Huye atau Tiger Lord (虎爺) dikenal dalam tradisi Taoisme sebagai sosok dewa berwujud harimau yang kerap disebut masyarakat sebagai Huye Gong (虎爺公), Huye Jiangjun (虎爺將軍), atau Hu Jiangjun (虎將軍). Dalam penyebutan kehormatan, ia juga dipanggil Xia Tan Jiangjun (下壇將軍) dan Jin Hu Jiangjun (金虎將).
Dalam tradisi pemujaannya, Huye dibedakan menjadi dua tipe utama, yakni berbulu hitam dan berbulu kuning. Peran Huye tidak hanya dipahami sebagai figur simbolik, melainkan juga sebagai pelindung ruang-ruang komunal, mulai dari lingkungan kuil hingga kawasan permukiman, serta dikaitkan dengan fungsi menjaga desa, daerah, dan kota.
Narasi asal-usul Huye berangkat dari jejak pemujaan alam terhadap harimau yang sudah ada sejak masa kuno di Tiongkok, lalu berkembang menjadi bagian dari kepercayaan rakyat.
Ada pepatah yang menyatakan “Dewa Bumi menguasai harimau di pegunungan”, yang mencerminkan keyakinan bahwa harimau berada di bawah kendali dewa tanah. Dalam pandangan tersebut, harimau yang telah “ditundukkan” oleh Dewa Gunung, Dewa Bumi, Dewa Chenghuang, maupun dewa lain dipercaya memperoleh kekuatan Ilahi.
Di depan Huye di Kuil Sidian Xingji, terlihat telur ayam mentah yang digunakan sebagai persembahan. (WIKIPEDIA)
Ia tidak melukai manusia dan ternak, sekaligus bertugas melindungi manusia. Dari kerangka keyakinan inilah muncul sebutan Huye yang kemudian dihormati dan dipuja secara sungguh-sungguh.
Dalam tradisi keagamaan, keberadaan harimau juga muncul sebagai tunggangan berbagai tokoh dan dewa lain, yang sering menimbulkan kekeliruan dengan Huye.
Disebutkan, Jinmu Yaochi (瑤池金母) berkeliling menunggang harimau putih, Zhang Dao-ling (張道陵) disebut menunggang harimau memasuki pegunungan, Bao Sheng Da Di (保生大帝) dikisahkan mengobati tenggorokan harimau sehingga menundukkannya, dan sejumlah figur lain. Catatan ini menegaskan bahwa “harimau sebagai tunggangan” adalah motif luas, sementara Huye memiliki kedudukan dan konteks pemujaan tersendiri.
Dalam ranah praktik kepercayaan, Huye kerap diposisikan sebagai tunggangan Dewa Bumi dan sejumlah dewa lainnya. Ia juga dipandang sebagai dewa pembuka jalan dan pemimpin barisan dalam perayaan kuil dan kegiatan seremonial komunitas.
Fungsi lainnya mencakup menjaga kuil, kota, dan desa, serta mengusir roh jahat dan makhluk gaib. Di banyak wilayah, Huye dihubungkan dengan perlindungan terhadap anak-anak, tradisi setempat bahkan mengenal praktik menjadikan Huye sebagai “ayah angkat” bagi anak. Dalam perkembangan modern, keyakinan perlindungan itu juga kerap diperluas pada hewan peliharaan, sehingga ada pula yang “mempersembahkan” hewan peliharaan untuk memuja Huye sebagai ayah angkat.
Selain fungsi protektif, Huye juga dikaitkan dengan aspek rezeki melalui ungkapan “Huye menggigit uang datang 虎爺咬錢來”. Dalam praktiknya, di dekat altar Huye kerap ditempatkan mangkuk kecil berisi air dengan uang koin di dalamnya, yang dikenal sebagai “air uang錢水”.
Umat dapat menukar koin minimal senilai yang sama untuk memperoleh “uang induk 錢母” , lalu menyimpannya di amplop merah atau kantong jimat. Tradisi ini dipahami sebagai cara memohon kelancaran rezeki.
