Chen Cheng (陳誠), yang juga dikenal dengan nama kehormatan Cixiu (辭修), merupakan Jenderal Bintang Empat Angkatan Darat Republik Tiongkok sekaligus tokoh sentral dalam partai, pemerintahan, dan militer Kuomintang. Kelompok militernya dikenal sebagai kekuatan inti dari pasukan garis keturunan langsung Chiang Kai-shek (蔣中正). Sejak menempuh pendidikan di Akademi Militer Whampoa, ia terus mendampingi Chiang Kai-shek dan bertransformasi menjadi jenderal kepercayaannya. Ia pernah memegang berbagai posisi strategis, mulai dari Komandan Korps, Menteri Urusan Militer, hingga akhirnya menjabat sebagai Gubernur Provinsi Taiwan, Perdana Menteri, dan Wakil Presiden.
Masa Muda dan Awal Karier Militer
Lahir dari keluarga petani di Kabupaten Qingtian, Provinsi Zhejiang, Chen Cheng kecil memiliki fisik yang rentan dan sering sakit. Meski kondisi ekonomi keluarganya terbatas, tekadnya untuk menempuh pendidikan sangat kuat. Pada tahun 1912, ia secara diam-diam berjalan kaki sejauh 100 li (sekitar 50KM) demi mengikuti ujian masuk sekolah guru di Chuzhou. Setelah lulus dari Sekolah Normal Kesebelas Provinsi pada 1917, ia sempat mencoba mendaftar ke Akademi Militer Angkatan Darat Jepang, tetapi ditolak karena postur tubuhnya dinilai terlalu kecil.
Jalan karier militernya terbuka pada 1919 ketika ia berhasil masuk ke Akademi Perwira Baoding jurusan artileri berkat rekomendasi kenalan ayahnya. Setelah lulus pada 1922, ia ditugaskan di Tentara Zhejiang sebelum akhirnya nekat pergi ke Guangzhou untuk bergabung dengan mantan gurunya, Deng Yan-da (鄧演達), di bawah naungan pemerintahan Sun Yat-sen (孫中山).

Chen Cheng (kanan) sedang memeriksa pasukan dengan Chiang Kai-shek. (WIKIPEDIA)
Kiprah di Whampoa dan Ekspedisi Timur
Kariernya mulai menanjak saat ia bertugas sebagai pengawal di Markas Besar Sun Yat-sen. Pertemuan pertamanya dengan Chiang Kai-shek terjadi di sebuah rumah sakit setelah Chen Cheng terluka parah di bagian dada dalam pertempuran di Zhaoqing. Saat Akademi Militer Whampoa didirikan pada 1924, Chen ditunjuk sebagai instruktur artileri.
Keberaniannya teruji dalam Ekspedisi Timur pertama pada 1925. Dalam Pertempuran Mianhu (棉湖戰鬥), pasukannya yang kalah jumlah harus menahan serangan besar musuh. Chen Cheng, yang saat itu terluka di lengan, secara pribadi membidik dan menembakkan meriam yang tepat menghancurkan markas komando musuh. Aksi heroik ini disaksikan langsung oleh Chiang Kai-shek dan penasihat Soviet, Mikhail Borodin. Keberhasilan tersebut membuatnya mendapat julukan jenderal yang Bangkit Berkat Tiga Tembakan Meriam.
Ekspedisi Utara dan Lahirnya Faksi Tumu
Memasuki masa Ekspedisi Utara pada 1926, Chen Cheng dipromosikan menjadi komandan resimen. Pasukannya memainkan peran kunci dalam menaklukkan wilayah Zhejiang dan Jiangsu melalui taktik serangan malam dan pencegatan logistik musuh. Prestasinya ini membawanya naik pangkat menjadi Komandan Divisi Kedua Puluh Satu.
Pada Perang Dataran Tengah tahun 1930, Chen Cheng kembali mencetak kemenangan gemilang di berbagai front, termasuk di Mamuji dan Qufu. Keberhasilannya ini membuatnya dipromosikan menjadi Komandan Korps Kedelapan Belas. Dari sinilah lahir faksi militer yang dikenal sebagai Faksi Tumu. Nama ini diambil dari karakter Mandarin Sebelas yang membentuk huruf Tanah (), dan Delapan Belas yang membentuk huruf Kayu (木). Divisi Kesebelas dan Korps Kedelapan Belas ini kelak menjadi tulang punggung kekuatan militer Kuomintang.
![]()
Pertunangan Chen Shing dan Tan Xiang (1932). (WIKIPEDIA)
Perang Saudara dan Insiden Xi'an
Setelah Perang Dataran Tengah berakhir, Chiang Kai-shek menugaskan Chen Cheng untuk memimpin operasi militer melawan pangkalan komunis di Jiangxi. Dalam periode ini, ia aktif membangun infrastruktur militer dan memimpin berbagai kampanye pengepungan. Melalui surat-surat kepada keluarganya, ia kerap menyampaikan pandangan kritisnya mengenai peran militer yang seharusnya melindungi rakyat, bukan menjadi alat penindas bagi para pejabat korup.
Pada Desember 1936, dinamika politik Tiongkok terguncang oleh Insiden Xi'an. Chen Cheng, bersama Chiang Kai-shek dan sejumlah pejabat tinggi militer lainnya, ditahan di Wisma Xijing oleh pasukan Zhang Xue-liang (張學良). Insiden bersejarah ini pada akhirnya memaksa faksi-faksi yang bertikai untuk merundingkan gencatan senjata demi menghadapi ancaman eksternal.
Perang Tiongkok-Jepang Kedua
Menjelang pecahnya Perang Perlawanan terhadap Jepang, Chen Cheng diangkat sebagai Wakil Menteri Urusan Politik. Ia memimpin program pelatihan militer di Lushan guna menyatukan visi perlawanan nasional. Saat Pertempuran Songhu meletus di Shanghai pada Agustus 1937, Chiang Kai-shek menunjuknya sebagai Komandan Tertinggi Garis Depan Wilayah Perang Ketiga. Chen Cheng memimpin ratusan ribu pasukan elit nasionalis untuk mempertahankan garis pertahanan dari invasi Jepang.
Ketika pusat pemerintahan pindah ke Wuhan pada 1938, ia dipercaya sebagai Panglima Tertinggi Komando Garnisun kota tersebut untuk merancang sistem pertahanan berlapis. Di posisinya sebagai Menteri Departemen Politik, ia menunjukkan sikap pragmatis dengan membangun front persatuan. Ia secara terbuka mengundang Zhou En-lai (周恩来), rekannya semasa di Whampoa yang berada di kubu Komunis, untuk menjabat sebagai Wakil Menteri.
Kolaborasi lintas faksi ini menjadi salah satu momen penting dalam upaya konsolidasi kekuatan militer dan politik Tiongkok guna menghadapi agresi militer Jepang di wilayah perang tersebut.