari keluarga Koo yang bersejarah di Lukang, bukan sekadar pemimpin korporasi, ia adalah representasi generasi pengusaha Taiwan yang membangun reputasinya di persimpangan antara dunia bisnis, diplomasi, dan filantropi.
Ia wafat pada 6 Desember 2012 di Memorial Sloan-Kettering Cancer Center, New York, akibat tumor otak, pada usia 79 tahun, dan dimakamkan di Pemakaman Chin Pao San.
Perjalanan hidup Jeffrey Koo Sr. dimulai dari latar belakang yang tidak mudah. Saat ia baru berusia empat tahun, ayahnya Koo Yueh-fu (辜岳甫) dan kakeknya Koo Hsien-jung (辜顯榮) wafat berturut-turut. Ia kemudian dibesarkan seorang diri oleh ibundanya, Koo Yen Pi-hsia (辜顏碧霞), dan dididik oleh pamannya, Koo Chen-fu (辜振甫), untuk meneruskan warisan generasi ketiga keluarga Koo dari Lukang.
Dari fondasi keluarga yang sarat sejarah itulah Jeffrey Koo Sr. membangun kariernya, hingga akhirnya menjabat sebagai Ketua CTBC Financial Holding, Penasihat Senior Istana Kepresidenan Republik Tiongkok, dan Ketua Dewan Yayasan Budaya Komunitas Internasional Taipei.
Ia juga kerap mewakili Taiwan dalam forum diplomatik bisnis internasional seperti APEC, serta menjadi pendukung setia program budaya Novel Hall selama bertahun-tahun.
Salah satu warisan sosialnya yang paling berkesan adalah kampanye Nyalakan Api Kehidupan yang ia gagas pada 1985, yakni program penggalangan dana untuk anak-anak kurang mampu yang menjadi yang pertama kali diprakarsai oleh perusahaan swasta dalam negeri Taiwan, sekaligus yang memiliki sejarah paling panjang hingga saat ini.
Atas berbagai kontribusinya, ia menerima sejumlah penghargaan kehormatan bergengsi, termasuk Bintang Brilliant Star Kelas Kedua dan Bintang Propitious Clouds Kelas Kedua dari pemerintah Republik Tiongkok, serta Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star dari Jepang yang diumumkan pada April 2012, hanya beberapa bulan sebelum kepergiannya.
Kisah Cinta yang Dimulai dari Reuni Nenek-Nenek di Tokyo
Di balik sosok pengusaha berpengaruh itu, tersimpan kisah pernikahan yang hangat dan penuh humor. Pada 1963, ibunda Jeffrey Koo Sr. memanggilnya pulang dari Amerika Serikat dan memintanya mampir ke Jepang untuk menemani menghadiri reuni teman SMA.
Dengan enggan sembari berkata "Untuk apa pergi melihat sekumpulan nenek-nenek?", ia tetap menuruti keinginan sang ibu. Di sanalah ia pertama kali bertemu Koo Lin Jui-hui (辜林瑞慧), mahasiswi tingkat empat di Musashino Academia Musicae Jepang. Kesan pertama keduanya sama-sama menggelikan, yakni Jeffrey Koo Sr. yang tujuh tahun lebih tua merasa Lin Jui-hui seperti seorang gadis kecil, sementara Lin Jui-hui yang datang dengan pikiran serupa , yakni "Untuk apa melihat kakek-kakek?", juga merasa berhadapan dengan seorang pria tua.
Namun pertemuan itu ternyata mengubah segalanya. Ibunda Lin Jui-hui dan ibunda Jeffrey Koo Sr. adalah teman sekelas SMA, itulah benang merah di balik pertemuan yang tampak kebetulan itu. Setelah sesi makan dan menonton film bersama, ibunda Jeffrey Koo Sr. kembali ke Taiwan lebih dulu, sementara Jeffrey Koo Sr. memilih tinggal di Jepang sepuluh bulan lebih lama. Alasannya sederhana namun mengungkapkan banyak hal, "Sangat banyak orang yang mengejarnya."
Ia bahkan sempat membocorkan dengan tawa, "Banyak tokoh terkenal saat ini yang dulunya pernah mengejarnya." Setelah sepuluh bulan menunggu, keduanya bertunangan di Jepang dan menikah di Taiwan pada akhir 1963.