![]()
Patung kayu Huye (WIKIPEDIA)
Di sisi lain, Huye juga dikaitkan dengan kemampuan pengobatan, khususnya untuk gondongan yang dalam sebutan awam disebut “kulit kepala babi”. Praktik yang disebutkan meliputi mengusap uang kertas persembahan pada mulut patung Huye lalu mengusapnya ke bagian yang sakit, atau memanggil Huye melalui medium/pendeta Tao dan menuliskan huruf “虎” pada bagian yang sakit menggunakan tinta cinnabar.
Di Wufu Gong, Distrik Bali, New Taipei, bahkan disebut ada sosok Huye Tianhu berusia seribu tahun yang diberi nama “Cai Yao Tong Zi採藥童子”.
Di Taiwan, pola penempatan Huye umumnya berada di bawah meja altar atau di bawah posisi dewa utama, dengan persembahan yang lazim berupa telur ayam mentah dan daging mentah. Hari kelahiran Huye umumnya diperingati pada tanggal 6 bulan 6 kalender Lunar.
Secara historis, wujud Huye di Taiwan pada masa awal didominasi bentuk harimau “asli”. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian kuil memuja bentuk-bentuk yang lebih beragam, mulai dari kepala harimau tubuh manusia, tubuh manusia bertopi harimau, hingga harimau terbang bersayap.
Di Singapura, pemujaan Huye dilaporkan memiliki tiga pola utama, ditempatkan di “Gua Huye” di belakang atau samping pintu besar kuil; ditempatkan di dalam kuil di depan para dewa; atau tidak menyediakan ruang khusus untuk Huye. Disebut pula bahwa kuil yang paling awal memuja Huye kemungkinan adalah Shuanglin Chenghuang Miao di Toa Payoh. Di dekatnya, Puzhong Miao menempatkan Huye di bawah altar Tiangong, dan pihak kuil menyebutnya sebagai “Harimau Tiangong”, tunggangan Taishang Laojun (太上老君).
![]()
Huye di Kuil Cheng Huang Kota Taipei. (WIKIPEDIA)
Tradisi lain yang dicatat adalah ritual “memuja Huye, memukul xiaoren拜虎爺,打小人” yang populer di Delta Sungai Mutiara Guangdong dan Hong Kong, dan dikaitkan dengan praktik “yansheng 厭勝” dari masa Dinasti Tang. Ritual ini biasanya dilakukan pada hari Jingzhe, atau pada tanggal 6, 16, 26 kalender Lunar, atau hari tertentu yang disebut “hari chu 除日”.
Dalam prosesi, sepotong daging babi mentah dicelup darah babi dimasukkan ke mulut harimau kertas, lalu darah dioleskan ke mulutnya, dengan tujuan simbolik agar harimau “kenyang” dan tidak membuka mulut untuk menyakiti orang. Di beberapa tempat, harimau kertas dibakar atau kepalanya dipotong dengan pedang tembaga. Tradisi ini disebut menyebar ke Malaysia.
Di Taiwan, istilah “Huye makan petasan 喫炮” disebut terkait ritual “mengebom tandu dewa” yang lazim dalam festival kuil, khususnya dalam arak-arakan Mazu di Beigang, Yunlin, pada tanggal 19 dan 20 bulan tiga kalender Lunar.
Dalam prosesi, umat menyalakan banyak petasan di bawah tandu untuk menyambut Mazu dan menyatakan rasa syukur atas perlindungan.
Secara keseluruhan, Huye hadir sebagai figur yang menjembatani aspek kosmologi, perlindungan ruang, hingga praktik ritual dalam kehidupan komunal. Dari Taiwan hingga Singapura, variasi bentuk pemujaan, persembahan, serta ritual menunjukkan bagaimana satu figur kepercayaan dapat dipahami melalui fungsi sosial yang berbeda-beda, tanpa melepaskan kerangka narasi utamanya sebagai dewa berwujud harimau dalam tradisi Taoisme.