Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Mikroplastik: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mengintai dari Dalam Tubuh  

22/06/2026 Perspektif
Mikroplastik: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mengintai dari Dalam Tubuh (Ilustrasi: Unsplash)
Mikroplastik: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mengintai dari Dalam Tubuh (Ilustrasi: Unsplash)

Plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun di balik kenyamanan yang ditawarkannya, tersimpan ancaman kesehatan yang kian mendapat perhatian serius dari komunitas ilmiah global. Berbagai aktivitas sehari-hari yang tampak sepele, mulai dari meminum air kemasan, mencuci pakaian berbahan sintetis, hingga mengunyah permen karet, ternyata secara konsisten menghasilkan partikel plastik berukuran sangat kecil yang masuk ke dalam tubuh manusia. Isu ini kini telah menjadi agenda prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah badan regulasi di berbagai negara.

 

Apa Itu Mikroplastik dan dari Mana Asalnya?

Kepala Badan Pengelolaan Bahan Kimia Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan, Tsai Meng-yu (蔡孟裕), menjelaskan bahwa mikroplastik didefinisikan sebagai serpihan atau partikel plastik padat dengan diameter kurang dari 5 milimeter. Partikel ini dapat ditemukan di air, tanah, udara, hingga di dalam tubuh makhluk hidup, dengan bentuk yang sangat beragam, mulai dari butiran bulat, serat memanjang, hingga serpihan tak beraturan.

Terdapat tiga sumber utama mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, mikroplastik primer yang berasal langsung dari produk konsumen, seperti butiran microbeads pada sabun cuci muka, pasta gigi, dan produk pembersih.

Kedua, pelapukan produk plastik seperti kantong plastik, botol PET, dan bahan kemasan yang terpapar sinar matahari, cuaca, gesekan, atau ombak laut hingga hancur menjadi partikel yang semakin kecil.

Ketiga, pelepasan dari serat sintetis dan produk petrokimia, pakaian berbahan poliester dan nilon melepaskan serat mikro saat dicuci atau dikeringkan, sementara gesekan ban kendaraan dan cat juga menghasilkan partikel mikro yang sangat sulit dibersihkan dari lingkungan.

 

Masuk ke Tubuh Melalui Makanan dan Udara

Direktur Pusat Toksikologi Klinis Rumah Sakit Chang Gung Lin-Kou sekaligus pakar toksikologi, Yen Tzung-hai (顏宗海), memaparkan bahwa produk plastik yang dibuang ke lingkungan akan menjadi rapuh seiring waktu, terdegradasi menjadi ukuran mikrometer bahkan nanometer, lalu masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan dan pernapasan. Penelitian dari ilmuwan Amerika Serikat menghitung bahwa setiap liter air kemasan mengandung sekitar 240.000 partikel mikroplastik, yang mana ini adalah angka yang jauh melampaui perkiraan publik selama ini.

Penelitian mengenai dampak kesehatan mikroplastik terbagi ke dalam dua ranah utama. Dari sisi penelitian medis dasar menggunakan eksperimen hewan, paparan mikroplastik dosis tinggi terbukti menyebabkan kerusakan organ, memicu peradangan dan reaksi oksidatif seperti kelainan fungsi hati dan ginjal, serta meningkatkan risiko kanker.

Dari sisi klinis, mikroplastik telah berhasil terdeteksi dalam berbagai sampel tubuh manusia, mencakup darah, urine, feses, berbagai organ, hingga jaringan otak. Yen Tzung-hai mengakui bahwa hingga kini belum ada angka pasti mengenai ambang batas aman paparan mikroplastik bagi manusia dewasa sebelum menimbulkan kerusakan yang signifikan.

 

Ancaman Tersembunyi di Otak: Kaitan dengan Demensia

Yang paling mengkhawatirkan dari seluruh temuan ilmiah terkini adalah potensi kaitan mikroplastik dengan penyakit demensia. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal internasional Nature Medicine pada 2025 mengungkapkan temuan yang mengejutkan, yaitu kandungan mikroplastik pada otak beberapa subjek penelitian mencapai 7 gram, setara dengan berat lima tutup botol atau satu sendok plastic, dan jumlah ini secara signifikan lebih tinggi dibandingkan akumulasi di hati maupun ginjal.

