Bursa Efek Taipei terus menjadi magnet sejak awal tahun. Hingga 14 Mei 2026, indeks tercatat melesat 52,24%, memicu arus investor ritel yang kian deras masuk ke pasar. Data Bursa Efek Taiwan (TAIEX) menunjukkan jumlah rekening sekuritas pada April bertambah 98.558 dibanding Maret, sehingga totalnya mencapai 14.200.794 rekening, yang mana angka ini kembali memecahkan rekor.
Lonjakan pembukaan rekening juga terlihat pada kelompok usia muda. Penambahan rekening baru dari investor berusia di bawah 19 tahun mencapai lebih dari 20 ribu pada April, hanya berada di bawah kelompok usia 20–30 tahun.
Keterlibatan mahasiswa dan pelajar menengah yang minim pengalaman investasi memunculkan pertanyaan lama di pasar, apakah euforia ritel ini mengarah pada sinyal “teori tukang semir sepatu” bahwa puncak pasar sudah tidak jauh.
Sandy, seorang orang tua investor, menceritakan putranya mulai berinvestasi saham sejak kelas 12 SMA. Kebiasaan menabung sejak kecil, dari uang angpao dan uang saku, mendorong anaknya mengumpulkan dana lalu menempatkannya ke pasar saham melalui rekening sekuritas milik orang tua. Menurut Sandy, langkah itu juga didukung lingkungan keluarga yang sejak lama akrab dengan instrumen keuangan, sehingga anaknya terbiasa mengikuti pembicaraan dan dinamika pasar.
Kini, putra Sandy yang berusia 20 tahun sudah berada di tahun kedua kuliah dan mengantongi pengalaman investasi sekitar tiga tahun. Di tengah tren penguatan bursa, ia disebut tetap aktif memantau peluang. Sandy menyebut 70–80% teman sekelas anaknya belakangan kerap membahas arah pasar dan saham-saham yang sedang diminati.
Ia menilai peran orang tua adalah menanamkan disiplin, tidak menggunakan pembiayaan margin, membeli sesuai kemampuan dana, memilih saham yang fundamentalnya sehat, serta mempertimbangkan strategi investasi jangka panjang secara bertahap.
Sandy juga mengingatkan bahwa pasar tidak selalu naik. Menurutnya, saat harga bergerak turun, penopang utama tetap pekerjaan dan pengelolaan keuangan yang realistis. Karena itu, ia menekankan pentingnya mengajarkan bahwa keuntungan besar dalam periode tertentu tidak dapat dijadikan patokan tunggal, dan risiko koreksi selalu ada.
Fenomena partisipasi lintas usia tercermin dalam statistik kuartal pertama. Bursa TAIEX mencatat pembukaan rekening baru secara nasional melampaui 330 ribu, tertinggi sejak data tersebut dihimpun. Kelompok yang pertumbuhannya paling menonjol adalah remaja di bawah 19 tahun dan lansia di atas 61 tahun, mengindikasikan investasi tidak lagi didominasi kelompok usia produktif.
Kepala Divisi Riset 6 Taiwan Institute of Economic Research, Wu Meng-tao (吳孟道), menilai suasana pasar saat ini memperlihatkan “efek kawanan” dan gejala FOMO (fear of missing out). Dorongan untuk tidak tertinggal peluang, pengalaman, atau informasi terbaru membuat sebagian investor cenderung mengikuti arus. Meski begitu, Wu Meng-tao menilai perubahan zaman juga membawa pilihan instrumen yang lebih luas, seperti ETF dan reksa dana, sehingga minat generasi muda tidak selalu identik dengan spekulasi jika disertai literasi yang benar.
Di sisi lain, indikator pasar memunculkan kewaspadaan. Sejak Mei, “indikator Buffett” di bursa Taipei dilaporkan melonjak hingga 500% dan dinilai sebagian media asing sebagai kondisi berisiko. Bersamaan dengan itu, pembahasan “teori tukang semir sepatu” kembali menguat, terutama ketika investor pemula ikut aktif.
Kekhawatiran lain datang dari surplus tabungan Taiwan, tahun lalu menembus NT$5 triliun dan tahun ini diperkirakan mendekati NT$8,5 triliun, yang dipandang berpotensi mengalir ke saham dan properti serta meningkatkan risiko gelembung.
Wu Meng-tao menilai kenaikan surplus tabungan tidak bisa dilepaskan dari posisi industri Taiwan yang berada dalam gelombang AI, sehingga penguatan indeks memiliki dukungan fundamental dari sisi industri, arus dana, dan kondisi ekonomi. Namun, ia menegaskan bahwa ketika valuasi dinilai terlalu tinggi, koreksi merupakan mekanisme yang wajar. Dalam konteks arus dana, Wu Meng-tao menyoroti peran ETF, yakni dana yang berhasil dihimpun ETF pada akhirnya harus dialokasikan untuk membeli saham, sehingga turut memperkuat dorongan permintaan.
Ketua Asosiasi Sekuritas, Chen Chun-hung (陳俊宏), memandang dinamika volume transaksi sebagai bagian normal dari pasar. Ia mengingatkan bahwa perdebatan soal “overheat” juga pernah terjadi ketika nilai transaksi harian rata-rata meningkat dari sekitar NT$60 miliar ke NT$100–NT$200 miliar. Menurutnya, tren penghimpunan ETF yang terus membesar memperlihatkan pergeseran aliran kekayaan masyarakat, semakin besar dana yang masuk, pasar cenderung terangkat dan likuiditas meningkat, sementara transaksi tetap membutuhkan pembeli dan penjual agar pasar tidak stagnan.
Di tengah indeks yang sudah menembus 40 ribu poin dan nilai transaksi yang berulang kali melampaui triliunan NT$, wacana pencabutan keringanan pajak transaksi harian kembali mencuat. Chen Chun-hung menyebut porsi transaksi harian terhadap total volume selama ini relatif stabil di kisaran 37%–38%, sehingga perubahan kebijakan yang terlalu cepat berisiko memicu kegelisahan pasar.
Perjalanan indeks yang sempat jatuh di bawah 20 ribu poin setelah pengumuman tarif timbal balik oleh Presiden AS Donald Trump pada 7 April 2025, lalu pulih ke 30 ribu pada Januari 2026 dan menembus 40 ribu pada 4 Mei 2026, menjadi pengingat bahwa tren besar dapat berubah cepat. Apakah euforia “demam bursa” ini baru memasuki fase awal atau justru mendekati akhir, tentunya masih menunggu pembuktian waktu.