Dalam acara "Jiwa Muda" kali ini, 2 berita pilihan yang akan disampaikan berjudul "Tanaman-Tanaman Ini ternyata Beracun bagi Kucing, Kantor Perlindungan Hewan Kota New Taipei Merekomendasikan Tanaman Hias Lain" dan "Dibuka untuk Tenaga Kerja Asing, Industri Akomodasi dan Pelabuhan masih Butuh Penyesuaian". Sementara itu, topik utamanya adalah segmen wawancara bersama dengan Michelle Natadjaja yang mengalami berbagai pengalaman unik dan menarik di Taiwan.
Tanaman-Tanaman Ini ternyata Beracun bagi Kucing, Kantor Perlindungan Hewan Kota New Taipei Merekomendasikan Tanaman Hias Lain
Banyak orang yang senang memelihara tanaman hias di rumah, tapi ternyata beberapa tanaman hias dalam pot dapat menimbulkan bahaya yang mematikan bagi binatang kesayangan Anda, utamanya kucing. Oleh sebab itu, Kantor Perlindungan Hewan Kota New Taipei pun membuat daftar khusus yang dapat Anda perhatikan.
Kantor Perlindungan Hewan Kota New Taipei menyatakan bahwa, menurut data medis hewan peliharaan domestik dan internasional, keracunan tanaman termasuk dalam tiga penyebab utama kematian dan cedera akibat kecelakaan. Mengambil contoh tanaman lili yang paling umum, meskipun aman bagi manusia, seluruh tanaman sangat beracun bagi kucing. Bahkan kontak dengan sedikit serbuk sari atau minum air dari vas dapat menyebabkan gagal ginjal akut dalam waktu singkat. Jika perawatan dokter hewan tidak dilakukan pada tahap awal keracunan (dalam 4 jam pertama), hal itu dapat menyebabkan gagal ginjal yang tidak dapat dipulihkan.
Selain itu, tanaman hias dalam pot, seperti palem sagu (cycas revoluta), rhododendron (azalea), dan Nippon lily (rohdea japonica) dapat merusak sistem saraf, hati, dan mukosa mulut kucing secara serius. Untuk membantu masyarakat mengidentifikasi tanaman-tanaman ini, Kantor Perlindungan Hewan telah memperkenalkan sistem "lampu lalu lintas tanaman hias", yang membagi tanaman umum menjadi zona merah, kuning, dan hijau.
Tanaman umum yang masuk zona merah (sangat dilarang) meliputi bunga lili, palem sagu (cycas revoluta), rhododendron (azalea), dan cocor bebek berbunga. Tanaman yang masuk zona kuning (hindari kontak) antara lain sirih gading emas, Nippon lily (rohdea japonica), ceriman, dan lidah buaya. Tanaman-tanaman ini dapat dengan mudah menyebabkan muntah dan membuat binatang kesayangan Anda mengeluarkan air liur. Sementara zona hijau (ramah kucing) terdiri dari rumput kucing (rumput gandum), pakis boston (nephrolepis exaltata), tanaman laba-laba (lili paris), dan anggrek bulan. Namun, meski aman, tetap disarankan untuk menghindari pengunyahan berlebihan.
Dokter hewan dari Kantor Perlindungan Hewan mengingatkan pemilik hewan peliharaan bahwa jika mereka melihat air liur berlebihan, muntah, diare, lesu, atau jalan yang tidak stabil pada kucing mereka, atau jika ada tanaman bercahaya merah atau kuning di rumah yang telah dimakan kucing, mereka harus segera mengambil foto tanaman tersebut atau membawa sisa-sisa tanaman tersebut ke rumah sakit hewan untuk perawatan. Pemilik hewan peliharaan tidak boleh mencoba untuk memicu muntah pada kucing mereka sendiri, karena hal ini dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Sangat penting untuk mencari pertolongan medis darurat dalam waktu empat jam kritis.
Kantor Perlindungan Hewan Kota New Taipei mendesak semua orang untuk memperhatikan dekorasi rumah dan keamanan makanan. Kelalaian yang membahayakan hewan dapat melanggar hukum perlindungan hewan. Untuk masalah perawatan atau medis hewan peliharaan, silakan hubungi hotline perlindungan hewan 1959 (layanan 24 jam) atau hotline konsultasi dokter hewan Kantor Perlindungan Hewan (2959-6353) untuk konsultasi gratis guna membantu melindungi kesehatan teman-teman berbulu Anda.
