11 tahun lalu, 27 Juni 2015 pukul 20.32, Taiwan mengalami salah satu kecelakaan publik terburuk dalam sejarah modernnya. Sebuah ledakan dan kebakaran debu bubuk warna melanda Formosa Fun Coast, sebuah taman bermain air di Distrik Bali, New Taipei dalam acara hiburan bertajuk Color Play Asia.
Acara tersebut menggunakan bubuk warna berbahan dasar pati jagung yang disemprotkan ke udara untuk menciptakan suasana meriah. Sejak beberapa tahun sebelumnya, pesta warna semacam ini telah populer dan mulai diperkenalkan di Taiwan pada 2013. Namun, ahli telah memperingatkan bahwa bubuk berwarna dapat menimbulkan risiko ledakan debu.
Pada malam kejadian, para peserta bernyanyi dan menari di area panggung serta kolam renang yang telah dikeringkan. Bubuk pati jagung berwarna disebarkan secara terus-menerus menggunakan peniup udara dan tabung gas bertekanan, menciptakan awan debu tebal di sekitar panggung.
Sekitar pukul 20.30, awan debu tersebut tiba-tiba terbakar. Api diduga dipicu oleh panas dari lampu panggung yang mengenai partikel-partikel bubuk di udara. Dalam hitungan detik, bola api besar menyapu area konser dan menjalar melalui debu yang tersebar di permukaan tanah. Kebakaran berlangsung sekitar 40 detik. Banyak peserta mengalami luka bakar serius pada tangan, kaki, dada, dan wajah. Sebagian korban juga mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup bubuk dan asap panas.
Ambulans yang tersedia tidak mencukupi untuk menangani jumlah korban yang sangat besar, sehingga banyak korban harus diangkut menggunakan taksi dan kendaraan pribadi menuju rumah sakit. Pemerintah Taiwan mengerahkan personel militer, petugas pemadam kebakaran, serta tenaga medis untuk membantu operasi penyelamatan.
Sebanyak 497 orang tercatat menjadi korban dengan 15 orang akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan. Sebagian besar korban berusia belasan hingga dua puluhan tahun. Banyak di antara mereka mengenakan pakaian tipis karena cuaca dan lokasi acara yang berada di taman air, sehingga luka bakar yang diderita menjadi lebih parah. Beberapa korban bahkan mengalami luka bakar pada 80 hingga 90% pada permukaan tubuh mereka.