Pada Rabu pagi hari kemarin (27/5), NVIDIA menggelar pertemuan karyawan di Beitou-Shilin Technology Park untuk merayakan peresmian operasional kantor pusatnya di Taiwan. Dalam beberapa hari terakhir, banyak staf telah bersiaga di lokasi untuk melakukan persiapan, bahkan mendirikan tenda putih berukuran besar. CEO NVIDIA, Jensen Huang (黃仁勳), menyatakan bahwa setelah pembangunan rampung di masa mendatang, pihaknya akan kembali merekrut ribuan orang Taiwan.
Namun, saat ditanya mengenai kebutuhan energi pusat data di masa depan, Jensen Huang menekankan bahwa Taiwan membutuhkan lebih banyak energi, dan menambahkan, tanpa energi, maka tidak akan ada pertumbuhan ekonomi.
Setelah menikmati makan siang di sebuah restoran sup ayam khas Sichuan, Bapak AI Jensen Huang tidak berlama-lama dan mengatakan bahwa ia harus bergegas pergi bekerja. Tanggal 26 Mei 2026 kemarin adalah hari keempatnya berada di Taiwan, sekaligus malam menjelang upacara peletakan batu pertama kantor pusat NVIDIA di Taiwan.
Pertemuan karyawan NVIDIA pada Rabu kemarin dipandang sebagai tonggak sejarah yang penting. Setiap detail tidak boleh luput dari perhatian, dan para staf terus berpatroli untuk memastikan acara berjalan lancar. Jumlah karyawan NVIDIA di Taiwan mencapai 1.100 orang pada tahun 2024, tumbuh menjadi 1.800 orang pada tahun 2025, dan tahun ini telah menembus angka 2.000 orang. Lebih dari itu, mereka akan terus memperluas perekrutan ke depannya.
Gelombang kecerdasan buatan telah menciptakan lebih banyak peluang kerja bagi Taiwan dan juga mendongkrak seluruh rantai pasokan pabrikan Taiwan. Hingga Senin (25/5), kapitalisasi pasar saham Taiwan telah meroket ke angka US$4,95 triliun, hanya berada di bawah Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Hong Kong.
Taiwan kini menjadi pasar terbesar kelima di dunia, menggeser pasar saham India. Namun, lonjakan tajam permintaan AI juga berarti infrastruktur harus dipersiapkan dengan lebih matang.
CEO NVIDIA Jensen Huang mengatakan, "Permintaan global terhadap cip dan komputer Taiwan terus meningkat, dan Taiwan juga perlu membangun pusat data AI. Oleh karena itu, Taiwan membutuhkan lebih banyak energi. Tanpa energi, pertumbuhan ekonomi mustahil terjadi."
Jensen Huang menyerukan bahwa Taiwan membutuhkan lebih banyak energi. Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) pun secara langsung memberikan jaminan, menekankan bahwa pasokan listrik Taiwan akan stabil dan aman hingga tahun 2032. Seiring dengan melonjaknya daya komputasi AI, kekhawatiran akan ketersediaan energi harus berhasil diatasi agar Taiwan dapat terus menorehkan legenda di industri teknologi global.