Setiap tahun, ketika aroma daun bambu yang harum mulai merebak di udara dan tabuhan gendang yang bertalu-talu terdengar dari arah sungai, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia tahu bahwa Festival Perahu Naga, atau yang dikenal sebagai Duanwu Jie (端午節), telah tiba. Dirayakan setiap tanggal lima bulan lima dalam kalender Lunar, festival ini bukan sekadar hari libur biasa, melainkan sebuah perayaan yang sarat akan sejarah, mitologi, dan kehangatan tradisi keluarga yang telah bertahan selama ribuan tahun.
Di balik kemeriahan balapan perahu dan kelezatan hidangan khasnya, terdapat kisah-kisah dramatis dan mitos yang terus diceritakan dari generasi ke generasi. Tokoh yang paling lekat dengan festival ini adalah Qu Yuan (屈原), seorang penyair sekaligus menteri patriotik dari Negara Chu pada Zaman Negara-Negara Berperang. Ketika negaranya jatuh ke tangan musuh akibat korupsi dan pengkhianatan penguasa, Qu Yuan yang patah hati memilih untuk menenggelamkan diri di Sungai Miluo sebagai bentuk protes dan kesetiaan.
Masyarakat setempat yang sangat menghormatinya segera mendayung perahu untuk menyelamatkannya. Karena tidak berhasil menemukan jasadnya, mereka melemparkan bungkusan nasi ketan ke dalam sungai agar ikan-ikan tidak memakan tubuh sang penyair. Kejadian inilah yang menjadi cikal bakal balap perahu naga dan tradisi makan zongzi (粽子), atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan bakcang.
Selain kisah kepahlawanan Qu Yuan, hari kelima bulan kelima Imlek juga dianggap sebagai hari yang penuh dengan energi negatif atau hari beracun karena menandai mulainya musim panas yang membawa banyak penyakit. Salah satu mitos terkenal yang melatarbelakanginya adalah kisah Siluman Ular Putih. Suaminya, Xu Xian (許仙), membujuknya meminum anggur realgar pada hari Duanwu.
Tak disangka, anggur tersebut memaksa sang ular putih kembali ke wujud aslinya sebagai ular raksasa, yang membuat suaminya pingsan karena terkejut. Hingga kini, anggur realgar atau simbolisasinya sering digunakan untuk mengusir roh jahat dan penyakit selama festival.
Untuk menangkal nasib buruk dan penyakit tersebut, perayaan Duanwu Jie dipenuhi dengan berbagai aktivitas simbolis. Perahu-perahu panjang berhiaskan kepala dan ekor naga didayung secara serempak mengikuti irama drum yang dinamis. Balapan ini bukan sekadar olahraga, melainkan simbol pencarian jasad Qu Yuan serta ritual kuno untuk memohon hujan dan panen yang melimpah kepada Dewa Naga.
Selain balapan, menyantap bakcang adalah hidangan wajib yang tidak boleh dilewatkan. Makanan ini berupa nasi ketan dengan berbagai isian seperti daging, jamur, kuning telur asin, atau kacang-kacangan yang dibungkus daun bambu berbentuk limas piramida, lalu dikukus hingga matang.
Masyarakat juga menggantungkan daun mugwort dan calamus di pintu rumah mereka. Aroma tajam dari tanaman herbal ini dipercaya ampuh mengusir hama sekaligus energi negatif yang muncul di awal musim panas.
Meskipun esensi festival ini sama di seluruh dunia, Taiwan memiliki sentuhan lokal yang sangat unik dalam merayakannya. Salah satu tradisi yang paling populer di Taiwan adalah mendirikan telur pada tengah hari.
Dipercaya bahwa tepat pada pukul dua belas siang di hari Duanwu, posisi bumi dan matahari menciptakan gaya gravitasi unik yang memungkinkan telur mentah berdiri tegak di atas permukaan datar. Siapa pun yang berhasil mendirikannya dipercaya akan mendapatkan keberuntungan sepanjang tahun.
Selain itu, masyarakat Taiwan juga memiliki tradisi berburu air siang hari atau Wu Shi Shui (午時水), yaitu air yang diambil langsung dari sumur atau mata air tepat pada tengah hari. Air ini diyakini memiliki khasiat penyembuhan, membawa energi positif, dan dapat menangkal penyakit jika digunakan untuk mandi atau membersihkan rumah.
Di kawasan Tionghoa lainnya, festival ini dirayakan dengan penekanan yang sedikit berbeda. Di Hong Kong, festival ini menjelma menjadi ajang olahraga internasional dengan kompetisi balap perahu naga skala besar yang menarik tim dayung dari seluruh dunia.
Sementara di Tiongkok, perayaan lebih difokuskan pada reuni keluarga dan pelestarian budaya, di mana masyarakat di wilayah utara lebih menyukai bakcang dengan rasa manis, sedangkan wilayah selatan lebih menyukai rasa gurih. Di Asia Tenggara, tradisi ini berakulturasi dengan budaya lokal, melahirkan variasi bakcang dengan rempah-rempah khas setempat.
Pada akhirnya, di balik keseruan balapan dan kelezatan hidangan bakcang, Festival Perahu Naga mengajarkan tentang pentingnya loyalitas, kesehatan, dan kebersamaan. Di dunia modern yang serba cepat, festival ini menjadi momen berharga bagi masyarakat untuk memperlambat ritme hidup, berkumpul bersama keluarga, dan menghargai warisan budaya yang luhur.