![]()
Gedung CTBC di Taipei. Foto: WIKIPEDIA
Empat Anak, Satu Pembantu, dan Ibu Mertua yang Hanya Mau Berbahasa Hokkien
Masa awal pernikahan mereka jauh dari mudah. Dengan empat anak dan hanya satu pembantu, Lin Jui-hui yang tumbuh besar di Jepang sejak usia dua minggu harus belajar memasak, merawat anak, melayani ibu mertua yang sangat ketat, sekaligus belajar bahasa Hokkien dari nol, sementara satu-satunya kata Hokkien yang ia kuasai hanyalah "To-sia" atau terima kasih.
Jeffrey Koo Sr. mengenang masa itu dengan penuh rasa hormat, "Untung saja saya menikahinya, orang lain pasti tidak akan sanggup bertahan."
Lin Jui-hui menanggapinya dengan santai khas dirinya, "Saya datang ke keluarga Koo untuk bekerja, semua hal itu memang sudah seharusnya dikerjakan."
Rahasia kelanggengan pernikahan mereka selama empat dekade terungkap dalam wawancara eksklusif majalah Business Today pada 2003. Jeffrey Koo Sr. menyatakan bahwa kebahagiaan terbesar seorang pria adalah bisa bersantai saat pulang ke rumah, dan Lin Jui-hui mewujudkan itu dengan cara yang paling sederhana, tidak membebani suami dengan pertanyaan berat, cukup menanyakan apakah ia ingin minum teh atau mandi.
"Jika saya pulang ke rumah dan masih harus memutar otak memikirkan apa jadinya jika saya mengucapkan kalimat ini, itu terlalu melelahkan. Pernikahan semacam ini tidak akan bertahan lama," ujar Jeffrey Koo Sr.
Prinsip ini bahkan ia wariskan kepada putri satu-satunya, Koo Chung-yu (辜仲玉), "Hanya ada satu hal yang sangat penting, biarkan suamimu bisa bersantai saat pulang ke rumah."
Tuntutan Lin Jui-hui terhadap suaminya pun terbilang sederhana, yakni cuci tangan saat pulang dari luar, dan tidak boleh tidur sebelum mandi karena ada banyak bakteri. Soal hari ulang tahun pernikahan, selalu Lin Jui-hui yang memberikan hadiah, sementara Jeffrey Koo Sr. kerap baru teringat setelah menerima hadiah tersebut.
Setelah memasuki usia enam puluh tahun, Jeffrey Koo Sr. mengaku mulai menuruti semua perkataan istrinya dan baru menyadari betapa kerasnya Lin Jui-hui bekerja di masa muda.
"Dulu yang ada hanya karier, dari pagi hingga malam tidak ada hal lain," akunya. Tentang rahasia pernikahan yang langgeng, ia merenungkan sejenak sebelum menjawab dengan serius, "Hal terpenting dalam pernikahan adalah memiliki hati yang penuh pengertian. Tingkat pendidikan, uang, dan penampilan luar sama sekali tidak ada gunanya."
Kancing Manset yang Tidak Pernah Dikembalikan, Tapi Berbuah Seorang Putri
Ada satu anekdot yang selalu membuat Jeffrey Koo Sr. tertawa setiap kali diceritakan. Ia mengenal ayah mertuanya, seorang dokter sekaligus penyanyi tenor ternama, jauh sebelum mengenal Lin Jui-hui. Pada suatu pertunjukan di Taiwan, sang ayah mertua yang bersahabat baik dengan paman Jeffrey Koo Sr., Koo Wei-fu (辜偉甫), tiba-tiba menyadari kancing mansetnya hilang sesaat sebelum naik panggung. Koo Wei-fu meminjam kancing manset Jeffrey Koo Sr. dengan janji akan segera dikembalikan seusai pertunjukan. Hingga akhir hayatnya, kancing manset itu tidak pernah kembali.
Jeffrey Koo Sr. kerap berseloroh kepada istrinya, "Ayahmu berutang kancing manset padaku." Namun sang ayah mertua telah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga sebagai gantinya, yakni putri kesayangannya, yang mendampingi Jeffrey Koo Sr. hingga akhir hayatnya.
Koo Lin Jui-hui, penyanyi sopran profesional lulusan Musashino Academia Musicae, akhirnya berpulang dengan tenang di kediamannya pada 14 April, didampingi keempat anak dan cucu-cucunya, pada usia 83 tahun.
Sesuai wasiatnya sebagai penganut Kristen yang taat, upacara pemakaman dilangsungkan secara sederhana tanpa penghormatan publik terpisah, sebuah perpisahan yang mencerminkan kesederhanaan yang selalu ia junjung sepanjang hidupnya.