Lebih jauh lagi, konsentrasi mikroplastik di otak penderita demensia ditemukan tiga hingga lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak mengidap penyakit tersebut. Meskipun hubungan sebab-akibat yang pasti masih terus diteliti, tingginya akumulasi plastik di jaringan otak telah memicu kewaspadaan global di kalangan komunitas medis.

Yen Tzung-hai menjelaskan mekanisme yang memungkinkan hal ini terjadi. Karena ukurannya yang mencapai tingkat nanometer, mikroplastik mampu menembus sawar darah otak (blood-brain barrier), lapisan pelindung yang secara normal memblokir sebagian besar zat asing dalam darah agar tidak masuk ke jaringan otak. .

“Bahan kimia apa pun di dalam darah biasanya tidak bisa melewati sawar darah otak. Fakta bahwa mikroplastik bisa mengendap di otak menunjukkan bahwa ukurannya yang sangat kecil memungkinkannya menembus pertahanan tersebut, yang berpotensi memicu lesi otak dan meningkatkan risiko demensia,” ujarnya.

 

Bahaya yang Datang dari Kebiasaan Tak Terduga

Ancaman mikroplastik ternyata juga datang dari kebiasaan yang sangat umum dan tidak pernah dicurigai sebelumnya. Penelitian dari University of California menemukan bahwa mengunyah permen karet melepaskan sekitar 100 hingga 600 partikel mikroplastik per gram hanya dalam delapan menit pertama kunyahan.

Kepala Departemen Eugenika Genetik Rumah Sakit Umum Veteran Taipei sekaligus pakar kedokteran genomik, Chang Chia-ming (張家銘), menggambarkan sifat fisik mikroplastik sebagai silet kecil yang menggores ke mana-mana, sehingga memicu peradangan sel secara konsisten.

Chang Chia-ming juga mengingatkan bahwa banyak orang tidak menyadari bahwa gelas kertas untuk kopi panas di minimarket memiliki lapisan plastik di bagian dalamnya. Setiap kali seseorang meminum kopi panas dari gelas tersebut, ia secara bersamaan menelan mikroplastik yang terlepas akibat panas.

Gesekan saat membuka tutup botol plastik pun menghasilkan partikel mikro yang langsung ikut terminum bersama isinya. Selain itu, mikroplastik dapat membawa zat peliat (plasticizer) atau menyerap zat beracun dari lingkungan yang berpotensi memicu mutasi DNA dan berbagai penyakit kronis.

 

Langkah Nyata untuk Mengurangi Paparan

Para pakar sepakat bahwa mengurangi paparan adalah strategi paling efektif yang tersedia saat ini, mengingat belum ada teknologi yang mampu mengurai atau mengeluarkan mikroplastik yang sudah mengendap di dalam tubuh. Beberapa langkah konkret yang direkomendasikan mencakup perubahan kebiasaan konsumsi dan pola makan sehari-hari.

Dari sisi konsumsi, masyarakat disarankan untuk mengurangi penggunaan wadah plastik, terutama untuk minuman panas. Merebus air minum terbukti secara ilmiah dapat menghilangkan hingga 90% kandungan mikroplastik. Memilih pakaian berbahan serat alami seperti katun dan linen sebagai pengganti serat sintetis juga dapat mengurangi paparan secara signifikan dalam jangka panjang.

Dari sisi pola makan, konsumsi probiotik direkomendasikan karena meskipun tidak dapat mengurai mikroplastik, bakteri baik di usus dapat membantu membungkus partikel tersebut agar lebih mudah terbuang bersama feses. Makanan kaya antioksidan seperti tomat, buah beri, anggur, sayuran hijau gelap seperti brokoli, kunyit, dan minyak ikan juga sangat dianjurkan untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh melawan peradangan yang dipicu oleh mikroplastik.

Terkait paparan melalui udara, Chang Chia-ming memberikan peringatan penting, yakni masker biasa tidak mampu menyaring partikel berukuran nanometer. Bahkan masker medis berbahan non-woven sendiri terbuat dari plastik dan berpotensi melepaskan partikel mikro, sehingga pemakaiannya dalam jangka panjang justru berisiko meningkatkan paparan. Dalam kondisi ini, perbaikan pola makan dan kebiasaan konsumsi tetap menjadi benteng pertahanan paling masuk akal dan paling dapat dikendalikan oleh individu saat ini.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解