Skip to the main content block
::: Home| Panduan Website| Podcasts|
|
Language

Formosa Dream Chasers - Programs - RTI Radio Taiwan International-logo

Acara
| Ikhtisar
Kategori
Penyiar Pedoman Acara
Berita Terpopuler
繁體中文 简体中文 English Français Deutsch Indonesian 日本語 한국어 Русский Español ภาษาไทย Tiếng Việt Tagalog Bahasa Melayu Українська Panduan website

Ketika Raja AI Menyuruh Seorang Anak Belajar Bahasa Ibunya

13/07/2026 Jurnal Maria

Selamat datang di acara Jurnal Maria

歡迎收聽瑪麗亞週記

Semoga semua hidup bahagia, sehat jiwa dan

raga.

Jurnal Maria hari ini akan mengobrolkan pentingnya bahasa ibu bagi seseorang.

Ketika Raja AI Menyuruh Seorang Anak Belajar Bahasa Ibunya

 

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah berita yang sangat singkat.

Bukan berita tentang kecerdasan buatan.

Bukan berita tentang chip komputer.

Bukan pula tentang perusahaan teknologi bernilai triliunan dolar.

Hanya sebuah percakapan kecil.

Percakapan antara seorang pria dan seorang anak.

Namun entah mengapa, percakapan itu terus tinggal dalam pikiran saya.

Pria itu bernama Jensen Huang.

Pendiri NVIDIA.

Salah satu tokoh yang paling sering dibicarakan dalam dunia teknologi saat ini.

Setiap kali ia datang ke Taiwan, kerumunan orang mengikuti langkahnya.

Media menunggu di depan restoran.

Penggemar meminta tanda tangan.

Anak-anak muda meminta foto bersama.

Fenomena itu bahkan memiliki nama sendiri.

Jensanity.

Seolah-olah seorang bintang rock sedang pulang kampung.

Namun hari itu bukan pidatonya yang menjadi perhatian saya.

Bukan pula restoran yang ia kunjungi.

Melainkan sebuah momen kecil di luar sebuah restoran di Taipei.

Saat itu Jensen Huang keluar untuk membagikan kotak makan dan minuman kepada wartawan serta masyarakat yang menunggu di luar. Ia menerima sebuah es lilin dari seseorang, lalu mulai mengobrol dengan seorang anak kecil di dekatnya. Dengan bahasa Taiwan yang akrab, ia berkata bahwa es itu enak. Namun anak tersebut tampak tidak mengerti apa yang ia katakan.

Orang dewasa di sekitarnya kemudian menjelaskan bahwa anak itu bisa berbahasa Inggris.

Mereka bahkan mendorong anak tersebut untuk berbicara dalam bahasa Inggris dengan Jensen Huang.

Mungkin mereka berpikir itu akan membuatnya terkesan.

Lagipula, bukankah Jensen Huang hidup di Amerika?

Bukankah bahasa Inggris adalah bahasa yang membawanya menuju kesuksesan?

Bukankah itu sesuatu yang membanggakan?

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Jensen Huang tampak heran.

Ia kembali bertanya apakah anak itu bisa berbahasa Taiwan.

Dan ketika mengetahui bahwa anak tersebut tidak memahaminya, ia berkata dengan sederhana:

"You need to learn Taiwanese."

"Kamu perlu belajar bahasa Taiwan."

Kalimat itu hanya beberapa detik.

Namun saya merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar di baliknya.

為提供您更好的網站服務,本網站使用cookies。

若您繼續瀏覽網頁即表示您同意我們的cookies政策,進一步了解隱私權政策。 

我了解