Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Era Jerome Powell Berakhir: Warisan Kontroversial di Balik Delapan Tahun Memimpin The Fed

08/06/2026 Perspektif
Era Jerome Powell Berakhir: Warisan Kontroversial di Balik Delapan Tahun Memimpin The Fed (AFP)
Era Jerome Powell Berakhir: Warisan Kontroversial di Balik Delapan Tahun Memimpin The Fed (AFP)

Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve di Gedung Putih pada 22 Mei 2026, menandai berakhirnya era Jerome Powell yang berlangsung selama delapan tahun. Kepergian Powell meninggalkan pertanyaan besar di kalangan pasar dan akademisi, yakni bagaimana sejarah akan menilai seorang ketua bank sentral yang bukan ekonom akademis, namun harus menavigasi krisis bertubi-tubi yang belum pernah terjadi dalam satu periode kepemimpinan sebelumnya?

Jerome Powell memulai karier sebagai pengacara sebelum beralih ke perbankan investasi dan ekuitas swasta, kemudian masuk ke lingkaran kebijakan setelah dicalonkan oleh Presiden Barack Obama sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed pada 2012. Kemampuannya memadukan pengalaman pasar dengan kepiawaian lobi politik menjadikannya figur yang dapat diterima Washington maupun Wall Street, hingga Donald Trump menunjuknya sebagai Ketua The Fed pada 2018.

Selama delapan tahun menjabat, Jerome Powell menghadapi perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok, pandemi COVID-19, krisis rantai pasokan global, dan inflasi terburuk dalam empat dekade. Di masa pandemi, ia memimpin kebijakan pelonggaran kuantitatif tanpa batas dan suku bunga nol persen, yang dianggap sebagai langkah yang sukses mencegah keruntuhan pasar keuangan dan membuatnya dijuluki kapten penyelamat pasar oleh Wall Street.

Namun pernyataannya bahwa inflasi hanya bersifat sementara kemudian menjadi bumerang. Ketika Indeks Harga Konsumen melonjak ke 9,1% pada Juni 2022, The Fed terpaksa menaikkan suku bunga 11 kali berturut-turut antara Maret 2022 hingga Juli 2023 dengan akumulasi 5,25%, ini juga menjadi siklus pengetatan paling agresif sejak era 1980-an. Kebijakan ini memicu gejolak pasar hebat dan menekan sistem perbankan, sekaligus memantik pertanyaan apakah The Fed telah salah membaca perubahan struktural ekonomi global pascapandemi.

Penilaian sejarah terhadap Jerome Powell, menurut laporan MarketWatch, akan bergantung pada dua hal utama, yakni kemampuannya menekan inflasi secara nyata dan keberhasilannya menjaga independensi The Fed dari tekanan politik. Ketika inflasi turun ke 2,3% pada akhir musim panas 2024, Jerome Powell sempat menuai pujian luas. Namun IHK kembali merangkak ke 3,8% pada April tahun ini. Mantan pejabat senior The Fed, Vincent Reinhart, menegaskan bahwa posisi sejarah Jerome Powell yang sesungguhnya baru akan terlihat beberapa tahun ke depan.  

Nasibnya berpotensi menyerupai Alan Greenspan, yang semasa menjabat diibaratkan "dewa kekayaan" pencipta keajaiban ekonomi era Clinton, namun reputasinya runtuh setelah krisis keuangan global menghantam beberapa tahun usai ia pensiun pada 2006. Setelah Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada 2025, Jerome Powell berulang kali dihujat secara terbuka dan diintimidasi melalui instrumen hukum.

Puncaknya, setelah penyelidikan pidana diluncurkan, Jerome Powell mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ketua, namun tetap bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur, sebuah langkah yang dinilai pasar sebagai upaya mempersulit Donald Trump menguasai kursi mayoritas dewan.