Dibuka untuk Tenaga Kerja Asing, Industri Akomodasi dan Pelabuhan masih Butuh Penyesuaian
Terkait dengan kurangnya tenaga kerja, menghindari ketergantungan pada upah rendah, dan memperkuat peran pemerintah dalam merekrut pekerja asing, Kementerian Tenaga Kerja (MOL) pun meluncurkan “Program Tenaga Kerja Transnasional”. Program ini mengizinkan industri akomodasi dan pelabuhan untuk merekrut pekerja migran asing melalui pusat usat perekrutan tenaga kerja transnasional setelah menaikkan upah bagi penduduk lokal. Namun, program ini belum sepenuhnya diimplementasikan. Para ahli mengatakan program ini gagal memenuhi kebutuhan aktual dan menyerukan penyesuaian berkelanjutan.
Mulai tahun ini, MOL telah membuka lowongan “pemuatan dan pembongkaran kargo di pelabuhan komersial" dan "jasa akomodasi." Pihak pengusaha harus terlebih dahulu menaikkan upah pekerja lokal sebesar NT$2.000 sebelum industri akomodasi dan pelabuhan dapat mengimpor pekerja terampil asing dengan gaji minimal NT$32.000 dan NT$39.000 masing-masing.
Diketahui bahwa belum ada operator terminal pelabuhan yang mengajukan sertifikasi kualifikasi, sementara tiga operator akomodasi telah menerima surat sertifikasi tetapi belum mendatangkan pekerja. Pusat perekrutan Taiwan membatasi jumlah calon potensial karena penundaan penandatanganan perjanjian pelatihan dan sertifikasi dengan Filipina. Kementerian Tenaga Kerja juga baru-baru ini menetapkan bahwa operator akomodasi dapat "menunjuk dan mempekerjakan" mahasiswa asing yang telah magang di Taiwan dalam tiga tahun terakhir.
Para ahli mengatakan bahwa gaji sebesar NT$32.000 bukanlah masalah bagi hotel-hotel kelas atas. Para pekerja magang asing hanya diwajibkan membayar upah minimum, dibebaskan dari biaya asuransi tenaga kerja, dan tidak tunduk pada undang-undang ketenagakerjaan. Jam kerja mereka dapat diperpanjang secara pribadi melalui kesepakatan bersama, sehingga menyulitkan pengawasan pemerintah. Selain itu, banyak bisnis di Taiwan yang banyak menggunakan mahasiswa asing.
Sedangkan untuk industri pelabuhan dan dermaga, para ahli menganalisis bahwa gaji reguler untuk pekerja terampil adalah NT$39.000. Dengan pembayaran lembur, gaji mendekati NT$48.000, berpotensi lebih tinggi daripada gaji pekerja lokal. Bagi bisnis, lebih menguntungkan untuk langsung menggunakan pekerja kerah putih, yang menghadapi lebih sedikit batasan.
Chu Chien-hui, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pariwisata dan Hotel, juga menyatakan bahwa di masa lalu, pekerja magang asing sebagian besar berasal dari Indonesia dan Vietnam. Industri perhotelan kurang familiar dengan pekerja Filipina, dan ambang batas gaji NT$32.000 dapat menyebabkan reaksi negatif dari pekerja tingkat pemula. Rendahnya minat perusahaan untuk mengajukan permohonan sudah "dapat diprediksi."
Dinas Pariwisata menyatakan akan mendesak Kementerian Tenaga Kerja untuk mempercepat proses pengenalan tenaga kerja terampil asing Indonesia. Biro Kelautan dan Pelabuhan menyatakan bahwa beberapa perusahaan sudah berada pada tahap awal proses permohonan dan akan mengajukan permohonan setelah dokumen yang diperlukan siap.
Seorang pejabat dari Kementerian Tenaga Kerja mengatakan bahwa tiga penyedia akomodasi telah lulus penilaian kualifikasi, dan sebagian besar berada dalam tahap uji coba. Mengenai pengaturan pelatihan dan pengujian keterampilan di luar negeri, yang belum disetujui oleh negara asal, perekrutan saat ini dapat dilakukan melalui lulusan dengan gelar sarjana atau lebih tinggi dari jurusan terkait di universitas asing, atau dengan secara khusus merekrut peserta magang yang sebelumnya telah belajar di Taiwan. Industri terminal pelabuhan komersial sudah membutuhkan lebih sedikit personel daripada industri akomodasi, tetapi permintaan dari perusahaan masih terus diterima.
Wawancara: Michelle Natadjaja, Beruntung atau Mukjizat? Gadis Ini Mengalami Berbagai Pengalaman Unik dan Menarik di Taiwan
Michelle merupakan seorang gadis asal Semarang yang kuliah dan kini berkarir di sebuah perusahaan teknologi bergengsi yang ada di Taiwan. Ia pun memiliki berbagai kisah unik dan menarik selama berada di Taiwan, apakah hal-hal tersebut hanya sebuah keberuntungan, mukjizat, atau justru merupakan nasib dan takdirnya? Yuk kita cek di wawancara ini!