Qu Yuan (屈原) bermarga Mi (羋姓), dari klan Qu, bernama asli Ping (平) dengan nama pena Yuan (原), adalah salah satu figur paling ikonik dalam sejarah peradaban Tiongkok. Lahir sekitar tahun 342 SM di Danyang, Negeri Chu, ia mengaku sebagai keturunan Gaoyang, salah satu dari lima kaisar legendaris Tiongkok kuno. Leluhurnya, Qu Xia (屈瑕), dianugerahi wilayah Qu oleh Raja Wu dari Chu, sehingga Qu menjadi nama klan mereka.
Qu Yuan bukan sekadar penyair, ia adalah negarawan berpengaruh yang menjabat sebagai Zuotu atau menteri kiri (左徒), posisi tertinggi kedua setelah perdana menteri di Negeri Chu. Sima Qian (司馬遷) dalam kitab Shiji (史記) menggambarkannya sebagai sosok yang berpengetahuan luas, berdaya ingat kuat, dan mahir dalam berdiplomasi. Pada usia 20-an tahun, ia telah dipercaya untuk mendiskusikan urusan negara, merancang undang-undang, sekaligus menjalankan misi diplomatik ke Negeri Qi (齊) guna membangun aliansi melawan Qin (秦).
![]()
Qu Yuan (Foto: WIKIPEDIA)
Kejatuhan dari Puncak Kekuasaan
Kepercayaan Raja Huai (懷王) terhadap Qu Yuan tidak bertahan lama. Di sekeliling raja, kelompok yang hanya ingin mempertahankan hak-hak istimewa kebangsawanan, dipimpin oleh selir kesayangan Zheng Xiu (鄭袖), Pangeran Zilan (子蘭), dan Pejabat Shangguan Jin Shang (靳尚), terus menghasut dan memfitnah Qu Yuan. Sementara itu, pada tahun 313 SM, Negeri Qin mengutus Zhang Yi (張儀) membawa uang suap untuk memecah aliansi Chu-Qi. Zhang Yi menipu Raja Huai dengan menjanjikan wilayah seluas enam ratus li, namun setelah Chu memutuskan hubungan dengan Qi, janji itu menyusut menjadi hanya enam li.
Raja Huai yang murka mengerahkan pasukan dua kali untuk menyerang Qin, namun keduanya berakhir dengan kekalahan telak, delapan puluh ribu prajurit gugur, wilayah Hanzhong direbut, dan Jenderal Qu Gai ditawan. Raja Huai baru menyesal tidak menggunakan siasat Qu Yuan dan kembali mengandalkannya. Namun tekanan dari kubu Zilan terus mengalir. Ketika Raja Huai akhirnya terjebak dalam undangan palsu Raja Qin di Celah Wu dan ditawan hingga wafat di Xianyang pada 296 SM, seluruh rakyat Chu meratap bagaikan kehilangan orang tua sendiri.
Di bawah pemerintahan Raja Qingxiang (頃襄王) yang menggantikan Raja Huai, kondisi tidak membaik. Pada tahun 293 SM, ketika raja berencana berdamai kembali dengan Qin setelah kekalahan besar di Yique (伊闕), Qu Yuan mengecam keras keputusan tersebut. Zilan yang merasa terancam menghasut Jin Sian untuk memfitnah Qu Yuan di hadapan raja. Akibatnya, Qu Yuan diusir dari ibu kota dan diasingkan ke wilayah Jiangnan yang terpencil selama delapan belas tahun.
Ironisnya, justru dalam pengasingan itulah ia berinteraksi luas dengan rakyat jelata dan menyerap kebudayaan rakyat Chu yang kaya, hingga melahirkan karya sastra agung Li Sao (離騷) yang abadi sepanjang masa.

Qu Yuan. (Foto: WIKIPEDIA)
Akhir Hayat di Tepi Sungai Miluo
Pada tahun ke-21 pemerintahan Raja Qingxiang (頃襄王) atau 278 SM, Jenderal Bai Qi (白起) dari Qin merebut dan menghancurkan ibu kota Ying. Raja Qingxiang bersama para bangsawan melarikan diri dalam kondisi kacau ke ibu kota Chen. Qu Yuan yang menyaksikan tanah airnya selangkah demi selangkah menuju kehancuran tanpa bisa berbuat apa pun, melewati Ezhu, menyusuri Danau Dongting, menelusuri Sungai Yuan, hingga akhirnya tiba di tepi Sungai Miluo dekat Changsha.
Dalam kondisi batin yang tertekan dan putus asa sepenuhnya, ia menulis puisi Huai Sha (懷沙) atau Memeluk Pasir sebagai ratapan terakhirnya. Sambil memeluk sebongkah batu, ia menenggelamkan diri ke Sungai Miluo pada hari kelima bulan kelima penanggalan Imlek yang diperkirakan sekitar 6 Juni 278 SM, saat usianya sekitar 62 tahun.
Baru 55 tahun kemudian, pada 223 SM, Negeri Chu akhirnya sepenuhnya dimusnahkan oleh Qin. Warga yang bergegas mendayung perahu untuk mencari jasadnya tidak berhasil, lalu melempar bakcang ke sungai agar ikan tidak memakan tubuhnya. Dari situlah lahir dua tradisi yang hingga kini masih dirayakan setiap Festival Duan Wu (端午節), yakni lomba perahu naga dan makan bakcan. Ini menjadi penghormatan abadi bagi seorang penyair yang memilih mati demi kehormatan, bukan hidup dalam kompromi.