Jerome Powell mungkin bukan ketua The Fed yang paling tajam secara teori ekonomi, bukan pula peramal inflasi paling akurat. Namun ia sangat mungkin tercatat sebagai gubernur bank sentral yang menanggung tekanan politik paling berat dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Pasar juga memprediksi bahwa setelah lengser, Jerome Powell akan menjadi figur yang diperebutkan Wall Street dan lembaga keuangan internasional, tidak mengejutkan jika ia kelak berlabuh di lembaga investasi besar, organisasi internasional, atau beralih ke ranah penelitian kebijakan publik. Gaya kepemimpinannya yang mengambil keputusan di tengah pilihan-pilihan yang tidak sempurna kemungkinan akan menjadi catatan paling ikonik dari era Powell.

 

Dilema Kevin Warsh: Ketua Baru The Fed Hadapi Ujian Pertama di Tengah Tekanan Berlapis

Kevin Warsh mewarisi kursi Ketua The Fed dalam kondisi yang tidak ringan. Inflasi yang dipicu ketegangan di Timur Tengah masih membayangi, desakan Donald Trump untuk memangkas suku bunga terus mengalir, sementara internal Dewan Gubernur terbelah tajam dalam hal arah kebijakan.

Kevin Warsh terjebak dalam dilema yang tidak memiliki jalan keluar tanpa risiko, yakni mempertahankan suku bunga tinggi berarti imbal hasil obligasi negara terus menanjak, memukul dolar dan surat utang Amerika Serikat, serta memperberat beban fiskal federal. Sebaliknya, memangkas suku bunga terlalu cepat berisiko menyulut kembali inflasi yang langsung menekan biaya hidup masyarakat. Dua pilihan, dua konsekuensi yang sama beratnya.

Kevin Warsh selama ini dikenal berhaluan ketat atau hawkish, namun pasar mencatat pergeseran sikapnya sejak proses seleksi ketua oleh Donald Trump pada 2025. Dalam wawancara dengan CNBC, ia untuk pertama kalinya melontarkan pernyataan bernada longgar atau dovish, yakni mendukung pemangkasan suku bunga, menyatakan ekonomi Amerika Serikat membutuhkan biaya pembiayaan lebih rendah, dan menekankan bahwa pengurangan neraca dapat menggantikan sebagian fungsi kenaikan suku bunga.

Sinyal ini mengindikasikan bahwa Kevin Warsh tidak akan lagi mengandalkan kerangka kebijakan instrumen tunggal yang didominasi suku bunga. Ke depan, ia kemungkinan menempuh pendekatan ganda, yakni memangkas suku bunga sekaligus menyusutkan neraca secara bersamaan, suku bunga untuk merespons siklus ekonomi, neraca untuk mengatur likuiditas dan menormalkan kondisi keuangan.

Kevin Warsh juga sebelumnya mengkritik kebiasaan The Fed yang terlalu bergantung pada grafik titik proyeksi suku bunga atau dot plot dan pernyataan publik yang terlalu sering. Menurutnya, hal itu membuat pasar keliru mengira bank sentral telah menjanjikan jalur kebijakan tertentu, sehingga justru mengikis fleksibilitas pengambilan keputusan.

Setelah menjabat, ia kemungkinan akan mengesampingkan dot plot dan forward guidance, mengurangi frekuensi pejabat berbicara di publik, bahkan berpotensi menyesuaikan frekuensi konferensi pers pascarapat. Konsekuensinya, investor akan semakin kesulitan meraba arah kebijakan lebih awal, ini tentunya akan menjadi kondisi yang berpotensi memperuncing volatilitas di pasar saham dan obligasi.

The Fed di bawah Kevin Warsh bukan sekadar pergantian personel. Ini adalah titik balik krusial bagi arah kebijakan moneter Amerika Serikat, penyelesaian masalah utang jangka panjang, dan masa depan sistem dolar secara keseluruhan. Kalangan pelaku pasar telah menetapkan rapat Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC yang dijadwalkan pada 16 hingga 17 Juni sebagai ujian kebijakan perdana bagi Kevin Warsh. Keputusan yang diambil dalam rapat itu akan menjadi sinyal awal seberapa jauh Kevin Warsh bersedia atau terpaksa bergeser dari posisi hawkish yang selama ini melekat pada namanya.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解