Selamat datang di acara Jurnal Maria
歡迎收聽瑪麗亞週記
Semoga semua hidup bahagia, sehat jiwa dan
raga.
Jurnal Maria hari ini akan mengobrolkan pentingnya bahasa ibu bagi seseorang.
Ketika Raja AI Menyuruh Seorang Anak Belajar Bahasa Ibunya
Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah berita yang sangat singkat.
Bukan berita tentang kecerdasan buatan.
Bukan berita tentang chip komputer.
Bukan pula tentang perusahaan teknologi bernilai triliunan dolar.
Hanya sebuah percakapan kecil.
Percakapan antara seorang pria dan seorang anak.
Namun entah mengapa, percakapan itu terus tinggal dalam pikiran saya.
Pria itu bernama Jensen Huang.
Pendiri NVIDIA.
Salah satu tokoh yang paling sering dibicarakan dalam dunia teknologi saat ini.
Setiap kali ia datang ke Taiwan, kerumunan orang mengikuti langkahnya.
Media menunggu di depan restoran.
Penggemar meminta tanda tangan.
Anak-anak muda meminta foto bersama.
Fenomena itu bahkan memiliki nama sendiri.
Jensanity.
Seolah-olah seorang bintang rock sedang pulang kampung.
Namun hari itu bukan pidatonya yang menjadi perhatian saya.
Bukan pula restoran yang ia kunjungi.
Melainkan sebuah momen kecil di luar sebuah restoran di Taipei.
Saat itu Jensen Huang keluar untuk membagikan kotak makan dan minuman kepada wartawan serta masyarakat yang menunggu di luar. Ia menerima sebuah es lilin dari seseorang, lalu mulai mengobrol dengan seorang anak kecil di dekatnya. Dengan bahasa Taiwan yang akrab, ia berkata bahwa es itu enak. Namun anak tersebut tampak tidak mengerti apa yang ia katakan.
Orang dewasa di sekitarnya kemudian menjelaskan bahwa anak itu bisa berbahasa Inggris.
Mereka bahkan mendorong anak tersebut untuk berbicara dalam bahasa Inggris dengan Jensen Huang.
Mungkin mereka berpikir itu akan membuatnya terkesan.
Lagipula, bukankah Jensen Huang hidup di Amerika?
Bukankah bahasa Inggris adalah bahasa yang membawanya menuju kesuksesan?
Bukankah itu sesuatu yang membanggakan?
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Jensen Huang tampak heran.
Ia kembali bertanya apakah anak itu bisa berbahasa Taiwan.
Dan ketika mengetahui bahwa anak tersebut tidak memahaminya, ia berkata dengan sederhana:
"You need to learn Taiwanese."
"Kamu perlu belajar bahasa Taiwan."
Kalimat itu hanya beberapa detik.
Namun saya merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar di baliknya.